Batam – Tarif tiket kapal ferry rute Batam-Singapura yang terus melonjak hingga mencapai Rp760 ribu dinilai menghambat program pemerintah dalam mendorong pertumbuhan sektor pariwisata di Batam.

Kenaikan tarif ini dinilai memberatkan calon wisatawan yang berencana berlibur ke Batam, sehingga berdampak pada capaian kunjungan wisatawan yang jauh dari target pemerintah.

Hingga pertengahan tahun ini, target 2 juta kunjungan wisatawan belum tercapai. Data BPS menunjukkan baru 18 persen dari total target kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) yang berhasil dicapai.

Menurut data BPS Batam, jumlah wisman yang berkunjung ke Batam selama April 2024 mengalami penurunan sebesar 24,47 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, hanya mencapai 79.179 kunjungan.

Penurunan ini terlihat sejak Februari 2024, dengan kunjungan wisman pada Januari sebanyak 78.759, Februari 112.669, dan Maret 104.831, sehingga total kunjungan wisman hingga April 2024 berjumlah 357.438 kunjungan.

Selama bulan April, kunjungan masih didominasi wisman berkebangsaan Singapura dengan 48,22 persen dari total kunjungan, yaitu sebanyak 38.180 kunjungan. Disusul oleh wisman Malaysia dengan 14.709 kunjungan, dan wisman China sebanyak 3.256 kunjungan.

Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Batam, Jadi Rajagukguk, mengkhawatirkan dampak dari kenaikan tarif tiket ferry ini terhadap sektor pariwisata Batam.

“Pemerintah harus turut campur tangan, harus ada langkah konkret. Ini berdampak pada jumlah kunjungan wisatawan ke Batam,” ujar Jadi, seperti dikutip tribunbatam, Kamis (18/7/2024).

Jadi menambahkan bahwa beberapa pelaku pariwisata mengeluhkan tarif tiket Batam-Singapura yang tinggi, yang berdampak pada wisatawan yang berkunjung ke Batam.

“Semua kita merasakan dampak kenaikan tarifnya, begitu juga mereka wisatawan Singapura dan Malaysia yang hendak berlibur ke Batam. Karena kan, selama ini tujuan WN Singapura untuk menghabiskan weekend itu ke Batam. Namun karena harga tiket mahal akhirnya mereka memilih ke Malaysia,” ungkapnya.

Jadi juga menyebut bahwa banyak warga negara Singapura kini lebih memilih berlibur ke Malaysia karena tarif tiket ferry yang lebih terjangkau.

“Tarif tiket Singapura-Batam Rp800 ribu. Dengan uang ongkos itu saja mereka sudah bisa bayar penginapan mereka di Malaysia,” tuturnya.

Kenaikan tarif ini pun berdampak pada jumlah kunjungan, hunian kamar hotel, dan pusat perbelanjaan di Batam.

“Batam ini kan diuntungkan karena jaraknya yang dekat dengan Singapura. Turis Singapura ini merupakan turis dunia. Jika para turis ini ingin melanjutkan wisata, apakah harus memilih ke Johor atau Indonesia, di Batam misalnya, tentu akan melihat cost, jika ke Johor lebih murah tentu mereka akan ke sana,” jelasnya.

Jadi juga menyoroti dugaan adanya kartel yang menaikkan tarif ferry di Batam.

“Dan adanya kartel ini sudah menjadi temuan KPPU. Kita sudah melaporkan itu ke KPPU Medan. Kami meminta KPPU untuk melakukan kewenangannya,” tegasnya.

Dengan kondisi ini, diharapkan adanya langkah konkret dari pemerintah untuk menangani masalah kenaikan tarif ferry guna meningkatkan kunjungan wisatawan dan mendukung pertumbuhan sektor pariwisata di Batam. (dr)