BANGKOK – Kemeriahan Songkran, festival tahun baru tradisional Thailand yang terkenal sebagai “perang air terbesar di dunia”, diprediksi meredup pada tahun 2026. Lonjakan harga kebutuhan pokok akibat konflik geopolitik global mulai memukul daya beli masyarakat dan berdampak langsung pada industri pariwisata.

Festival yang biasanya menjadi magnet wisatawan internasional ini tetap dijadwalkan berlangsung selama tiga hari mulai 13 April. Namun, berbagai indikator menunjukkan bahwa perputaran uang selama perayaan tahun ini tidak akan sekuat tahun-tahun sebelumnya.

Pengeluaran Turun, Antusiasme Melemah

Menurut Thanavath Phonvichai, Presiden University of the Thai Chamber of Commerce, pengeluaran selama Songkran diproyeksikan turun 3,7 persen menjadi sekitar 130 miliar baht atau setara Rp55,8 triliun. Ini menjadi penurunan pertama sejak pandemi COVID-19 berakhir.

Data survei juga menunjukkan bahwa sekitar 36 persen masyarakat Thailand berencana mengurangi pengeluaran mereka selama festival. Bahkan, hasil polling dari Suan Dusit Poll mengungkapkan 51,42 persen responden memilih tidak ikut meramaikan festival demi menghemat biaya hidup.

Biaya Transportasi Jadi Penghambat

Songkran biasanya identik dengan tradisi mudik warga dari Bangkok ke kampung halaman. Namun, tahun ini tren tersebut mengalami perubahan signifikan.

Kenaikan biaya transportasi dan tekanan ekonomi membuat banyak warga memilih tetap tinggal di kota. Beberapa memilih merayakan secara sederhana di lingkungan sekitar, tanpa perjalanan jauh seperti tahun-tahun sebelumnya.

Pedagang Ikut Terdampak, Penjualan Anjlok

Lesunya perayaan juga dirasakan langsung oleh pelaku usaha lokal, terutama di kawasan Sampeng Market, pusat grosir terbesar di Chinatown Bangkok.

Penjualan atribut khas Songkran seperti pistol air dilaporkan turun drastis hingga 50 persen dibandingkan tahun lalu. Para pedagang bahkan mulai mengurangi stok karena kekhawatiran akan rendahnya permintaan.

Dampak ke Pariwisata Thailand

Penurunan antusiasme ini menjadi sinyal penting bagi sektor pariwisata Thailand yang selama ini sangat bergantung pada momentum festival besar seperti Songkran. Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin dampaknya akan terasa pada jumlah wisatawan mancanegara dan pendapatan sektor wisata secara keseluruhan.

Meski begitu, Songkran tetap menjadi salah satu pengalaman budaya paling unik di dunia. Bagi wisatawan yang tetap datang, suasana yang lebih sepi justru bisa menjadi kesempatan menikmati festival dengan lebih nyaman tanpa keramaian ekstrem.

Jika kamu tertarik untuk liburan ke Thailand, hubungi Travel Batam. (dr)

Sumber: cnnindonesia