TANJUNGPINANG – Pulau Penyengat di Kepulauan Riau selama ini dikenal sebagai destinasi wisata sejarah dan religi yang menyimpan jejak kejayaan Kerajaan Melayu. Namun, di balik kemegahan Masjid Sultan Riau, makam para tokoh Melayu, dan benteng pertahanan Bukit Kursi, tersimpan sebuah kisah lama yang belum banyak diketahui wisatawan: legenda Perigi Telaga Tujuh.
Perigi yang juga disebut Perigi Tujuh Purnama atau Perigi Kaki Pelangi itu konon pernah berada di tepi pantai sebelah timur Pulau Penyengat, tepatnya di kawasan Kampung Baru.
Baca juga: Tak Punya Hotel Mewah, Pulau Penyengat Punya Homestay Unik! Menginap Mulai Rp200 Ribuan
Berbeda dengan sumur biasa yang masih dapat dijumpai di sejumlah sudut pulau, keberadaan Perigi Telaga Tujuh kini tak lagi terlihat utuh. Abrasi laut diduga telah mengubah kawasan pesisir tempat sumur-sumur batu tersebut dipercaya pernah berada.
Meski begitu, ceritanya masih hidup dalam ingatan sebagian masyarakat. Ada yang mengaitkannya dengan kisah putri kayangan, cahaya pelangi, hingga sinar purnama yang konon menyentuh permukaan air.
Namun, benarkah perigi legendaris itu pernah ada? Ataukah kisahnya merupakan bagian dari cerita rakyat Melayu yang diwariskan dari generasi ke generasi?
Baca juga: Bukan Sekadar Wisata, Pulau Penyengat Simpan Kisah Sultan dan Rahasia Sejarah Melayu
Menelusuri Perigi Telaga Tujuh di Pulau Penyengat
Untuk mencapai kawasan yang dipercaya sebagai lokasi Perigi Telaga Tujuh, perjalanan dapat dimulai dari Dermaga Pulau Penyengat. Dari dermaga, pengunjung dapat melewati Masjid Sultan Riau, ikon bersejarah yang langsung menyambut kedatangan wisatawan.
Lokasi yang dimaksud berada di kawasan pesisir timur pulau, tepatnya di Kampung Baru. Perjalanan menuju kawasan tersebut diperkirakan hanya membutuhkan beberapa menit, bergantung pada titik keberangkatan dan jalur yang dilalui.
Saat menelusuri lokasi bersama seniman tari asal Pulau Penyengat, Ruki Daryudi atau Yudi, yang terlihat justru hamparan batu pantai berukuran besar. Warga mengenalnya sebagai batu hampar.
Ketika air laut pasang, sebagian besar batu tersebut terendam sehingga sulit mengetahui bentuk asli kawasan yang dipercaya sebagai tempat keberadaan perigi pada masa lalu.
Tak ada lagi tujuh sumur yang dapat dilihat secara utuh seperti gambaran dalam cerita yang berkembang di masyarakat.
Kondisi ini membuat kisah Perigi Telaga Tujuh menjadi semakin menarik sekaligus menyisakan pertanyaan tentang keberadaannya pada masa lampau.
Konon Menjadi Tempat Pemandian Putri Kayangan
Dalam cerita yang berkembang di tengah masyarakat, Perigi Telaga Tujuh bukan sekadar sumber air tawar. Tempat ini dikaitkan dengan kisah putri kayangan yang turun ke bumi untuk mandi.
Helmi, seniman yang lahir dan menetap di Pulau Penyengat, menyebutkan bahwa perigi tersebut telah lama menjadi bagian dari cerita rakyat yang diwariskan melalui kisah-kisah pengantar tidur.
Cerita serupa juga dikenal dalam berbagai tradisi masyarakat Melayu di wilayah Nusantara.
Menurut kisah yang beredar, kawasan perigi itu dipercaya memiliki keistimewaan tersendiri. Salah satu cerita menyebutkan bahwa ketika pelangi muncul di langit, salah satu ujung lengkung warnanya seolah mengarah ke lokasi perigi.
Dari cerita itulah muncul sebutan Perigi Kaki Pelangi.
Meski terdengar menarik, kisah mengenai putri kayangan dan kaitan pelangi dengan perigi tersebut belum didukung bukti sejarah yang dapat memastikan kebenarannya. Pengunjung sebaiknya memandangnya sebagai bagian dari tradisi lisan dan kekayaan cerita rakyat Melayu.
Mengapa Disebut Perigi Tujuh Purnama?
Selain Perigi Telaga Tujuh dan Perigi Kaki Pelangi, tempat ini juga dikenal melalui sebutan Perigi Tujuh Purnama.
