BATAM – Batam selama ini dikenal sebagai kota industri dan pusat bisnis. Namun di balik hiruk-pikuk pelabuhan dan gedung pencakar langit, tersimpan jejak sejarah Islam yang sudah berusia lebih dari satu abad.

Sejumlah masjid tua di Batam bukan hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga saksi perjalanan panjang peradaban Melayu dan kini berkembang sebagai destinasi wisata religi.

Masjid Tertua di Pulau Buluh

Masjid tertua di wilayah administratif Kota Batam ternyata tidak berdiri di daratan utama. Gelar tersebut disandang Masjid Jami’ Nurul Iman yang berada di Pulau Buluh.

Berdasarkan penuturan masyarakat setempat dan catatan sejarah, masjid ini diperkirakan telah berdiri sejak tahun 1872 Masehi. Artinya, usianya kini telah melampaui 150 tahun.

Data dari Kementerian Agama Kepulauan Riau juga menguatkan bahwa Masjid Jami’ Nurul Iman termasuk bangunan ibadah tertua di Batam. Menariknya, meski telah berusia lebih dari satu abad, kondisi masjid ini masih kokoh. Bentuk aslinya tetap dipertahankan, terutama pada salah satu kubah lama yang menjadi ciri khas.

Masjid ini memiliki dua kubah. Satu kubah merupakan bangunan baru, sementara satu lainnya adalah kubah asli sejak awal berdiri. Perubahan yang dilakukan hanya pada material atap yang kini menggunakan seng, tanpa mengubah struktur dan bentuk aslinya.

Kubah lama tersebut bahkan disebut memiliki kemiripan dengan desain Masjid Raya Sultan Riau di Pulau Penyengat yang dibangun pada abad ke-19.

Hingga kini, belum ada literatur yang memastikan siapa tokoh pertama yang mendirikan Masjid Jami’ Nurul Iman. Misteri inilah yang justru menambah nilai historis masjid tertua di Batam tersebut.

Masjid Raya Baitusysyakur

Sementara itu, di kawasan daratan utama Batam, terdapat beberapa masjid bersejarah yang juga dikenal sebagai yang tertua di wilayahnya. Salah satunya adalah Masjid Raya Baitusysyakur. Meski kini tampil megah dan diapit gedung-gedung tinggi, masjid ini menyimpan cerita panjang.

Pengurus masjid menyebutkan bahwa sebelum berdiri permanen di lokasi saat ini pada kisaran 1986–1988, Masjid Raya Baitusysyakur telah ada dalam bentuk bangunan kayu yang letaknya tidak jauh dari tempat sekarang.

Keunikan lain dari masjid ini adalah keberadaan tujuh makam keramat di halaman masjid, yang dipercaya telah berusia ratusan tahun dan sudah ada jauh sebelum masjid berdiri.

Masjid Baitul Makmur

Tak jauh dari sana, berdiri Masjid Baitul Makmur. Masjid yang didirikan sekitar tahun 1972 hingga 1975 ini berada di kawasan dataran tinggi. Dari pelatarannya, pengunjung dapat menikmati panorama kota Batam, bahkan melihat Singapura dari kejauhan saat cuaca cerah.

Masjid tua lainnya adalah Masjid Al Mardhotillah yang diresmikan pada 18 Januari 1984. Masjid ini berdiri di dekat kompleks sembilan makam tua peninggalan ulama terdahulu.

Di antaranya terdapat makam Syeikh Abdul Wahyu Mangku Alam dan Sa’id Umar yang dibangun pada 1929. Kedua tokoh tersebut dikenal masyarakat Melayu dengan sebutan Wak Guru dan diyakini berasal dari Selangor, Malaysia.

Kompleks masjid dan makam di kawasan ini didominasi warna putih dan kuning muda, warna khas budaya Melayu, yang semakin menguatkan nuansa religius dan historis.

Kini, masjid-masjid tua di Batam tidak hanya berfungsi sebagai pusat ibadah, tetapi juga menjadi tujuan wisata religi yang menarik.

Selain berdoa, pengunjung dapat menelusuri jejak sejarah Islam dan budaya Melayu yang telah mengakar kuat di Kota Batam sejak ratusan tahun lalu.

Yuuk, ikutan paket wisata religi di Batam bersama Travel Batam. (dr)