BATAM — Liburan seharusnya menjadi momen untuk melepas penat, mencari pengalaman baru, sekaligus mengisi kembali energi. Namun, tanpa persiapan yang matang, perjalanan justru bisa berubah menjadi sumber stres.

Menariknya, penyebabnya tidak selalu sesuatu yang besar. Kesalahan sederhana seperti membawa terlalu banyak barang, memilih waktu transit terlalu singkat, hingga lupa mengunduh peta ternyata cukup untuk membuat perjalanan menjadi jauh lebih merepotkan.

Baca juga: Cuma Punya 1 Hari di Singapura? Ini Itinerary Wisata Muslim dari Little India hingga Kampong Glam

Survei terbaru Traveler Sentiment and Safety dari Global Rescue mengungkap sejumlah kesalahan yang paling sering dilakukan wisatawan, termasuk mereka yang sudah berpengalaman bepergian ke berbagai destinasi.

Berikut lima kesalahan traveling yang sebaiknya dihindari sebelum memulai perjalanan.

1. Overpacking, Kebanyakan Bawa Barang

Membawa seluruh barang yang dianggap “mungkin dibutuhkan” ternyata menjadi kesalahan perjalanan paling banyak dilakukan wisatawan.

Sebanyak 38 persen responden menyebut overpacking sebagai kesalahan terbesar dalam perjalanan internasional. Angka tersebut meningkat dibandingkan 32 persen pada 2025 dan 35 persen pada 2024.

Baca juga: September 2026 di Kepri Makin Meriah! 4 Festival Budaya Ini Siap Bikin Wisatawan Betah

CEO The Global Rescue Companies, Dan Richards, menyebut kebiasaan membawa barang terlalu banyak sebenarnya merupakan kesalahan yang mudah dicegah.

Menurutnya, koper yang terlalu penuh bukan hanya membuat perjalanan lebih rumit, tetapi juga dapat menambah beban dan stres.

Bagasi berat bahkan berpotensi menyebabkan kelelahan, mengganggu keseimbangan, hingga meningkatkan risiko terjatuh atau mengalami cedera punggung maupun cedera ortopedi lainnya.

Risikonya bisa semakin terasa ketika wisatawan harus berjalan jauh di bandara, terminal kapal pesiar, jalan berbatu, hingga jalur pendakian.

Tips: sebelum memasukkan barang ke koper, tanyakan pada diri sendiri apakah barang tersebut benar-benar akan digunakan. Membuat daftar kebutuhan berdasarkan jumlah hari perjalanan bisa membantu mencegah koper terlalu penuh.

2. Memesan Transit Terlalu Singkat

Punya jadwal penerbangan lanjutan yang mepet mungkin terlihat efisien. Namun, sedikit keterlambatan bisa membuat seluruh rencana perjalanan berantakan.

Sebanyak 19 persen wisatawan mengaku sering terjebak memesan penerbangan dengan waktu transit yang terlalu singkat.

Risikonya bukan hanya harus berlari mengejar penerbangan berikutnya. Wisatawan juga bisa mengalami kepanikan ketika harus berpindah terminal, melewati pemeriksaan keamanan, mengambil bagasi, atau menghadapi keterlambatan penerbangan pertama.

Tips: jangan hanya melihat harga tiket. Perhatikan juga durasi transit dan kondisi bandara tempat melakukan penerbangan lanjutan.

3. Itinerary Terlalu Padat

Keinginan mengunjungi sebanyak mungkin tempat dalam satu perjalanan sering membuat wisatawan menyusun jadwal dari pagi hingga malam.

Padahal, 10 persen responden mengaku menyesal karena membuat itinerary terlalu padat tanpa memberikan waktu istirahat yang cukup.

Alih-alih menikmati destinasi, perjalanan akhirnya berubah menjadi aktivitas berpindah dari satu tempat ke tempat lain sambil mengejar waktu.

