BATAM – Tren perjalanan wisatawan asal China pada musim panas 2026 mengalami perubahan signifikan. Dibandingkan memilih destinasi jarak jauh di Eropa atau Amerika, mayoritas turis China kini lebih tertarik berlibur ke negara-negara Asia yang dinilai lebih dekat, aman, mudah dijangkau, dan menawarkan biaya perjalanan yang lebih terjangkau.

Berdasarkan data pemesanan yang dirilis China Trading Desk dan dikutip dari The Star melalui Kompas.com, perubahan pola perjalanan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari efisiensi biaya hingga kondisi geopolitik global yang masih belum stabil.

Kepala China Trading Desk, Subramania Bhatt, mengatakan wisatawan China kini lebih selektif dalam menentukan tujuan liburan.

Baca juga: Liburan ke Kepri Belum Lengkap Kalau Belum Coba Seafood Ini! Dijamin Bikin Ketagihan

“Wisatawan China masih bepergian, tetapi destinasi yang dipilih musim panas ini adalah yang terasa lebih dekat, lebih aman, memiliki nilai yang baik, dan mudah dijangkau,” ujarnya.

Seoul Masih Jadi Destinasi Nomor Satu

Dalam daftar destinasi favorit musim panas 2026, Seoul, Korea Selatan, berhasil menempati posisi pertama. Kota tersebut diperkirakan menerima sekitar 2,15 juta wisatawan asal China selama periode Juni hingga Agustus 2026, atau naik sekitar 14 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Posisi kedua ditempati Hong Kong dengan estimasi 1,94 juta kunjungan wisatawan China.

Baca juga: Batam di Malam Hari Ternyata Semeriah Ini! Rekomendasi Rooftop, Beach Club dan Kuliner Malam

Sementara itu, negara-negara Asia Tenggara juga menikmati lonjakan kunjungan wisatawan. Kuala Lumpur, Malaysia, diproyeksikan mencatat kenaikan sekitar 16 persen dibandingkan tahun lalu.

Vietnam juga semakin populer. Dua kota utamanya, Ho Chi Minh City dan Hanoi, berhasil masuk dalam jajaran 10 besar destinasi favorit wisatawan China pada musim panas tahun ini.

Indonesia Belum Masuk Daftar Favorit

Di tengah meningkatnya minat wisatawan China terhadap Asia Tenggara, Indonesia justru belum berhasil masuk dalam daftar destinasi utama pilihan mereka.

Menurut China Trading Desk, Malaysia dan Vietnam dinilai lebih unggul karena memiliki akses penerbangan yang lebih mudah, harga paket wisata yang kompetitif, serta menawarkan perjalanan jarak dekat yang sesuai dengan preferensi wisatawan China saat ini.

Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi industri pariwisata Indonesia untuk meningkatkan daya saing, baik melalui penambahan konektivitas penerbangan langsung, promosi destinasi, maupun penyediaan paket wisata yang lebih menarik bagi pasar China.

Konflik Timur Tengah Ikut Mengubah Tren Liburan

Selain faktor harga dan aksesibilitas, situasi geopolitik juga turut memengaruhi tren perjalanan internasional.

China Trading Desk mencatat jumlah wisatawan outbound asal China sempat meningkat pada awal 2026. Namun, konflik di kawasan Timur Tengah, khususnya yang berdampak pada jalur penerbangan internasional, membuat angka perjalanan kembali menurun.

Pada Juni 2026, jumlah wisatawan China yang bepergian ke luar negeri diperkirakan mencapai sekitar 4,9 juta orang, turun dibandingkan 5,3 juta orang pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Meski terdapat kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat dan Iran, Bhatt menilai pemulihan industri perjalanan internasional masih membutuhkan waktu.

Menurutnya, maskapai penerbangan memang dapat dengan cepat menambah kapasitas penerbangan, tetapi memulihkan kepercayaan wisatawan untuk kembali bepergian ke destinasi yang lebih jauh memerlukan proses yang lebih panjang.

Karena itu, hingga memasuki musim gugur 2026, destinasi-destinasi di Asia diperkirakan masih akan menjadi pilihan utama wisatawan asal China. (dr)

Sumber: kompas