Tanjungpinang – Masjid Raya Sultan Riau yang terletak di Pulau Penyengat, Kelurahan Penyengat, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, menjadi saksi bisu sejarah peradaban Islam yang kokoh selama lebih dari dua abad.

Masjid ini tidak hanya dikenal karena arsitekturnya yang megah dengan warna kuning mencolok, tetapi juga karena kisah unik di balik pembangunannya.

Sejarah Pulau Mas Kawin

Pulau Penyengat awalnya hanyalah tempat singgah para nelayan untuk mengambil air tawar. Namun, keberadaannya berubah setelah Sultan Mahmud Riayat Syah menjadikannya mahar pernikahan dengan Raja Hamidah Engku Putri.

“Pulau Penyengat dikenal sebagai Pulau Mas Kawin,” ujar Ketua Masjid Raya Sultan Riau, Raja Alhafiz.

Baca juga: Nikmati Keindahan Batam dengan Paket Tour 3D2N Batam City Tour – Harga Mulai Rp 1.065.000

Filosofi Islam dalam Arsitektur

Dibangun pada tahun 1803 dan direnovasi besar-besaran pada 1832, masjid ini dirancang dengan filosofi Islam yang kuat.

Misalnya, 13 anak tangga melambangkan rukun salat, 5 pintu utama mewakili rukun Islam, dan 6 jendela melambangkan rukun iman.

Kubah sebanyak 13 buah dan 4 menara, dengan total 17, merepresentasikan jumlah rakaat salat fardu.

Keunikan lain dari bangunan ini adalah penggunaan putih telur sebagai bahan perekat bata, menggantikan semen yang belum ada saat itu.

“Putih telur digunakan sebagai perekat yang sangat kuat,” jelas Alhafiz.

Peninggalan Bersejarah

Masjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat: Jejak Kejayaan Islam di Kepulauan Riau

Musaf Al Quran tertua dengan tulisan tangan tersimpan rapi alam masjid (ist)

Di dalam masjid terdapat Alquran tulisan tangan berusia lebih dari 150 tahun karya Abdurrahman Stambul, pemuda Pulau Penyengat yang belajar di Istanbul, Turki.

Selain itu, ada lampu kristal hadiah dari Kerajaan Prusia pada 1860-an dan mimbar kayu jati dengan cat keemasan yang tetap terawat hingga kini.

Baca juga: Miniatur Rumah Adat Nusantara di Batam: Wisata Edukatif yang Menarik dan Gratis

Tradisi dan Wisata Religi

Setiap Ramadan, masjid ini menjadi pusat tradisi tahlil jamak kenduri arwah dan buka puasa bersama. Selain menjadi tujuan wisata religi, pengunjung juga dapat berziarah ke makam para raja, termasuk Raja Haji Fisabilillah dan Raja Ali Haji.

Pengunjung seperti Rusdi, wisatawan dari Jakarta, menyebut masjid ini mirip dengan Masjid Sultan Ahmed di Turki.

“Ornamennya sangat indah, seperti perpaduan Masjid Hagia Sophia dan masjid tradisional Melayu,” ujarnya.

Destinasi Wisata Budaya

Masjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat: Jejak Kejayaan Islam di Kepulauan Riau

Masjid raya Sultan Riau bukan saja jadi wisata religi tapi juga menjadi destinasi wisata budaya (ist)

Masjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah bersama 16 situs sejarah lainnya di Pulau Penyengat.

Dengan sejarah dan keindahannya, masjid ini terus menarik perhatian wisatawan lokal maupun mancanegara, terutama dari Malaysia dan Singapura.

Jika Anda ingin merasakan keindahan budaya dan religi, kunjungi Masjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat, sebuah mahakarya sejarah yang terus hidup di Kepulauan Riau. (dr)