SINGAPURA – Di sudut Kampong Glam, tak jauh dari Masjid Sultan Singapura, aroma rendang dan gulai yang selama puluhan tahun akrab di hidung para perantau kini tinggal hitungan hari. Warong Nasi Pariaman, warung nasi Padang tertua di Singapura, bersiap menutup pintunya untuk selamanya pada 31 Januari 2026.
Bagi banyak orang, tempat ini bukan sekadar rumah makan. Ia adalah potongan kecil kampung halaman. Tempat melepas rindu, mengingat orang tua, dan mengenang masa kecil.
Pengumuman penutupan itu disampaikan sederhana, tanpa gembar-gembor. Lewat unggahan Facebook pada 20 Januari 2026, pengelola hanya menulis ucapan terima kasih—namun justru itulah yang membuat banyak hati terenyuh.
“Terima kasih atas dukungan, cinta, dan kenangan manis bersama kami selama ini.”
Kalimat singkat itu menutup perjalanan panjang yang dimulai sejak 1948, ketika generasi pertama keluarga Minang membuka warung kecil bernama Pariaman—mengambil nama kota di pesisir barat Sumatera Barat, tempat asal mereka.
Rasa yang Menjadi Ingatan

Di Warong Nasi Pariaman, orang-orang tak hanya datang untuk makan. Mereka datang untuk pulang.
Rendang sapi yang dimasak perlahan, ikan bakar asap yang harum, kalio sotong dengan kuah santan kental, hingga ayam gulai yang lembut, semuanya terasa seperti masakan rumah. Tak heran, pelanggan datang lintas generasi.
“Kenangan masa kecil terbaik,” tulis seorang pelanggan di Instagram.
Ia mengingat ayahnya yang setiap Jumat pulang dari masjid sambil membawa bungkusan nasi Pariaman.
“Rasanya masih terbayang sampai sekarang.”
Bagi pelanggan lain, Waronng Nasi Pariaman adalah ritual wajib setiap kali menginjakkan kaki di Singapura. Ada yang datang bersama keluarga, ada pula yang singgah sendirian selepas salat, disambut senyum para pelayan yang sudah hafal wajah dan pesanan.
Bertahan 78 Tahun, Lalu Menyerah
Warong Nasi Pariaman dijalankan dari generasi ke generasi. Ia bertahan melewati perubahan zaman, krisis ekonomi, hingga modernisasi kawasan Kampong Glam.
Bahkan pada 2016, warung ini mendapat Heritage Heroes Awards, penghargaan bagi tempat makan yang berjasa melestarikan tradisi kuliner lokal.
Namun waktu ternyata tak selalu berpihak pada yang paling setia menjaga tradisi.
Meski tak ada pernyataan resmi soal alasan penutupan, banyak pihak meyakini lonjakan harga sewa ruko menjadi beban yang tak lagi sanggup ditanggung.
Di kawasan Kampong Glam, harga sewa disebut melonjak tajam dalam beberapa tahun terakhir, membuat usaha kecil kian terdesak oleh bisnis bermodal besar dan orientasi pariwisata.
Kampong Glam memang telah lama ditetapkan sebagai kawasan konservasi. Tetapi di balik label sejarah itu, realitas ekonomi berjalan tanpa kompromi.
Kesedihan yang Sama, Cerita yang Berbeda
Kolom komentar media sosial berubah menjadi ruang perpisahan. Satu per satu pelanggan menuliskan kenangan mereka—tentang makan bersama orang tua, tentang membawa anak-anak mereka mencicipi rasa yang sama, tentang keramahan para “kakak” pelayan yang selalu menyapa hangat.
“Saya sudah makan Pariaman sejak lahir,” tulis seorang pengguna Facebook. “Sekarang ini jadi makanan favorit anak-anak saya.”
Ada pula yang berharap, suatu hari nanti, Pariaman bisa kembali—meski hanya sebagai usaha rumahan. Sebuah harapan kecil, agar rasa itu tak benar-benar hilang.
Yang Tersisa di Kampong Glam

Jika Warong Nasi Pariaman resmi tutup, maka di Kampong Glam mungkin hanya tersisa Rumah Makan Minang, yang berdiri sejak 1954. Ia masih bertahan, kini di tangan generasi ketiga, menyajikan puluhan lauk khas Minang dengan cita rasa autentik.
Namun bagi banyak orang, kepergian Pariaman tetap meninggalkan lubang yang sulit diisi.
Karena yang hilang bukan hanya sebuah warung nasi Padang.
Yang pergi adalah cerita tentang perantauan, tentang ketekunan, tentang rasa yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dan ketika pintu Warong Nasi Pariaman ditutup untuk terakhir kalinya, yang tersisa hanyalah kenangan hangat, pedas, dan tak akan pernah benar-benar bisa diulang. (dr)

Comments