Yudi pernah mengangkat cerita tersebut menjadi sebuah karya tari inovatif berjudul Secercah Air Terang Bulan pada 2016, dengan komposisi musik oleh Helmi.
Karya tari itu menggambarkan hubungan antara air, kehidupan, sejarah, dan peradaban manusia.
Dalam kisah yang menjadi inspirasi tari tersebut, nama Tujuh Purnama dikaitkan dengan kemunculan bulan yang semakin terang sejak malam kesembilan hingga purnama penuh pada tanggal 15 dalam penanggalan lunar.
Purnama yang seolah jatuh di kawasan perigi kemudian menjadi bagian dari cerita yang diwariskan masyarakat.
Bagi Yudi, air bukan hanya kebutuhan untuk menghilangkan dahaga. Keberadaan sumber air juga berkaitan erat dengan tumbuhnya kehidupan dan peradaban.
Pesan yang ingin disampaikan melalui karya tersebut adalah pentingnya mengenali masa lalu untuk memahami perjalanan menuju masa depan.
Namun, sebagaimana cerita tentang putri kayangan dan pelangi, hubungan antara purnama dan perigi ini juga belum dapat dipastikan melalui catatan sejarah yang tersedia.
Sejarawan Membantah Keberadaan Perigi Legendaris
Di balik cerita yang berkembang di masyarakat, terdapat pandangan berbeda dari kalangan sejarawan.
Aswandi Sahri, sejarawan Kepulauan Riau yang menetap di Pulau Penyengat, menilai keberadaan Perigi Telaga Tujuh belum dapat dibuktikan berdasarkan sumber sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan.
Menurutnya, cerita tersebut cenderung berupa khayalan atau kisah yang berkembang tanpa landasan bukti yang memadai.
Pandangan ini penting untuk membedakan cerita rakyat dari fakta sejarah, terlebih Pulau Penyengat memiliki banyak peninggalan sejarah yang dapat ditelusuri melalui bangunan, manuskrip, peta lama, dan sumber tertulis lainnya.
Aswandi juga menjelaskan bahwa perigi-perigi tua yang ditemukan di Pulau Penyengat berkaitan dengan kebutuhan masyarakat setelah pulau tersebut mulai dihuni.
Ketika permukiman berkembang, penduduk membutuhkan sumber air untuk kehidupan sehari-hari. Setiap kampung umumnya memiliki perigi dengan jumlah dan kondisi yang berbeda-beda.
Sebagian perigi bahkan masih digunakan hingga sekarang, dilengkapi pipa distribusi dan mesin penyedot air.
Karena itu, menurut Aswandi, kisah mengenai sebuah perigi tertentu perlu diuji dengan bukti yang jelas sebelum dinyatakan sebagai bagian dari sejarah Pulau Penyengat.
Pulau Penyengat Pernah Menjadi Persinggahan Pelaut
Terlepas dari perdebatan mengenai Perigi Telaga Tujuh, Pulau Penyengat memang memiliki kisah panjang yang berkaitan dengan aktivitas pelayaran.
Jauh sebelum berkembang menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Riau-Lingga, pulau ini dipercaya telah dikenal para pelaut yang melintasi perairan Selat Melaka.
Sumber air tawar menjadi kebutuhan penting bagi kapal yang menempuh perjalanan panjang. Para pelaut membutuhkan persediaan air untuk minum dan memenuhi kebutuhan selama berada di laut.
Aswandi menjelaskan bahwa selain perigi, terdapat sebuah danau kecil di kaki Bukit Kursi yang diperkirakan pernah menjadi sumber air tawar bagi para pelaut.
Keberadaan danau tersebut tercantum dalam peta Belanda abad ke-19 dengan kata meer, yang berarti danau.
Menurut Aswandi, sumber air dalam jumlah besar lebih masuk akal untuk memenuhi kebutuhan kapal-kapal yang melintas di kawasan tersebut dibandingkan jika seluruh kebutuhan hanya mengandalkan perigi.
Dalam kisah penamaan Pulau Penyengat yang berkembang, sejumlah pelaut konon pernah disengat serangga sejenis lebah ketika mengambil air di kawasan itu.
Peristiwa tersebut kemudian dikaitkan dengan nama Penyengat.
Meski demikian, penjelasan mengenai asal-usul nama tersebut juga perlu dilihat berdasarkan sumber sejarah yang tersedia. Kisah yang diwariskan secara lisan tidak selalu memiliki catatan waktu yang pasti.
Pulau Maskawin dan Jejak Kerajaan Melayu
Pulau Penyengat tidak hanya menyimpan cerita tentang sumber air dan pelayaran. Pulau kecil ini juga memiliki kedudukan penting dalam sejarah Melayu.
