JEPANG – Mulai musim panas ini, Jepang akan menerapkan biaya masuk sebesar ¥4.000 (sekitar Rp438 ribu) bagi pendaki yang ingin menaklukkan Gunung Fuji melalui keempat jalur utamanya. Kebijakan ini bertujuan untuk mengatasi kepadatan pengunjung atau overtourism yang semakin meningkat.

Sebelumnya, hanya Jalur Yoshida di Prefektur Yamanashi yang mengenakan biaya masuk sebesar ¥2.000 (Rp219 ribu). Namun, kini Prefektur Shizuoka juga akan memberlakukan biaya masuk untuk tiga jalur lainnya—Fujinomiya, Subashiri, dan Gotemba—yang sebelumnya gratis.

Baca juga: Liburan Hemat ke Medan: 10 Destinasi Wisata Seru dengan Bujet di Bawah Rp 500 Ribu!

Langkah ini diambil setelah pemerintah setempat mengesahkan regulasi baru pada Senin (17/3), sebagaimana dilaporkan oleh The Japan Times dan Independent. Selain itu, biaya masuk di Jalur Yoshida akan berlipat ganda menjadi ¥4.000, mengikuti tarif yang diterapkan di jalur lain.

Mulai Tahun Ini Jepang Kenakan Biaya Rp438 Ribu untuk Semua Jalur Pendakian Gunung Fuji

Gunung Fuji selalu menjadi daya tarik banyak wisatawan ke Jepang (ilustrasi)

Gunung Fuji telah mengalami lonjakan wisatawan dalam beberapa tahun terakhir, yang menyebabkan kepadatan berlebihan, polusi, dan perilaku tidak tertib dari pengunjung. Pada 2023, Jepang mulai memungut biaya masuk ¥2.000 per pendaki serta memasang gerbang di pintu masuk Jalur Yoshida untuk membatasi jumlah pendaki.

Penerapan biaya masuk ini diharapkan dapat mengatur jumlah pengunjung dan menjaga konservasi Gunung Fuji, yang merupakan situs Warisan Dunia UNESCO. Pendaki juga diwajibkan mengalokasikan dana tambahan ¥3.000 (Rp328 ribu), termasuk sumbangan sukarela ¥1.000 (Rp109 ribu) untuk upaya konservasi.

Baca juga: Mulai 1 April 2025, Singapore Airlines Larang Penggunaan Power Bank di Pesawat

Pada musim pendakian 2023, kebijakan pembatasan telah menurunkan jumlah pendaki dari 221.322 orang pada 2022 menjadi 204.316 orang. Meskipun demikian, pejabat setempat menilai angka tersebut masih terlalu tinggi.

Natsuko Sodeyama, pejabat Prefektur Shizuoka, menyatakan bahwa Gunung Fuji adalah satu-satunya gunung di Jepang yang menarik ratusan ribu pendaki hanya dalam waktu dua bulan. Oleh karena itu, pembatasan diperlukan untuk menjaga keamanan dan kenyamanan pendaki.

Selain itu, untuk mengendalikan kerumunan turis yang mengejar foto sempurna, Kota Fujikawaguchiko di Yamanashi telah memasang layar hitam besar di sepanjang trotoar, menghalangi pemandangan Gunung Fuji yang populer. Langkah ini diambil setelah keluhan warga atas perilaku wisatawan yang tidak tertib, termasuk membuang sampah sembarangan dan melanggar aturan lalu lintas.

Musim pendakian resmi Gunung Fuji berlangsung dari Juli hingga September, dengan ribuan pendaki mencoba mencapai puncak setiap tahunnya. Banyak dari mereka melakukan pendakian malam demi menyaksikan matahari terbit yang menakjubkan dari ketinggian 3.776 meter.

Bagi masyarakat Jepang, Gunung Fuji bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga memiliki nilai spiritual tinggi. Gunung ini telah lama menjadi tempat ziarah bagi umat Shinto dan Buddha, dengan lebih dari 13.000 kuil di seluruh Jepang didedikasikan untuknya.

Dengan kebijakan baru ini, pemerintah Jepang berharap dapat menjaga kelestarian Gunung Fuji sekaligus memberikan pengalaman pendakian yang lebih aman dan nyaman bagi para wisatawan.