TANJUNGPINANG – Setiap Minggu, pemandangan yang sama selalu tersaji di hadapan Iwan Kurniawan. Dari rumahnya yang menghadap laut, lelaki kelahiran Lampung itu menyaksikan kapal-kapal pompong silih berganti merapat di Pelantar Pulau Penyengat, membawa wisatawan yang ingin menelusuri jejak sejarah Melayu.
Satu per satu penumpang turun. Mereka kemudian berjalan menuju gerbang wisata di depan Masjid Raya Sultan Riau, bangunan bersejarah yang menjadi salah satu ikon kebanggaan Kepulauan Riau (Kepri).
Namun, bagi Iwan, keramaian tersebut bukan sekadar pemandangan yang datang dan pergi. Di balik wisatawan yang memenuhi pelantar, ada peluang usaha yang perlahan tumbuh dalam pikirannya.
Baca juga: 6 Pulau di Indonesia Masuk Daftar Pulau Paling Tenang di Dunia 2026, Ada Gili Meno dan Nusa Penida!
Ia melihat satu hal yang menarik: wisatawan datang untuk menikmati keindahan dan sejarah Pulau Penyengat, tetapi sebagian besar kembali ke Tanjungpinang ketika siang atau sore berakhir.
“Turis banyak datang ke Pulau Penyengat, tapi siang atau sorenya mereka kembali ke seberang, ke Tanjungpinang. Ini peluang bisnis,” kata Iwan.
Dari pemikiran sederhana itulah, perjalanan Iwan membangun usaha penginapan bermula. Ia kemudian mengubah bagian rumahnya yang semula merupakan dapur menjadi tempat singgah bagi wisatawan yang ingin menikmati Pulau Penyengat lebih lama.
Baca juga: 7 Hotel Paling Unik di Indonesia, Nomor 4 dan 6 Ada di Kepulauan Riau!
Melihat Peluang dari Seberang Pelantar

Pelantar Pulau Penyengat, tempat turun naik penumpang (ilustrasi/foto dennirisman)
Gagasan membangun penginapan muncul sekitar 2019, sebelum pandemi Covid-19 melanda. Iwan, yang menikah dengan perempuan asli Pulau Penyengat, mulai membayangkan kemungkinan menghadirkan tempat menginap bagi pelancong yang ingin mengenal pulau bersejarah tersebut lebih dekat.
Ide itu tidak langsung terwujud. Ia baru mulai mencoba menawarkan jasa menginap setelah situasi pandemi berangsur membaik pada akhir 2020.
Iwan memanfaatkan Google Bisnis untuk memperkenalkan rencana penginapannya kepada calon wisatawan. Saat itu, ia bahkan belum benar-benar menyelesaikan kamar yang hendak disewakan.
Di luar dugaan, promosi sederhana tersebut justru menarik perhatian calon tamu.
“Waktu itu saya baru menyiapkan salah satu kamar. Kamar belum siap, ternyata promosi saya sudah ada yang tertarik untuk menginap di Pulau Penyengat,” kenangnya.
Karena kamarnya belum siap digunakan, tamu tersebut akhirnya diarahkan menginap di Homestay Sultan yang berada di depan Masjid Raya Sultan Riau.
Pengalaman itu semakin meyakinkan Iwan bahwa kebutuhan penginapan di Pulau Penyengat memiliki peluang untuk dikembangkan.
Akhir 2020, ia mulai merenovasi rumahnya di kawasan Istana Laut Penyengat. Dapur yang sebelumnya berada di bagian belakang rumah dirombak menjadi ruang dan kamar untuk menerima tamu.
Proses itu membutuhkan waktu. Baru pada akhir 2021, Homestay Dapoer Laut siap menerima pengunjung dengan tiga kamar yang tersedia.
Nama Dapoer Laut seolah menyimpan cerita tersendiri. Tempat yang dahulu menjadi bagian dari aktivitas rumah tangga kini berubah fungsi, ikut menjadi bagian dari geliat pariwisata Pulau Penyengat.
Perjuangan Memperkenalkan Homestay Pulau Penyengat
Memulai usaha penginapan di destinasi wisata bersejarah bukan berarti bisnis langsung berjalan lancar.
Pada masa awal, Iwan menghadapi tantangan sederhana tetapi mendasar: belum banyak wisatawan mengetahui bahwa mereka bisa bermalam di Pulau Penyengat.
