Batam – Masalah yang sering dihadapi pelancong dengan penerbangan yang jauh adalah jet lag. Jet lag dapat menjadi pengalaman yang sangat mengganggu, terutama bagi mereka yang sering melakukan penerbangan antar zona waktu.

Namun, studi terbaru mengungkapkan bahwa ada tips dan trik baru untuk menghindari jet lag. Temuan terbaru menunjukkan bahwa pola makan bisa menjadi kunci utama dalam mengatasi kondisi ini.

Menurut laporan dari euronews, para ahli telah menemukan bahwa mengatasi jet lag tidak hanya bergantung pada tidur yang cukup atau penyesuaian jadwal tidur, tetapi juga pada waktu makan.

Temuan ini berasal dari studi yang dilakukan oleh ilmuwan dari Northwestern University dan Santa Fe Institute, Amerika Serikat.

Jet lag terjadi ketika ritme sirkadian tubuh—sistem internal yang mengatur siklus tidur-bangun—tidak sinkron dengan waktu lokal. Ketidaksesuaian ini bisa membuat seseorang merasa seperti berada di zona waktu yang berbeda.

Namun, studi terbaru menunjukkan bahwa tubuh kita sebenarnya memiliki berbagai jam internal yang berfungsi secara berbeda.

Jam di otak merespons cahaya matahari, sementara jam di organ perifer (seperti saraf) bergantung pada waktu makan.

Yitong Huang, salah satu peneliti, menjelaskan bahwa studi ini berusaha memahami bagaimana berbagai jam internal ini berinteraksi dan sinkronisasi.

“Sebagian besar penelitian utama berfokus pada satu isyarat waktu atau satu jam tertentu. Masih ada kesenjangan penting dalam pemahaman kita tentang sinkronisasi beberapa jam dalam isyarat waktu yang saling bertentangan,” ujarnya.

Model matematika yang dikembangkan oleh para peneliti menunjukkan bahwa makan dengan porsi besar di pagi hari pada zona waktu baru dapat membantu tubuh menyesuaikan diri lebih cepat dan mengurangi gejala jet lag.

Huang menambahkan, penting untuk menghindari perubahan jadwal makan yang drastis atau makan larut malam, karena hal tersebut dapat menyebabkan ketidakselarasan lebih lanjut dengan jam internal tubuh.

Penelitian ini memberi harapan baru bagi para pelancong dengan memberikan strategi yang lebih konkret untuk mengatasi jet lag dan meningkatkan kualitas perjalanan mereka.

Para ilmuwan kini berfokus pada penelitian lebih lanjut untuk menemukan cara agar jam internal tubuh lebih tangguh dan sinkron dengan lingkungan sekitarnya. (*/dr)

Sumber: cnnindonesia