BATAM – Provinsi Hainan, wilayah paling selatan di China, menyimpan pesona wisata yang tak banyak diketahui wisatawan Indonesia. Ibu kotanya, Haikou, menjadi pintu masuk utama untuk menelusuri sejarah panjang, perpaduan budaya dunia, hingga destinasi tropis yang kerap disebut sebagai Hawaii-nya Tiongkok.
Salah satu objek wisata unggulan di Haikou adalah kawasan Kota Tua Qilou Old Street. Kawasan bersejarah ini dipenuhi bangunan dengan gaya arsitektur unik yang memadukan unsur Eropa dan Asia, dengan sentuhan India dan Arab, mencerminkan peran Haikou sebagai kota dagang penting di masa lalu.
Konon, sejarah kawasan ini dapat ditarik hingga 2.000 tahun silam. Namun, bentuk bangunan yang kini mendominasi Qilou Old Street banyak dipengaruhi arsitektur Yunani klasik yang dibawa para pedagang asing pada periode 1820–1840, serta gaya Baroque yang memberi kesan megah dan artistik.

Saat ini, terdapat sekitar 200 bangunan bersejarah di kawasan Kota Tua Qilou. Sebagian bangunan dilengkapi keterangan sejarah yang menjelaskan fungsi dan perannya di masa lampau.
Salah satu yang paling menarik perhatian wisatawan adalah bangunan penerbitan koran “jadul”. Di depan bangunan ini, pengunjung bisa berfoto dan tampil seolah-olah menjadi berita utama koran tempo dulu, menjadikannya spot favorit untuk berburu foto unik.
Selain kawasan kota tua, Haikou juga menyimpan destinasi religi bersejarah, salah satunya Tin Hau Temple. Kuil ini konon pertama kali dibangun pada masa Dinasti Yuan, sekitar tahun 1271–1308, dan menjadi bukti keberagaman kepercayaan serta jejak sejarah panjang di Pulau Hainan.
Singgah di Bali KW Saat Menuju Sanya
Dari Haikou, perjalanan dilanjutkan menuju Sanya, kota wisata terkenal di selatan Pulau Hainan. Dalam perjalanan darat, terdapat destinasi unik yang kerap mencuri perhatian wisatawan Indonesia, yakni kawasan yang dijuluki “Bali Village” atau Bali KW.
Konon, kawasan ini dibangun berkaitan dengan perpindahan warga dari Indonesia ke Hainan di masa lalu. Nama dan suasana tempat ini menghadirkan nuansa tropis yang mengingatkan pada Indonesia, sehingga sering menjadi bahan perbincangan wisatawan.
Sepanjang perjalanan dari Haikou ke Sanya, pemandangan yang tersaji terasa sangat akrab bagi orang Indonesia. Pohon-pohon tropis berjajar di kiri kanan jalan, hamparan sawah dan ladang terbentang luas, serta para petani yang bekerja dengan kerbau dan sapi seolah membawa suasana pedesaan Nusantara.
Yang menarik, seluruh sawah, ladang, saluran air, hingga tepian sungai tertata sangat rapi. Hal ini menunjukkan bahwa kemajuan China tidak hanya berpusat di kota besar, tetapi juga merata hingga ke wilayah pedesaan.
Sanya, Hawaii-nya Tiongkok yang Mendunia
Setibanya di Sanya, suasana kota wisata tropis langsung terasa. Sanya dikenal luas sebagai “Hawaii-nya Tiongkok” atau “Florida-nya Tiongkok”, berkat pantainya yang indah dan iklim hangat yang menjadikannya tujuan favorit wisatawan, termasuk para pensiunan saat musim dingin.
Di kota ini, wisatawan dapat menemukan berbagai pantai menawan. Salah satu yang paling populer adalah Dadonghai Bay. Pantai ini kerap disamakan dengan Pantai Kuta di Bali, meski tanpa ombak besar untuk surfing. Pantainya bersih, area pejalan kaki tertata rapi, serta dipenuhi restoran dan tempat bersantai yang nyaman.
Selain itu, terdapat pula Tianya Haijiao atau Taman Ujung Dunia, yang dikenal sebagai salah satu titik paling selatan Pulau Hainan sekaligus China. Destinasi ini kerap dianalogikan dengan Tanjung Harapan di Afrika Selatan, meski secara geografis memiliki karakteristik berbeda.
Hotel Unik, Miss World, dan Jejak Muslim di Sanya
Selama berada di Sanya, pengalaman menginap pun menjadi daya tarik tersendiri. Salah satu hotel ikonik adalah Sanya Gionee International Hotel, yang dikenal juga sebagai Grand Tree Hotel karena bentuk bangunannya menyerupai pohon raksasa.
Di kompleks hotel ini terdapat Beauty Crown Grand Theater, bangunan megah dengan mahkota di bagian atasnya. Tempat ini pernah menjadi tuan rumah final Miss World pada tahun 2003, 2004, 2005, 2007, 2010, 2015, 2017, dan 2018.
Menariknya, Sanya juga memiliki komunitas muslim dari Suku Hui. Keberadaan masjid di kota ini menunjukkan keberagaman budaya dan agama yang hidup berdampingan di wilayah selatan China.
Motor Listrik dan Pengaruh Rusia di Sanya
Seperti kota-kota lain di China, sepeda motor listrik mendominasi lalu lintas di Sanya. Jalanan umumnya dibagi menjadi tiga jalur: jalur mobil, jalur motor listrik, dan jalur pejalan kaki.
Hal unik lainnya, motor listrik yang hendak menyeberang jalan harus mengikuti zebra cross bersama pejalan kaki. Di persimpangan besar, tersedia area tunggu khusus bagi motor listrik, bahkan sebagian dilengkapi atap agar pengendara tidak kepanasan saat menunggu lampu hijau.
Pengaruh wisatawan asing juga sangat terasa. Di banyak toko dan restoran, tulisan berbahasa China selalu disertai bahasa Rusia, karena banyaknya wisatawan asal Rusia di kota ini. Bahkan, di Pantai Dadonghai, pengumuman keselamatan disampaikan dalam dua bahasa: China dan Rusia. Selain ucapan Xie Xie, kerap terdengar kata Spasiba, yang berarti terima kasih dalam bahasa Rusia.
Perjalanan menyusuri Haikou dan Sanya di Pulau Hainan menghadirkan pengalaman wisata yang lengkap: sejarah ribuan tahun, perpaduan budaya dunia, pemandangan tropis yang menyerupai Indonesia, hingga tata kota modern yang tertata rapi. Tak heran jika Hainan kian dilirik sebagai destinasi wisata alternatif yang unik dan penuh kejutan.
Untuk informasi paket liburan ke China, bisa hubungi Travel Batam. (dr)
Sumber: detikcom

Comments