BINTAN – Pulau Bintan, permata di Kepulauan Riau, selama ini memang dikenal karena pesona pantainya yang memesona dan kemewahan resor-resor di kawasan Bintan Resorts. Namun di balik hamparan pasir putih dan laut biru kehijauan, tersembunyi kekayaan budaya dan sejarah yang tak kalah menarik untuk dijelajahi.

Kali ini, mari kita menapaki perjalanan lintas waktu, menyusuri warisan budaya Pulau Bintan yang akan membekas di hati setiap pengunjung.

1. Kampung Panglong: Melihat Masa Lalu dalam Bingkai Arang

Melintasi Jejak Budaya di Pulau Bintan: Menelusuri Warisan Melayu, Tionghoa, dan Spiritualitas yang Abadi

Kubah berwarna merah bata mirip bangunan es kimo ini adalah salah satu peninggalan dari Suku Laut (bintan resorts)

Di Desa Berakit, Kecamatan Teluk Sebong, berdirilah Kampung Panglong—desa tradisional yang seakan membekukan waktu. Rumah-rumah panggung kayu berdiri di antara jalan setapak yang penuh karakter, memperlihatkan kehidupan masyarakat Melayu tempo dulu.

Namun, daya tarik utamanya adalah dapur arang berbentuk kubah besar menyerupai rumah eskimo. Bangunan ini menjadi saksi bisu kejayaan Kampung Panglong sebagai produsen arang terbesar di Pulau Bintan pada tahun 1920-an. Meskipun kini produksi arang telah berhenti, warisan ini tetap lestari sebagai monumen sejarah yang unik.

Baca juga: Batam Punya Beach Club! Sensasi Liburan Ala Bali Hadir di Bengkong Laut

2. Masjid Raya Sultan Riau: Keanggunan Arsitektur di Pulau Penyengat

Perjalanan budaya berlanjut ke Pulau Penyengat, tempat berdirinya Masjid Raya Sultan Riau. Dengan dominasi warna kuning dan hijau, masjid ini bukan hanya tempat ibadah, tapi juga simbol kejayaan Kesultanan Riau-Lingga. Arsitekturnya memadukan unsur Melayu, Arab, India, dan Turki, menjadikannya salah satu mahakarya budaya Islam di Asia Tenggara.

Keunikan masjid ini makin terasa saat mengetahui bahwa bangunannya menggunakan putih telur sebagai bahan perekat—keputusan arsitek yang bijak memanfaatkan sumber daya lokal. Di dalamnya, tersimpan sebuah Al-Quran tulisan tangan berusia lebih dari 150 tahun, menambah aura spiritual dan sejarah yang kental.

3. Desa Senggarang: Jejak Tionghoa di Tanah Melayu

Tak jauh dari Tanjungpinang, Desa Senggarang menyambut dengan keheningan dan keramahan. Inilah tempat di mana para imigran Tionghoa pertama kali menetap di Bintan pada abad ke-18. Desa ini menawarkan suasana tenang dan keindahan budaya Tionghoa melalui kuil-kuil kunonya seperti Lau Ya Keng dan Kuil Banyan Tree berusia 200 tahun, yang telah menyatu dengan akar pohon besar.

Jalan-jalan sempit dengan rumah panggung, cermin di atas pintu sebagai penolak bala, serta kudapan khas yang dijajakan penduduk lokal membuat kunjungan ke Senggarang terasa seperti pulang ke masa lalu.

Baca juga: 10 Tempat Wisata Terbaru di Kuala Lumpur 2024 yang Hits dan Wajib Dikunjungi

4. Grotto Santa Maria: Damainya Ziarah di Tengah Tropis

Melintasi Jejak Budaya di Pulau Bintan: Menelusuri Warisan Melayu, Tionghoa, dan Spiritualitas yang Abadi

Grotto Santa Maria berdiri untuk tempat ziarah umat Katolik (tripadvisor)

Di dekat Pantai Trikora, Grotto Santa Maria berdiri sebagai tempat ziarah umat Katolik. Patung-patung Jalan Salib mengantar pengunjung menuju patung Bunda Maria seberat 250 kilogram, menghadirkan ketenangan dalam pelukan alam tropis Bintan. Dibangun oleh komunitas Katolik kecil sejak 1960-an, tempat ini menjadi pengingat akan keragaman keyakinan di Pulau Bintan.

5. Vihara Ksitigarbha Bodhisattva: Keajaiban 500 Lohan

Terakhir, mampirlah ke Vihara Ksitigarbha Bodhisattva, juga dikenal sebagai Kuil 500 Lohan. Dengan lebih dari 500 patung Arhat yang masing-masing memiliki ekspresi dan detail unik, kuil ini menawarkan pengalaman spiritual yang tak terlupakan. Keindahan arsitekturnya dan ketenangan yang ditawarkan menjadikannya salah satu destinasi budaya paling memesona di Bintan.

Pulau Bintan bukan sekadar tempat untuk bersantai, melainkan sebuah destinasi yang mempertemukan perjalanan jiwa, sejarah, dan budaya.

Setiap tempat memiliki cerita, dan setiap langkah adalah pelajaran tentang bagaimana masa lalu membentuk identitas hari ini. Jadi, ketika Anda merencanakan liburan ke Bintan, jangan hanya bawa kacamata hitam—bawa juga rasa ingin tahu yang dalam akan warisan yang membentuk pulau ini.

Untuk informasi lebih lanjut, anda bisa menghubungi Travel Batam. (dr)

Sumber: bintanresorts