BATAM – Penumpang yang memilih penerbangan pagi seringkali terpaksa bangun lebih awal untuk menghindari keterlambatan. Akibatnya, banyak dari mereka yang merasa mengantuk dan memilih tidur setelah duduk di kursi pesawat.
Namun, ada baiknya tidur ditunda sampai pesawat berhasil lepas landas, dan kembali terjaga sesaat sebelum mendarat. Mengapa demikian?
Mengutip dari laman Travel and Leisure, para penumpang sebaiknya tidak tidur saat pesawat lepas landas dan mendarat untuk menghindari risiko barotrauma telinga dan memastikan keselamatan dalam proses evakuasi darurat.
Baca juga: Jangan Lakukan 9 Kesalahan Ini di Bandara, Agar Perjalanan Tanpa Stres
Barotrauma telinga, atau dikenal juga sebagai “telinga pesawat,” terjadi akibat perbedaan tekanan udara antara lingkungan luar dengan telinga bagian dalam. Ketidakseimbangan ini dapat menyebabkan gendang telinga menonjol, bahkan terasa sakit.
Menurut Profesor Dan Bubb dari University of Nevada, tidur menjadi salah satu faktor risiko barotrauma telinga.
“Saat kita tidur, kita tidak sering menelan cairan, yang seharusnya membantu menyeimbangkan tekanan di telinga,” jelas Bubb.
Baca juga: Tips Hemat untuk Mendapatkan Tiket Pesawat Murah Selama Musim Liburan
Hal ini penting, sebab saat lepas landas dan mendarat, tekanan udara di kabin berubah dengan cepat, dan jika telinga tidak bisa mengimbanginya, rasa sakit atau bahkan sedikit gangguan pendengaran bisa terjadi.
Selain alasan kesehatan, alasan keselamatan juga sangat penting. Menurut Boeing dan Airbus, lepas landas dan mendarat adalah fase penerbangan yang paling berisiko.
“Menjaga diri tetap sadar pada fase ini penting agar kita lebih cepat merespons situasi darurat jika diperlukan,” tambah Bubb. Kesiagaan penuh sangat membantu jika proses evakuasi harus dilakukan dalam waktu singkat.
Untuk membantu menyeimbangkan tekanan, penumpang bisa menelan, mengunyah permen, atau menguap saat perubahan tekanan terjadi. Teknik ini dapat membuka saluran eustachius yang membantu mengatur tekanan telinga. (dr)
Sumber: kompas

Comments