BATAM — Laut Belakang Padang, Kota Batam, berubah menjadi lautan manusia pada Senin (17/8/2026). Belasan ribu warga memadati Pulau Penawar Rindu untuk menyaksikan puncak perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia melalui gelaran Pacu Laut Penawar Rindu.
Sejak pagi, arus masyarakat dari Batam dan sejumlah pulau penyangga tak henti-hentinya menyeberang menggunakan boat pancung. Satu per satu perahu tiba membawa wisatawan dan masyarakat yang ingin melihat langsung kemeriahan perlombaan bahari sekaligus pesta rakyat khas pesisir tersebut.
Sesampainya di Belakang Padang, kepadatan langsung terlihat di sekitar lokasi kegiatan. Ruas jalan hingga area parkir dipenuhi kendaraan dan pengunjung.
Aktivitas ekonomi masyarakat pun ikut menggeliat. Boat pancung ramai mengangkut penumpang, becak kembali sibuk melayani wisatawan, sementara pelaku UMKM menikmati lonjakan pembeli sepanjang kegiatan berlangsung.
Laut Belakang Padang Dipenuhi Ribuan Penonton
Kemasan Pacu Laut Penawar Rindu tahun ini ternyata mampu menarik perhatian lebih luas.
Bukan hanya masyarakat Batam dan pulau-pulau sekitar yang datang. Sejumlah pengunjung dari luar daerah bahkan wisatawan dari Malaysia dan Singapura turut hadir menyaksikan perlombaan bahari tersebut.
Pemandangan paling menarik terlihat ketika sampan-sampan layar mulai berlomba di tengah perairan.
Layar berwarna-warni yang mengembang tertiup angin berpadu dengan suara sorak-sorai penonton dari tepian. Suasana tersebut menghadirkan wajah Belakang Padang yang begitu khas sebagai kawasan masyarakat pesisir.
Bagi wisatawan, momentum ini menjadi pengalaman berbeda untuk melihat langsung tradisi bahari yang masih hidup di tengah perkembangan Kota Batam sebagai kota industri dan pariwisata.
Pacu Laut Penawar Rindu Bukan Sekadar Perlombaan
Pacu Laut Penawar Rindu digelar sejak 15 hingga 17 Agustus 2026 sebagai bagian dari rangkaian perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Beragam perlombaan bahari diselenggarakan, mulai dari ketinting, lepet, sampan dayung, speedboat hingga sampan layar.
Pada puncak acara, perhatian masyarakat tertuju pada perlombaan sampan layar yang menjadi salah satu tradisi khas masyarakat pesisir Belakang Padang.
Tokoh masyarakat Belakang Padang, Hasim, berharap kegiatan tersebut dapat terus digelar setiap tahun.
Menurutnya, keberadaan sampan layar bukan sekadar olahraga tradisional, tetapi bagian dari budaya masyarakat yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Harapan saya kegiatan ini berjalan setiap tahun dan budaya kita tetap terjaga sampai tahun-tahun berikutnya. Anak-anak kita harus tahu dengan budayanya,” ujar Hasim.
Ia mengatakan perlombaan sampan layar sebelumnya sempat berhenti karena keterbatasan sponsor. Namun, tradisi tersebut kini kembali hidup dengan jumlah peserta dan penonton yang jauh lebih besar.
“Alhamdulillah sekarang peserta sangat ramai. Tidak hanya dari Batam, tetapi juga dari Malaysia dan Singapura. Masyarakat yang hadir sendiri dua kali lipat dari tahun sebelumnya,” katanya.
Pacu Laut Jadi Mesin Penggerak Pariwisata Belakang Padang
Pemerintah Kota Batam melihat besarnya antusiasme masyarakat sebagai peluang untuk mengembangkan pariwisata Belakang Padang.
Wali Kota Batam yang diwakili Sekretaris Daerah Kota Batam, Firmansyah, memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan Pacu Laut Penawar Rindu.
Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menghidupkan tradisi masyarakat pesisir, tetapi juga memberikan dampak langsung terhadap sektor pariwisata dan perekonomian warga.
“Ini kegiatan yang sangat positif dan sangat baik sekali. Kegiatan ini bisa menumbuhkan pariwisata di Kecamatan Belakang Padang dan juga menumbuhkembangkan pelaku usaha di Belakang Padang,” ujar Firmansyah.
Ia menilai inisiatif Camat Belakang Padang bersama tokoh masyarakat untuk menggelar kegiatan tersebut patut diapresiasi.
Sebab, sebuah festival masyarakat dapat menjadi daya tarik wisata sekaligus menggerakkan pelaku usaha lokal.
“Niat hati Pak Camat dan tokoh masyarakat memeriahkan hari kemerdekaan di Belakang Padang secara tidak langsung meningkatkan pariwisata dan UMKM. Pemko Batam sangat mengapresiasi kegiatan ini,” katanya.
Boat Pancung, Becak hingga UMKM Ikut Panen
Dampak ekonomi dari membanjirnya pengunjung terlihat jelas di lapangan.
Kepadatan pengunjung bahkan telah terlihat sejak kawasan parkir hingga ruas jalan di sekitar lokasi kegiatan.
Firmansyah menyebut kondisi tersebut menjadi bukti bahwa event pariwisata mampu memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
“Saya lihat sangat ramai. Dari parkir sudah sampai ke jalan, menunjukkan yang datang sangat ramai. Saya yakin bot pancung panen, UMKM panen, becak panen,” tegasnya.
Menurutnya, Pacu Laut Penawar Rindu sekaligus mendukung dua program penting Pemko Batam, yakni pengembangan pariwisata dan pemberdayaan UMKM.
“Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui,” ujarnya.
Besarnya peserta dan penonton bahkan membuat Firmansyah menilai kegiatan tersebut sudah melampaui skala kecamatan.
“Kalau kami lihat, ini bukan tingkat kota lagi, ini sudah tingkat provinsi. Dari Karimun ada yang ikut, dari Malaysia ada yang ikut. Bukan tingkat Kecamatan Belakang Padang lagi,” katanya.
Pemko Batam Ingin Wisatawan Tinggal Lebih Lama
Besarnya kunjungan pada Pacu Laut Penawar Rindu juga membuka peluang untuk mengembangkan Belakang Padang sebagai destinasi wisata yang tidak hanya dikunjungi dalam waktu singkat.
Firmansyah berharap wisatawan yang datang tidak sekadar menyaksikan perlombaan, kemudian kembali ke Batam pada hari yang sama.
Sebaliknya, wisatawan diharapkan bisa tinggal lebih lama dan menikmati berbagai potensi wisata yang dimiliki Belakang Padang.
“Orang yang datang ke pulau ini jangan hanya satu malam atau dua malam. Kalau bisa lebih panjang lagi,” katanya.
Dengan masa tinggal wisatawan yang lebih lama, perputaran ekonomi di tingkat lokal diyakini semakin besar.
Hotel atau penginapan, transportasi laut, kuliner, UMKM, becak hingga berbagai usaha masyarakat dapat memperoleh manfaat lebih besar.
Perlombaan Bahari Makin Ramai
Camat Belakang Padang Abdul Hanafi mengatakan, Pacu Laut Penawar Rindu tahun ini mempertandingkan berbagai kategori perlombaan.
Mulai dari ketinting, lepet, sampan dayung, speedboat hingga sampan layar.
Untuk speedboat dan ketinting, perlombaan dibagi dalam sejumlah kelas. Sementara untuk sampan layar terdapat kategori lima orang, tujuh orang dan sembilan orang.
“Perlombaan kita cukup banyak. Ada ketinting, lepet, sampan dayung, speedboat dan sampan layar. Ini kita laksanakan untuk memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus menghidupkan kembali tradisi masyarakat Belakang Padang,” ujar Hanafi.
Menurut Hanafi, jumlah peserta tahun ini meningkat dibandingkan pelaksanaan sebelumnya.
Peserta tidak hanya berasal dari Batam, tetapi juga dari luar daerah dan negara tetangga.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perlombaan bahari di Belakang Padang mulai memiliki daya tarik yang lebih luas.
Berhadapan dengan Singapura dan Malaysia, Potensi Wisata Belakang Padang Sangat Besar
Tokoh masyarakat Laode menilai posisi geografis Belakang Padang memberikan keuntungan tersendiri bagi pengembangan wisata.
Sebagai salah satu kecamatan terluar Kota Batam yang berhadapan langsung dengan Singapura dan Malaysia, Belakang Padang memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata budaya dan bahari.
“Kecamatan Belakang Padang salah satu kecamatan terluar di Batam dan garda terdepan yang berhadapan langsung dengan Singapura dan Malaysia. Kita melihat negara tetangga antusias datang ke sini memperingati hari ulang tahun RI,” ujarnya.
Menurutnya, antusiasme wisatawan dari negara tetangga harus menjadi momentum untuk memperkenalkan lebih banyak budaya lokal.
“Kita harus mengeksplorasi budaya kita. Ini merupakan daya tarik yang bisa menghidupkan Kecamatan Belakang Padang. UMKM bisa bergerak,” katanya.
Pesta Rakyat yang Memadukan Budaya dan Wisata
Kemeriahan Pacu Laut Penawar Rindu tidak hanya berlangsung di atas air.
Pengunjung juga disuguhi berbagai pertunjukan seni dan budaya, mulai dari tarian khas Banyumas, tarian suku Dayak hingga pertunjukan debus.
Perpaduan antara olahraga bahari, budaya, hiburan dan kuliner membuat Belakang Padang sepanjang hari berubah menjadi panggung besar perayaan kemerdekaan.
Bagi masyarakat setempat, laut bukan sekadar wilayah yang memisahkan Pulau Belakang Padang dengan daratan utama Batam.
Laut adalah ruang hidup, sumber penghidupan, jalur transportasi sekaligus bagian dari identitas masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Ketika sampan layar kembali mengembang di tengah perairan, yang berpacu bukan hanya para peserta.
Ada tradisi yang sedang dihidupkan kembali. Ada budaya yang diperkenalkan kepada generasi muda. Dan ada harapan agar denyut ekonomi masyarakat pesisir terus bergerak.
Belakang Padang Punya Destinasi Wisata Baru?
Pacu Laut Penawar Rindu akhirnya membuktikan bahwa sebuah tradisi lokal dapat berkembang menjadi magnet pariwisata.
Kegiatan ini mempertemukan budaya, wisata bahari, ekonomi kreatif dan UMKM dalam satu perayaan besar.
Masyarakat dari Batam, Karimun, daerah lain di Indonesia hingga Malaysia dan Singapura berkumpul di Pulau Penawar Rindu untuk menyaksikan tradisi bahari masyarakat Belakang Padang.
Di tengah deru mesin boat pancung, kibaran layar dan riuh tepuk tangan penonton, perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Belakang Padang memiliki cerita tersendiri.
Budaya kembali hidup, wisata bergerak, UMKM mendapat berkah, dan Pulau Penawar Rindu menunjukkan potensinya sebagai salah satu destinasi wisata bahari menarik di Kota Batam. (dr)

Comments