BATAM – Tren wisata global kini mengalami pergeseran signifikan. Jika sebelumnya wisatawan berlomba mengunjungi landmark ikonik dan restoran terkenal, kini pasar tradisional, minimarket, hingga supermarket lokal justru menjadi destinasi utama perjalanan. Fenomena ini dikenal dengan istilah “trolley tourism” atau “grocery-store tourism”.
Grocery-store tourism adalah konsep wisata di mana toko kelontong, supermarket, atau pasar lokal dijadikan bagian penting dari pengalaman liburan. Bukan sekadar tempat belanja, lokasi-lokasi ini dipandang sebagai cermin budaya lokal, mulai dari kuliner khas, produk sehari-hari, hingga cara masyarakat setempat menjalani kehidupan.
Supermarket Jadi Cermin Budaya Lokal
Mengutip laporan Travel and Tour World dalam artikel berjudul “Trolley Tourism Takes Over”, wisatawan—terutama dari Australia—kini secara aktif memasukkan kunjungan ke supermarket dan pasar makanan lokal dalam agenda perjalanan mereka.
Hasil survei yang dikutip menyebutkan, 88 persen responden mengaku mengunjungi supermarket dan pasar lokal saat bepergian ke luar negeri. Daya tarik utamanya bukan hanya produk unik, melainkan pengalaman mengamati kehidupan sehari-hari masyarakat setempat.
Supermarket dinilai mampu memperlihatkan realitas lokal, mulai dari jenis makanan kemasan, jajanan khas daerah, hingga kebiasaan belanja warga.
Milenial dan Gen Z Dorong Tren Ini
Tren serupa juga diungkap dalam laporan Skift berjudul “Why Grocery-Store Tourism Is Turning Supermarkets Into Cultural Destinations”. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa wisatawan global—khususnya generasi milenial dan Gen Z—menganggap pasar dan supermarket sebagai pengalaman yang jauh lebih autentik dibanding restoran wisata atau pusat perbelanjaan premium.
Menurut Skift, banyak wisatawan kini menjadikan kunjungan ke pasar sebagai agenda wajib dalam itinerary perjalanan mereka. Bahkan, tren ini diprediksi akan terus tumbuh hingga 2026.
Analis pariwisata menilai pergeseran ini mencerminkan perubahan preferensi wisata, dari sekadar konsumsi visual menuju pengalaman budaya berbasis kehidupan sehari-hari.
Peluang Besar bagi Pariwisata Lokal
Fenomena trolley tourism membuka peluang baru bagi sektor pariwisata. Tak hanya restoran kelas atas, pasar tradisional, minimarket lokal, hingga supermarket nasional berpotensi menjadi daya tarik wisata—terutama jika mampu menonjolkan produk khas daerah dan cerita budaya di baliknya.
Indonesia, dengan kekayaan pasar tradisionalnya, memiliki potensi besar untuk memanfaatkan tren ini.
Pasar Tradisional Indonesia yang Wajib Masuk Itinerary
Indonesia bukan hanya dikenal lewat pantai, gunung, dan candi, tetapi juga pasar-pasar tradisional yang sarat budaya dan kehidupan lokal.
Salah satunya Pasar Beringharjo di Yogyakarta. Terletak di pusat kota, pasar ini menawarkan batik, kerajinan tangan, hingga kuliner khas seperti gudeg dan bakpia. Datang pagi hari memberi pengalaman melihat aktivitas pedagang sejak subuh.
Di Bali, Pasar Seni Ubud menjadi favorit wisatawan pencinta seni. Lukisan, ukiran kayu, perhiasan, hingga jajanan tradisional seperti klepon dan pisang rai bisa ditemukan di sini.
Bagi wisatawan yang ingin pengalaman lebih autentik, Pasar Badung menawarkan bahan makanan segar, rempah-rempah, dan ikan hasil tangkapan nelayan. Kesibukan pedagang di pagi hari menjadi daya tarik tersendiri.
Sementara di Jakarta, Pasar Tanah Abang menghadirkan dinamika kota metropolitan. Sebagai pusat tekstil terbesar di Asia Tenggara, pasar ini memperlihatkan denyut ekonomi dan kehidupan urban yang padat.
Tak kalah menarik, Pasar Atas Bukittinggi di Sumatera Barat menyuguhkan jajanan khas Minang seperti dendeng balado dan lapek bugih, serta kerajinan songket yang sarat nilai budaya.
Lebih dari Sekadar Belanja
Menjelajahi pasar tradisional bukan sekadar aktivitas belanja. Ini adalah cara untuk merasakan budaya, mencicipi kuliner lokal, dan memahami kehidupan sehari-hari masyarakat.
Dari Sabang hingga Merauke, setiap pasar memiliki cerita unik yang menjadikan traveling lebih bermakna—sebuah pengalaman otentik yang kini justru diburu wisatawan dunia. (dr)
Sumber: kompas

Comments