JAKARTA – Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini tidak hanya membantu pekerjaan sehari-hari, tetapi juga mengubah cara masyarakat merencanakan liburan. Bahkan, teknologi ini mulai mengambil peran sebagai “travel agent digital” yang mampu merekomendasikan destinasi, menyusun itinerary, hingga membantu wisatawan menemukan tempat-tempat tersembunyi yang belum banyak diketahui orang.
Perubahan besar tersebut terungkap dalam laporan Global Muslim Travel Index (GMTI) 2026 yang menunjukkan sebanyak 80 persen wisatawan kini mengandalkan AI sebagai asisten pribadi dalam merencanakan perjalanan.
Teknologi AI memungkinkan wisatawan mendapatkan informasi destinasi, membandingkan pilihan akomodasi, memverifikasi fasilitas ramah muslim, hingga melakukan pemesanan hanya dalam hitungan detik.
Baca juga: Tren Wisata 2026: AI Kini Jadi Travel Agent Pribadi, Destinasi Hidden Gems Makin Diburu
Padahal sebelumnya, proses tersebut bisa memakan waktu berhari-hari bahkan berminggu-minggu.
CEO sekaligus Founder CrescentRating dan HalalTrip, Faizal Bahardeen, mengatakan kehadiran AI telah mempercepat proses pengambilan keputusan wisatawan secara signifikan.
Menurutnya, wisatawan modern kini lebih mengandalkan rekomendasi yang dihasilkan algoritma dibandingkan metode pencarian konvensional.
“Jika tidak bisa dibaca oleh mesin atau machine-readable, maka destinasi tersebut tidak akan terlihat oleh generasi wisatawan Muslim berikutnya dan tidak direkomendasikan oleh sistem AI,” ujar Faizal dalam peluncuran Mastercard-CrescentRating Global Muslim Travel Index (GMTI) 2026 secara daring.
Fenomena ini mendorong pelaku industri pariwisata mulai menerapkan AI Recommendation Readiness Audit (AIRA), sebuah sistem audit yang dirancang untuk mengukur kesiapan website, data destinasi, dan informasi layanan wisata agar lebih mudah dikenali serta direkomendasikan oleh platform berbasis AI.
Langkah ini dinilai penting mengingat perilaku wisatawan global terus berubah mengikuti perkembangan teknologi digital.
Asia Jadi Pusat Wisata Muslim Dunia
Laporan GMTI 2026 juga menunjukkan pergeseran besar dalam peta perjalanan wisata Muslim global. Asia kini menjadi pusat gravitasi baru dengan kontribusi mencapai 65 persen dari total perjalanan wisatawan Muslim dunia atau sekitar 128 juta perjalanan.
Di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global, perjalanan intra-Asia justru mengalami pertumbuhan yang signifikan.
Malaysia kembali menempati posisi teratas dalam peringkat GMTI 2026 dengan skor 83. Sementara Indonesia, Arab Saudi, dan Turki berbagi posisi berikutnya dengan skor 79.
Untuk kategori negara non-Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Singapura berhasil mempertahankan posisinya sebagai destinasi ramah Muslim terbaik dengan menempati peringkat ke-10 dunia.
AI Bantu Wisatawan Temukan Hidden Gems
Di sisi lain, penggunaan AI ternyata membawa dampak positif bagi pemerataan sektor pariwisata.
Kepala Ekonom Mastercard Economics Institute, David Mann, menjelaskan bahwa pengguna aktif AI memiliki pola perjalanan yang berbeda dibandingkan wisatawan konvensional.
Mereka cenderung mengalokasikan anggaran lebih besar untuk akomodasi dan pengalaman wisata dibandingkan sekadar berkunjung ke destinasi populer.
Yang menarik, algoritma AI kini lebih sering merekomendasikan destinasi alternatif atau hidden gems dibandingkan lokasi wisata yang sudah terlalu padat pengunjung.
“Jadi, tidak hanya pergi ke tempat-tempat biasa, tetapi juga menemukan destinasi lain,” kata David.
Tren ini dinilai memberikan dampak positif bagi daerah-daerah yang sebelumnya kurang dikenal wisatawan. Dengan semakin banyaknya rekomendasi destinasi alternatif, perputaran ekonomi pariwisata dapat tersebar lebih merata dan tidak hanya terpusat di lokasi wisata populer.
Liburan Tetap Jadi Prioritas
Mastercard Economics Institute juga menemukan bahwa meskipun kondisi ekonomi global belum sepenuhnya stabil, masyarakat tetap menjadikan perjalanan sebagai salah satu prioritas pengeluaran.
Namun, wisatawan kini lebih selektif dalam menentukan tujuan perjalanan. Mereka cenderung mencari destinasi yang menawarkan nilai terbaik, akses mudah, serta pengalaman unik yang berbeda dari wisata massal.
Berdasarkan data kapasitas penerbangan global, Malaysia menunjukkan pemulihan sektor penerbangan yang kuat. Sementara Indonesia mencatat tren peningkatan kapasitas kursi penerbangan hingga akhir tahun 2026.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa masa depan industri pariwisata akan semakin dipengaruhi oleh kecerdasan buatan. Destinasi yang mampu beradaptasi dengan teknologi digital dan mudah dikenali oleh sistem AI berpeluang lebih besar menjadi pilihan wisatawan global di masa mendatang. (dr)
Sumber: tempo

Comments