BATAM – Cara wisatawan merencanakan liburan diperkirakan mengalami perubahan besar pada 2027. Kecerdasan buatan (AI), wisata kuliner, eksplorasi budaya, hingga perjalanan ke destinasi tersembunyi mulai menjadi bagian dari tren traveling baru di kawasan Asia.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa wisatawan tidak lagi hanya mempertimbangkan popularitas sebuah destinasi. Kemudahan menyusun perjalanan, pengalaman autentik, biaya liburan, serta keinginan menghindari keramaian juga semakin memengaruhi keputusan dalam memilih tempat berlibur.

Baca juga: Jangan Anggap Sepele! Paspor Hilang Bisa Kena Denda dan Penangguhan hingga 2 Tahun

Temuan ini terungkap dalam laporan 2027 Asia Travel Pulse yang dirilis Agoda pada Kamis (5/11/2026).

Laporan tersebut berdasarkan survei terhadap 3.395 responden dari 11 pasar Asia, yakni Hong Kong, India, Indonesia, Jepang, Malaysia, Filipina, Singapura, Korea Selatan, Taiwan, Thailand, dan Vietnam. Survei dilakukan pada September hingga Oktober 2026.

Dari hasil survei tersebut, Agoda mengidentifikasi lima tren utama yang diperkirakan mewarnai perjalanan wisatawan Asia sepanjang 2027.

Baca juga: Mau ke Singapura dari Batam? Ini Harga Tiket Ferry November 2026 dan Jadwalnya

1. Wisata ke Luar Negeri Semakin Diminati

Keinginan untuk menjelajahi negara lain semakin meningkat. Sebanyak 38 persen responden menyatakan berencana lebih sering melakukan perjalanan ke luar negeri pada 2027.

Angka tersebut naik cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya mencapai 24 persen.

Hong Kong menjadi pasar dengan minat perjalanan internasional tertinggi, yakni 82 persen. Berikutnya Singapura sebesar 81 persen dan Korea Selatan mencapai 51 persen.

Namun, tidak semua wisatawan memiliki rencana yang sama. Wisatawan Jepang dan Thailand justru masih menunjukkan kecenderungan memilih liburan domestik, masing-masing sebesar 65 persen dan 54 persen.

Faktor biaya juga menjadi pertimbangan penting. Sebanyak 45 persen responden mengaku penurunan ongkos perjalanan dapat mendorong mereka untuk lebih sering berwisata.

2. AI Mulai Menjadi Teman Baru dalam Merencanakan Liburan

5 Tren Wisata 2027 Terungkap, AI Jadi Andalan hingga Destinasi Tersembunyi Makin Diburu Turis Asia

Kecerdasan buatan (AI) bakal andalan wisatawan untuk traveling (ilustrasi/ainews.com)

Teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) diprediksi semakin berperan dalam industri perjalanan pada 2027.

Penggunaan AI untuk merencanakan liburan meningkat dari 33 persen menjadi 53 persen berdasarkan survei Agoda.

Wisatawan memanfaatkan teknologi ini untuk menyusun itinerary, mencari inspirasi destinasi, hingga membandingkan harga hotel dan tiket pesawat.

Sebanyak 64 persen responden tertarik menggunakan AI untuk membuat rencana perjalanan. Sementara itu, 45 persen ingin memanfaatkannya untuk mencari inspirasi wisata dan 44 persen untuk membandingkan pilihan akomodasi maupun penerbangan.

Meski demikian, kepercayaan terhadap teknologi masih memiliki batas. Sebanyak 57 persen responden tetap memilih memesan hotel secara mandiri dibandingkan menyerahkan seluruh proses kepada AI.

Ulasan asli dari wisatawan lain, kejelasan sumber informasi, serta ketersediaan bantuan petugas manusia menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan.

Khusus Indonesia, penggunaan AI untuk perencanaan perjalanan mencapai 33 persen. Angka tersebut meningkat tujuh poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya, meskipun masih menjadi yang terendah di antara 11 pasar yang disurvei.

3. Wisata Kuliner dan Budaya Jadi Daya Tarik Utama

5 Tren Wisata 2027 Terungkap, AI Jadi Andalan hingga Destinasi Tersembunyi Makin Diburu Turis Asia

Pasar tradisional juga jadi buruan wisatawan (ilustrasi/go2-china.com)

Berwisata bukan lagi sekadar mengunjungi tempat terkenal atau berfoto di objek wisata populer. Pengalaman mencicipi makanan khas dan mengenal budaya lokal justru menjadi alasan utama wisatawan Asia melakukan perjalanan pada 2027.