Pulau yang selama ini dikenal sebagai tujuan wisata sejarah sehari itu belum sepenuhnya masuk dalam rencana perjalanan wisatawan sebagai tempat menginap.
Sebagian pengunjung datang untuk melihat Masjid Raya Sultan Riau, berziarah ke makam tokoh-tokoh Melayu, menikmati bangunan bersejarah, kemudian kembali ke Tanjungpinang.
Perlahan, situasi mulai berubah ketika pengembangan Pulau Penyengat sebagai destinasi wisata unggulan semakin mendapat perhatian pada 2024.
Menurut Iwan, peningkatan kunjungan membuat peluang usaha penginapan mulai terasa. Wisatawan yang sebelumnya hanya singgah beberapa jam mulai memiliki alasan untuk mempertimbangkan bermalam.
Meski demikian, perjalanan homestay di Pulau Penyengat masih membutuhkan promosi, peningkatan layanan, dan informasi yang lebih mudah dijangkau wisatawan.
Homestay Tanpa Papan Nama, Mengandalkan Informasi dari Mulut ke Mulut
Ada hal menarik ketika wisatawan mencoba mencari penginapan di Pulau Penyengat. Di tengah kawasan permukiman yang menyimpan banyak cerita sejarah, papan nama homestay tidak selalu mudah ditemukan.
Sebagian penginapan dikenal melalui rekomendasi warga, informasi dari pengelola wisata, media sosial, atau komunikasi langsung setelah wisatawan tiba di pelantar.
Iwan menyebut, berdasarkan informasi yang dihimpun dari komunitas pengelola wisata, jumlah rumah yang digunakan sebagai homestay berpotensi lebih banyak daripada penginapan yang aktif dipromosikan.
“Padahal dari data di grup WhatsApp Pokdarwis, ada 20 rumah yang jadi homestay,” ungkapnya.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa peluang pariwisata berbasis rumah warga masih terbuka. Namun, pengelola juga membutuhkan promosi yang lebih terorganisasi agar wisatawan dapat mengetahui pilihan kamar, fasilitas, harga, dan cara pemesanan sebelum berangkat.
Bagi sebuah pulau yang ingin menarik wisatawan tinggal lebih lama, kemudahan menemukan penginapan menjadi bagian penting dari pengalaman perjalanan.
Dari Homestay Nabila hingga Dapoer Laut, Ada Pilihan Menginap di Rumah Warga
Dapoer Laut bukan satu-satunya penginapan milik warga yang bisa menjadi alternatif bagi wisatawan.
Ada pula Nabila Homestay, penginapan milik Abu yang memiliki dua kamar. Setiap kamar dirancang dengan ruang tidur dan area tambahan yang dapat digunakan untuk menempatkan kasur ekstra, serta dilengkapi kamar mandi di dalam.
Dalam laporan tersebut, Abu menyebut tarif sekitar Rp300.000 per malam.
Ia juga menggambarkan tantangan yang dihadapi pengelola homestay kecil. Pada hari biasa, tamu belum tentu datang setiap hari. Sebaliknya, ketika Lebaran atau ada kegiatan tertentu, kamar bisa terisi penuh.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa usaha penginapan di pulau ini memiliki potensi, tetapi tingkat hunian masih dipengaruhi musim liburan, acara khusus, serta kemampuan promosi masing-masing pengelola.
Selain Dapoer Laut dan Nabila Homestay, sejumlah nama penginapan lain yang pernah tercantum dalam informasi pariwisata Pulau Penyengat antara lain Penginapan Sulthan, Homestay 2Z, Homestay Pak Ali, Homestay Zurna, dan Homestay Gurindam.
Wisatawan sebaiknya menghubungi pengelola secara langsung untuk memastikan apakah penginapan masih beroperasi, berapa kamar yang tersedia, dan fasilitas apa saja yang dapat digunakan.
Berapa Biaya Menginap di Pulau Penyengat?
Bagi wisatawan yang ingin merasakan suasana Pulau Penyengat setelah rombongan pengunjung harian kembali ke Tanjungpinang, homestay warga dapat menjadi pilihan yang patut dipertimbangkan.