Menurut sejarawan Raja Malik Hafizal, Pulau Penyengat dijadikan maskawin oleh Sultan Mahmud Riayat Syah ketika meminang dan menikahi Raja Hamidah, putri Raja Haji Fisabilillah yang kemudian dikenal sebagai Engku Puteri Raja Hamidah.
Peristiwa tersebut diperkirakan berlangsung sekitar 1806. Kisah inilah yang membuat Pulau Penyengat juga dikenal dengan sebutan Pulau Maskawin.
Dalam perkembangannya, pulau tersebut menjadi bagian penting dari pusat pemerintahan Kerajaan Riau-Lingga pada awal abad ke-19.
Jejak kejayaannya masih dapat dijumpai melalui sejumlah peninggalan bersejarah, seperti Masjid Sultan Riau, Istana Kantor, Istana Tabib, Balai Adat, dan Benteng Bukit Kursi.
Pulau ini juga memiliki kompleks pemakaman tokoh-tokoh penting Melayu, termasuk Raja Haji Fisabilillah, Engku Puteri Raja Hamidah, dan Raja Ali Haji.
Raja Ali Haji dikenal sebagai pujangga Melayu yang memberikan sumbangan besar bagi perkembangan bahasa dan sastra Melayu.
Beragam situs tersebut menjadikan Pulau Penyengat sebagai tujuan wisata sejarah sekaligus wisata religi bagi pengunjung dari berbagai daerah di Indonesia, Malaysia, Singapura, dan kawasan lainnya.
Perigi Tua, Jejak Kehidupan yang Masih Bisa Ditemukan
Bagi wisatawan yang ingin melihat sisi lain Pulau Penyengat, menelusuri keberadaan perigi-perigi tua dapat menjadi pengalaman menarik di luar kunjungan ke bangunan bersejarah yang populer.
Sejumlah perigi lama masih dapat ditemukan di berbagai kawasan pulau. Sebagian telah diberi papan nama, seperti Perigi Satu dan Perigi Dua, lengkap dengan keterangan mengenai tempat tersebut.
Ada pula Kampung Perigi Batu, sebuah kawasan yang dikenal melalui keberadaan perigi menyerupai lesung besar pada batu hampar di salah satu tanjung sebelah timur pulau.
Keberadaan sumber air seperti ini memberikan gambaran tentang cara masyarakat masa lalu memenuhi kebutuhan hidup dan membangun permukiman.
Perigi bukan hanya lubang berisi air. Dalam konteks kehidupan masyarakat Melayu, perigi juga dapat menjadi petunjuk bahwa kawasan di sekitarnya pernah digunakan untuk tempat tinggal, berkebun, atau aktivitas manusia lainnya.
Namun, setiap perigi memiliki kisah dan latar belakang berbeda. Tidak semua dapat dikaitkan dengan legenda atau peristiwa tertentu tanpa bukti pendukung.
Wisata Pulau Penyengat: Antara Legenda dan Fakta Sejarah
Kisah Perigi Telaga Tujuh menunjukkan bahwa Pulau Penyengat menyimpan lebih banyak cerita daripada yang terlihat oleh wisatawan pada kunjungan singkat.
Ada peninggalan yang masih berdiri dan dapat ditelusuri melalui catatan sejarah. Ada pula kisah lisan yang hidup dalam ingatan masyarakat, meskipun kebenarannya belum dapat dibuktikan.
Perigi Telaga Tujuh, Perigi Tujuh Purnama, atau Perigi Kaki Pelangi berada dalam wilayah cerita yang masih diperdebatkan. Bagi sebagian seniman dan masyarakat, kisah tersebut memiliki nilai budaya dan menjadi sumber inspirasi karya seni. Sementara bagi sejarawan Aswandi Sahri, keberadaannya belum memiliki bukti yang cukup untuk dinyatakan sebagai fakta sejarah.
Perbedaan pandangan ini justru membuka ruang bagi wisatawan untuk mengenal Pulau Penyengat secara lebih mendalam.
Sebab, perjalanan wisata sejarah bukan hanya tentang melihat bangunan tua, berfoto di lokasi ikonik, atau mengunjungi makam tokoh terkenal. Perjalanan juga dapat menjadi kesempatan untuk memahami bagaimana cerita diwariskan, bagaimana sejarah diteliti, dan bagaimana sebuah tempat membentuk identitas masyarakatnya.
Jika berkunjung ke Pulau Penyengat, sempatkanlah menelusuri sudut-sudut pulau di luar rute wisata utama. Di balik masjid, istana, benteng, dan makam bersejarah, mungkin ada kisah lain yang belum banyak dikenal.
Bukan semuanya harus dipercaya sebagai fakta. Namun, setiap cerita dapat menjadi pintu untuk memahami kekayaan sejarah dan budaya Melayu di Kepulauan Riau. (tarmizi/dr)

Comments