TANJUNGPINANG – Siapa sangka, pulau kecil di depan Kota Tanjungpinang ini ternyata menyimpan harta karun budaya yang siap mengguncang dunia! Pulau Penyengat, yang selama ini dikenal dengan jejak kejayaan Kesultanan Riau-Lingga, kini diproyeksikan menjadi kawasan wisata berbasis Kekayaan Intelektual (KI).
Dan ya, ini bukan wacana biasa — program prestisius ini langsung digeber oleh Kementerian Hukum dan HAM RI melalui Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI)!

Di Pulau Penyengat terdapat makam Raja Ali Haji penulis Gurindam 12 (mc kepri)
“Pulau Penyengat dengan sejarah dan budayanya yang kaya memiliki potensi besar untuk menjadi kawasan wisata berbasis KI,” ungkap Bobby Briando, Kabid KI Kanwil Kemenkumham Kepri, Minggu (13/7/2025).
Baca juga: Pulau Serasan: Surga Tersembunyi di Perbatasan Indonesia yang Bikin Wisatawan Terpukau!
Bayangkan, karya legendaris Gurindam Dua Belas karangan Raja Ali Haji, kerajinan tangan khas Melayu, kuliner tradisional, hingga adat istiadat setempat — semuanya akan mendapatkan perlindungan hukum dan sentuhan ekonomi kreatif modern.
Tak hanya sebagai destinasi sejarah, Penyengat kini siap menjelma menjadi pusat ekonomi berbasis budaya yang berkelanjutan!
Tak kalah penting, Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri juga ikut turun tangan. Ketua LAM Kepri, Dato’ Wira Setia Laksana H. Raja Al Hafiz, menyatakan dukungan total untuk menjadikan pulau ini bukan hanya tempat wisata, tetapi juga ikon peradaban Melayu di abad ke-21.
“LAM siap bersinergi lintas sektor untuk memperkuat identitas Melayu dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui ekonomi kreatif,” tegasnya.
Baca juga: Tarian Aura Farming Viral di Dunia, Wisata Riau Langsung Diserbu Traveler Internasional
15 Menit Naik Pompong dari Tanjungpinang
Terletak hanya 2 km dari jantung Tanjungpinang dan dapat dicapai dengan pompong dalam waktu 15 menit, Pulau Penyengat memiliki segala syarat menjadi destinasi internasional. Ada Masjid Raya Sultan Riau yang dibangun dari putih telur, makam-makam bangsawan Melayu, dan nuansa sejarah yang masih hidup di setiap sudutnya.
Kini, dengan pendekatan kekayaan intelektual, Penyengat tak hanya jadi saksi bisu masa lalu, tapi siap melangkah sebagai pionir pemanfaatan budaya lokal di era digital dan global!
Pertanyaannya: Siapkah dunia menyambut kejayaan baru dari Pulau Penyengat? (dr)

Comments