Informasi tarif yang pernah tercantum dalam direktori Desa Wisata Pulau Penyengat di Kementerian Pariwisata menunjukkan harga mulai Rp200.000 untuk Aisyah Homestay dan mulai Rp250.000 untuk sejumlah penginapan lain, termasuk Penginapan Sulthan, dan Nabila Homestay.
Untuk homestay Dapoer Laut, harga kamar dipatok untuk kamar depan dengan view laut Rp 350.000 per malam, Kamar tengah Rp 300.000 dan kamar samping Rp 250.000. Kecuali kamar samping dengan kamar mandi luar, dua kamar lain kamar mandi di dalam, pakai AC, WIFI dan dapat sarapan pagi.
Harga aktual dapat berbeda berdasarkan tanggal kunjungan, jenis kamar, jumlah tamu, dan fasilitas. Karena itu, calon pengunjung perlu memastikan tarif langsung kepada pengelola.
Dibandingkan sekadar mencari tempat untuk tidur, menginap di rumah warga menawarkan kesempatan untuk mengenal lingkungan Pulau Penyengat dengan tempo perjalanan yang lebih santai.
Mengapa Pulau Penyengat Lebih Menarik Jika Dijelajahi Semalam?

Menikmati pelantar Penyangat malam hari dari beranda homestay Dapoer Laut (foto dennirisman)
Daya tarik Pulau Penyengat tidak berhenti pada bangunan Masjid Raya Sultan Riau yang berdiri megah di kawasan pelantar.
Pulau kecil di Kota Tanjungpinang ini menyimpan jejak Kesultanan Riau-Lingga, kompleks makam tokoh-tokoh Melayu, serta peninggalan sejarah yang berkaitan dengan perkembangan bahasa dan kebudayaan Melayu.
Salah satu tokoh penting yang lekat dengan pulau ini adalah Raja Ali Haji, pujangga dan cendekiawan Melayu yang pemikirannya berperan besar dalam perkembangan bahasa Melayu, yang kemudian menjadi dasar Bahasa Indonesia.
Menginap semalam memberi wisatawan kesempatan menyusun perjalanan tanpa harus mengejar waktu untuk segera kembali menyeberang.
Siang hari dapat dimanfaatkan untuk mengunjungi masjid, menyusuri kawasan bersejarah, berziarah, atau mengamati arsitektur peninggalan masa lalu. Setelah itu, wisatawan dapat beristirahat di homestay dan melanjutkan penjelajahan keesokan harinya.
Bagi pencinta sejarah, fotografi, wisata religi, dan budaya Melayu, pengalaman ini memungkinkan mereka mengenal Penyengat bukan hanya sebagai kumpulan objek wisata, melainkan juga sebagai ruang hidup masyarakat setempat.
Pulau Penyengat, Tempat Sejarah Tidak Harus Berakhir Saat Senja
Pulau Penyengat memiliki kekayaan yang tidak selalu bisa dinikmati dalam perjalanan terburu-buru. Ada kisah kerajaan, warisan bahasa, bangunan bersejarah, tradisi Melayu, dan kehidupan masyarakat yang terus berjalan di antara peninggalan masa lalu.
Kehadiran homestay milik warga membuka kesempatan bagi wisatawan untuk tinggal lebih lama, sementara masyarakat memperoleh peluang untuk mengembangkan usaha dari kekayaan sejarah dan budaya yang mereka miliki.
Kisah Iwan Kurniawan menjadi gambaran bagaimana peluang itu dapat berawal dari hal sederhana: menyaksikan wisatawan datang dan pulang setiap hari, lalu bertanya apakah ada cara agar mereka bersedia tinggal sedikit lebih lama.
Dari dapur yang menghadap laut, ia membangun tiga kamar untuk menyambut pengunjung. Sebuah langkah kecil yang memperlihatkan bahwa pengembangan pariwisata tidak selalu harus dimulai dari hotel besar atau bangunan mewah.
Terkadang, peluang justru hadir dari rumah sendiri, dari pemandangan yang disaksikan setiap Minggu, dan dari keberanian membaca kebutuhan wisatawan.
Jadi, ketika berkunjung ke Pulau Penyengat, jangan buru-buru menjadikan perjalanan berakhir saat matahari mulai turun. Pertimbangkan untuk bermalam, mengenal kehidupan masyarakatnya, dan memberi waktu lebih banyak bagi sejarah pulau ini untuk bercerita. (dr)

Comments