Dalam survei Agoda, wisata kuliner dan eksplorasi budaya sama-sama dipilih oleh 54 persen responden.

Keduanya mengungguli sejumlah aktivitas lain, seperti berbelanja sebesar 38 persen, kegiatan luar ruang 28 persen, serta menghadiri acara tertentu sebesar 19 persen.

Taiwan menjadi pasar dengan minat wisata kuliner tertinggi mencapai 75 persen. Disusul Hong Kong sebesar 74 persen dan Korea Selatan 71 persen.

Sementara itu, di Indonesia, sebanyak 48 persen responden menyebut pengalaman kuliner sebagai salah satu alasan melakukan perjalanan.

Menariknya, media sosial juga semakin kuat memengaruhi keputusan wisatawan. Sebanyak 47 persen responden mengaku terinspirasi oleh platform media sosial, meningkat dibandingkan 18 persen pada tahun sebelumnya.

Selain itu, 14 persen responden berencana mengunjungi lokasi yang berkaitan dengan film, serial televisi, maupun budaya populer.

4. Liburan Lebih Sedikit, tetapi Durasi Perjalanan Lebih Panjang

Tren perjalanan wisatawan Asia pada 2027 juga memperlihatkan perubahan dalam menentukan durasi liburan.

Sebanyak 41 persen responden berencana melakukan satu hingga tiga perjalanan sepanjang tahun. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 29 persen.

Di sisi lain, wisatawan juga mulai mempertimbangkan liburan dengan waktu lebih panjang.

Hal ini terlihat dari meningkatnya responden yang memperkirakan akan melakukan perjalanan selama delapan hari atau lebih, dari 16 persen menjadi 21 persen.

Untuk anggaran penginapan, sebanyak 73 persen responden menyiapkan biaya maksimal 100 dollar AS atau sekitar Rp1,8 juta per malam.

Thailand menjadi negara dengan proporsi wisatawan yang berencana paling sering bepergian. Sebanyak 24 persen responden dari negara tersebut memperkirakan akan melakukan perjalanan 11 kali atau lebih dalam setahun.

5. Destinasi Tersembunyi dan Kota Kecil Makin Menarik

Satu lagi tren yang menarik perhatian adalah meningkatnya minat wisatawan untuk menjelajahi destinasi yang belum terlalu dikenal.

Sebanyak 36 persen responden menyatakan kemungkinan mengunjungi tempat-tempat tersembunyi, kota kecil, atau lokasi wisata yang relatif jauh dari keramaian pada 2027.

Biaya perjalanan yang lebih rendah menjadi pertimbangan bagi 33 persen responden. Sementara itu, 23 persen lainnya memperhatikan aspek keamanan dan keselamatan destinasi.

India mencatat minat tertinggi terhadap jenis perjalanan tersebut, dengan 55 persen responden menyatakan tertarik menjelajahi destinasi yang belum banyak dikenal.

Tren ini menjadi peluang bagi daerah yang memiliki potensi wisata alam, budaya, kuliner, dan kehidupan lokal yang masih terjaga.

Destinasi yang menawarkan suasana lebih tenang dan pengalaman berbeda berpeluang semakin dilirik wisatawan yang ingin menghindari kepadatan di lokasi wisata populer.

Destinasi Wisata Lokal Punya Peluang Menarik pada 2027

Munculnya lima tren tersebut memperlihatkan bahwa industri pariwisata Asia akan semakin mengutamakan pengalaman perjalanan yang personal, fleksibel, dan autentik.

Bagi Indonesia, perubahan preferensi wisatawan ini menjadi peluang untuk memperkenalkan lebih banyak destinasi alternatif di luar kawasan wisata yang sudah populer.

Kepulauan Riau (Kepri), misalnya, memiliki potensi wisata bahari, pulau-pulau kecil, kekayaan budaya Melayu, hingga wisata kuliner yang dapat menarik perhatian wisatawan.

Destinasi seperti Pulau Penyengat di Tanjungpinang, kawasan wisata bahari Bintan, hingga pulau-pulau eksotis di Anambas dapat menjadi pilihan bagi wisatawan yang ingin mendapatkan pengalaman berbeda.

Dengan semakin berkembangnya teknologi AI dan meningkatnya minat terhadap destinasi tersembunyi, promosi wisata daerah juga memiliki peluang menjangkau pasar yang lebih luas.

Tren traveling 2027 pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa jauh seseorang bepergian, tetapi juga tentang pengalaman, cerita, dan kesan yang dibawa pulang dari sebuah perjalanan. (dr)

Sumber: kompas