BATAM – Berwisata ke Batam, Kepulauan Riau, ternyata tidak selalu identik dengan mal modern dan pusat perbelanjaan besar. Sejumlah pasar tradisional Batam justru menjadi tujuan menarik bagi wisatawan mancanegara (wisman), khususnya dari Singapura dan Malaysia.

Pasar Penuin, Nagoya, hingga kawasan Batam Center tercatat ramai dikunjungi wisatawan asing, terutama saat akhir pekan. Selain berburu kebutuhan sehari-hari, wisatawan juga datang untuk menikmati kuliner dan mencari oleh-oleh khas Batam.

Baca juga: Bukan Sekadar Spot Foto! Ini Daya Tarik Puncak Beliung Batam yang Bikin Wisatawan Betah

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepri Rony Widijarto mengatakan, aktivitas wisman di pasar tradisional menjadi bagian penting dari pergerakan ekonomi lokal.

“Pasar tradisional seperti Penuin, Nagoya, Batam Center ramai dikunjungi wisman Singapura dan Malaysia, terutama pada akhir pekan,” kata Rony dalam kegiatan Bincang Bareng Media (BBM) di Kantor BI Kepri, Selasa (15/9/2026).

Baca juga: Welcome to Batam: Landmark Ikonik di Bukit Clara yang Jadi Sambutan Pertama Wisatawan

Singapura dan Malaysia Jadi Wisman Terbesar ke Kepri

Data BI Kepri menunjukkan wisatawan asal Singapura masih menjadi kelompok wisman terbesar yang berkunjung ke Kepulauan Riau.

Pada Juli 2026, wisman Singapura memiliki pangsa 50,28 persen dari total kunjungan. Posisi berikutnya ditempati Malaysia sebesar 25,04 persen, China 3,45 persen, dan India 2,97 persen.

Rata-rata lama tinggal wisman di Kepri tercatat 1,92 malam, sedangkan rata-rata pengeluaran mencapai US$280,16 per kunjungan.

Menariknya, pengeluaran tersebut tidak hanya mengalir ke hotel, restoran, pusat perbelanjaan atau destinasi wisata. Sebagian aktivitas belanja juga terjadi di pasar-pasar tradisional.

Bahan Pokok hingga Oleh-oleh Jadi Buruan

Pasar tradisional memberikan pengalaman berbeda bagi wisatawan yang ingin melihat kehidupan sehari-hari masyarakat Batam.

Menurut Rony, sejumlah barang yang banyak dicari wisman antara lain bahan pokok, kuliner, serta oleh-oleh khas Batam.

Kondisi ini membuat pasar tradisional memiliki peran ganda. Selain menjadi tempat masyarakat berbelanja kebutuhan sehari-hari, pasar juga menjadi bagian dari pengalaman wisata bagi pelancong dari negara tetangga.

Bagi wisatawan Singapura, kedekatan geografis dengan Batam membuat perjalanan singkat untuk berbelanja menjadi relatif mudah. Sementara wisatawan Malaysia juga memiliki karakter perjalanan yang cukup kuat, khususnya dalam perjalanan bersama keluarga atau kelompok.

“Karakter wisatawan ini perlu kita lihat karena aktivitas mereka memberikan dampak tidak hanya terhadap pariwisata, tetapi juga perdagangan masyarakat,” ujar Rony.

Belanja di Batam Makin Praktis dengan QRIS

Fenomena wisatawan asing berbelanja di Batam juga terlihat dari meningkatnya penggunaan pembayaran digital.

BI mencatat transaksi QRIS Cross Border atau pembayaran menggunakan QRIS oleh pengguna luar negeri terus mengalami pertumbuhan di Kepri.

Wisatawan Malaysia tercatat sebagai pengguna dengan volume transaksi terbesar.

Hingga Juli 2026, transaksi QRIS Cross Border inbound dari Malaysia mencapai 345.795 transaksi dengan nominal sekitar Rp121,06 miliar.

Secara tahunan, jumlah transaksi tersebut melonjak 532 persen, sementara nominal transaksinya tumbuh 636 persen.

Wisatawan Singapura juga semakin banyak menggunakan QRIS. Hingga Juli 2026, tercatat 41.121 transaksi dengan nominal sekitar Rp16,50 miliar. Masing-masing tumbuh 259 persen dan 304 persen secara tahunan.

Transaksi wisatawan Thailand mencapai 1.522 transaksi dengan nominal Rp145,85 juta.

Sementara itu, transaksi pengguna asal China yang tercatat sejak Mei hingga Juli 2026 mencapai 72.670 transaksi dengan nominal Rp32,20 miliar.

Adapun transaksi pengguna Korea Selatan yang tercatat sejak April hingga Juli 2026 mencapai 90 transaksi dengan nominal Rp31,46 juta.

Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa wisatawan asing kini semakin terbiasa menggunakan pembayaran digital selama beraktivitas di Batam dan wilayah Kepri lainnya.

Wisatawan Perlu Cermat Saat Belanja di Pasar Tradisional

Di balik meningkatnya aktivitas belanja wisman, BI Kepri juga menyoroti potensi tekanan harga di sejumlah kawasan yang ramai wisatawan.

Permintaan yang terkonsentrasi pada waktu tertentu, terutama ketika kunjungan meningkat, berpotensi memengaruhi harga barang.

BI juga menemukan adanya potensi dual pricing, yaitu perbedaan harga yang dikenakan kepada wisatawan asing dan masyarakat lokal.

Hasil market intelligence BI di empat pasar, yakni Sagulung, Aviari, Penuin, dan Puja Bahari, menunjukkan mayoritas pedagang belum memiliki daftar atau kuota harga baku.

Karena itu, pemantauan harga di pasar yang menjadi kantong kunjungan wisman dinilai penting.

“Perlu penguatan pemantauan harga berkala di pasar-pasar yang padat wisman untuk mendeteksi lebih dini tekanan inflasi yang bersumber dari sisi permintaan wisatawan,” kata Rony.

Pasar Tradisional Bisa Jadi Bagian dari Wisata Batam

Bagi wisatawan yang ingin merasakan sisi Batam yang berbeda, pasar tradisional dapat menjadi salah satu pilihan perjalanan.

Selain berbelanja, wisatawan bisa menikmati kuliner lokal, melihat aktivitas perdagangan masyarakat, hingga mencari oleh-oleh dengan suasana yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari warga Batam.

Dengan tingginya kunjungan wisatawan Singapura dan Malaysia, pasar tradisional seperti Penuin dan Nagoya pun berpotensi semakin kuat sebagai bagian dari wisata belanja Batam.

Namun, wisatawan tetap disarankan menanyakan harga sebelum membeli, membandingkan harga di beberapa kios, dan memastikan harga yang disepakati sebelum melakukan transaksi. (dr)