Tips: sisakan waktu kosong dalam itinerary. Tidak semua jam selama liburan harus diisi dengan aktivitas. Waktu santai di hotel, menikmati kuliner lokal, atau sekadar berjalan-jalan tanpa tujuan juga merupakan bagian dari pengalaman traveling.

4. Lupa Mengunduh Peta dan Dokumen Secara Offline

Ketergantungan terhadap koneksi internet bisa menjadi masalah ketika wisatawan berada di daerah dengan sinyal lemah atau tanpa akses data.

Sebanyak 8 persen responden menyesal karena tidak mengunduh peta offline maupun dokumen perjalanan sebelum berangkat.

Kondisi ini dapat menyulitkan wisatawan ketika harus menunjukkan bukti pemesanan hotel, tiket perjalanan, atau mencari jalan menuju lokasi tertentu.

Tips: sebelum berangkat, unduh peta area tujuan dan simpan tiket, voucher hotel, serta dokumen penting di perangkat yang dapat diakses tanpa internet.

5. Mengabaikan Kurs Mata Uang

Kesalahan berikutnya berkaitan dengan uang.

Sebanyak 8 persen wisatawan mengaku mengalami kerugian karena menukarkan uang secara mendadak di kios bandara yang menawarkan nilai tukar kurang menguntungkan.

Situasi seperti ini biasanya terjadi ketika wisatawan baru menyadari membutuhkan uang tunai setelah tiba di destinasi.

Tips: pelajari kurs mata uang tujuan sebelum berangkat dan bandingkan pilihan penukaran uang. Hindari mengambil keputusan terburu-buru hanya karena membutuhkan uang tunai saat itu juga.

Trik Sederhana Agar Liburan Lebih Nyaman

Selain menghindari lima kesalahan tersebut, wisatawan juga memiliki sejumlah cara praktis untuk membuat perjalanan lebih aman dan nyaman.

Gunakan smart tag pada koper. Sebanyak 31 persen responden memasang pelacak digital pada bagasi terdaftar untuk membantu mengetahui keberadaan koper.

Simpan dokumen secara digital. Sebanyak 16 persen wisatawan menyimpan salinan paspor dan kartu identitas di email pribadi agar lebih mudah diakses ketika diperlukan.

Manfaatkan compression packing cubes. Sekitar 10 persen responden menggunakan kantong kompresi untuk menghemat ruang koper. Persentase yang sama memilih menggulung pakaian daripada melipatnya.

Bawa charger multi-port. Sebanyak 9 persen responden memilih adaptor dengan beberapa port sehingga berbagai perangkat dapat diisi menggunakan satu perangkat.

Bawa botol minum kosong. Sebanyak 7 persen wisatawan membawa botol minum yang dapat digunakan kembali dan mengisinya setelah melewati pemeriksaan keamanan bandara.

Unduh hiburan sebelum perjalanan. Sekitar 6 persen responden menyiapkan musik atau film di perangkat pribadi sebelum naik pesawat sehingga tetap bisa menikmati hiburan tanpa bergantung pada koneksi internet.

Liburan Nyaman Dimulai Sebelum Berangkat

Pada akhirnya, liburan yang menyenangkan bukan hanya ditentukan oleh destinasi yang dikunjungi. Persiapan sebelum berangkat juga memiliki peran besar dalam menentukan apakah perjalanan akan terasa menyenangkan atau justru melelahkan.

Mulai dari memilih barang yang benar-benar dibutuhkan, memberikan waktu transit yang cukup, membuat itinerary realistis, menyimpan dokumen offline, hingga memahami kurs mata uang, semuanya dapat mengurangi potensi masalah selama perjalanan.

Jadi, sebelum menutup koper dan berangkat menuju bandara, pastikan bukan hanya tiket dan hotel yang sudah siap. Rencana perjalanan yang realistis juga menjadi kunci agar liburan benar-benar menjadi waktu untuk bersantai, bukan menambah stres. (dr)