BATAM – Penguatan Dolar Singapura dan Ringgit Malaysia terhadap rupiah menjadi berkah tersendiri bagi Kota Batam. Kondisi ini memicu lonjakan signifikan kunjungan wisatawan mancanegara, khususnya dari Singapura dan Malaysia, sekaligus membuka peluang besar bagi pelaku usaha lokal di berbagai sektor.

Pengusaha Batam sekaligus putra daerah, Datok Amat Tantoso, mengatakan arus masuk wisatawan asing ke Batam terus meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir. Dampaknya paling terasa saat akhir pekan, ketika jumlah wisatawan bisa menembus puluhan ribu orang.

“Sekarang turis Singapura dan Malaysia masuk ke Batam sangat banyak. Otomatis ini mendongkrak ekonomi Batam. Bahkan dalam satu hari saat weekend, jumlahnya bisa sampai 10 ribu orang,” ujarnya, Senin (19/1).

Menurut Datok Amat, faktor utama melonjaknya kunjungan tersebut adalah penguatan mata uang asing terhadap rupiah. Dengan nilai tukar yang menguntungkan, Batam menjadi destinasi belanja, kuliner, hingga hiburan yang murah dan menarik bagi wisatawan negara tetangga.

Ketua Umum Afiliasi Penukaran Valuta Asing Indonesia (APVA) ini menjelaskan, penguatan Dolar Singapura, Ringgit Malaysia, hingga Dolar Amerika Serikat memberikan efek berantai terhadap sektor pariwisata, perdagangan, perhotelan, dan jasa di Batam.

“Faktor utamanya adalah dolar menguat dan nilai tukar rupiah melemah. Ini yang membuat Batam sangat menarik bagi wisatawan asing,” katanya.

Berdasarkan data kurs per 19 Januari 2026, nilai tukar Dolar Singapura berada di kisaran Rp13.150–Rp13.180, naik dibandingkan Januari 2025 yang masih di kisaran Rp11.960–Rp11.990.
Ringgit Malaysia tercatat di level Rp4.160–Rp4.180, meningkat dari Rp3.620–Rp3.640 pada periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, Dolar Amerika Serikat berada di kisaran Rp16.920–Rp16.970, naik dari Rp16.360–Rp16.410.

“Secara rata-rata, Dolar Singapura naik sekitar 10 persen per tahun, Ringgit Malaysia sekitar 15,2 persen, dan Dolar AS sekitar 3,4 persen. Ini sangat terasa dampaknya bagi Batam,” jelasnya.

Kawasan Mall dan Pusat Perbelanjaan Penuh

Dampak penguatan mata uang asing tersebut terlihat jelas di lapangan. Kawasan perbelanjaan seperti Penuin dan BCS Mall hampir selalu dipadati pengunjung, terutama saat akhir pekan. Tingkat hunian hotel pun melonjak signifikan.

“Kalau weekend, Penuin dan BCS Mall sangat penuh. Hotel-hotel di kawasan itu juga hampir selalu penuh,” ujarnya.

Datok Amat menambahkan, pola belanja wisatawan asing kini semakin terlihat. Banyak turis datang ke Batam dengan koper kosong dan pulang dengan koper penuh barang belanjaan.

“Mereka datang untuk belanja, makan murah, salon, pijat. Pulangnya koper penuh, dan tetap lebih hemat karena nilai mata uang mereka kuat,” katanya.

Melihat peluang besar tersebut, Datok Amat mendorong agar momentum penguatan dolar dimanfaatkan maksimal oleh pengusaha dan pemerintah. Salah satunya melalui pengembangan kawasan wisata dan belanja baru, seperti program “New Nagoya”, agar manfaat ekonomi tidak terpusat di satu titik.

“Ini peluang besar bagi pengusaha Batam. Kalau kawasan wisata dan belanja diperluas, ekonomi bisa menyebar dan usaha lokal makin hidup,” ujarnya.

Ia mengusulkan pengembangan kawasan Nagoya dengan konsep boulevard atau kawasan khusus pejalan kaki, seperti yang diterapkan di Osaka, Jepang, maupun kota-kota besar di Tiongkok.

“Konsepnya bisa jalan khusus pejalan kaki. Saat weekend, mobil tidak boleh lewat. Tapi pemerintah juga harus menyiapkan area parkir yang memadai,” jelasnya.

Menurutnya, kawasan dari sekitar Hotel Sahid hingga Siang Malam memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai pusat kuliner dan wisata belanja baru.

“Pariwisata kita ini naik pesat karena rupiah melemah. Kita ingin ekonomi ini menyebar ke Nagoya lainnya. Kalau ada boulevard, pertokoan pasti makin ramai,” katanya.

Lebih jauh, Datok Amat menegaskan kesiapan pengusaha lokal untuk berkolaborasi dengan pemerintah dalam merealisasikan proyek tersebut, mengingat keterbatasan anggaran pemerintah.

“Kalau pemerintah mau berkolaborasi dengan pengusaha lokal, kami siap. Bisa investasi bersama, gabungan pengusaha lokal, atau didukung perbankan,” ujarnya.

Sebagai putra daerah yang telah lebih dari 30 tahun berkiprah di Batam, Datok Amat menegaskan komitmennya untuk terus mendorong pembangunan kota.

“Momentum dolar menguat ini jangan disia-siakan. Turis datang banyak, daya beli tinggi. Ini kesempatan emas bagi pengusaha Batam untuk tumbuh dan berkembang,” tutupnya.

Jika anda butuh informasi paket liburan di Batam dan Bintan, bisa hubungi Travel Batam. (dr)