BATAM – Pulau Penyengat bukan sekadar pulau kecil di Kepulauan Riau. Di balik pesona wisata sejarahnya, pulau ini menyimpan kisah seorang pujangga besar yang pemikirannya ikut meletakkan dasar bahasa Indonesia. Namanya Raja Ali Haji, tokoh yang dikenal sebagai Bapak Bahasa Indonesia, ulama, sejarawan, dan pahlawan nasional.
Bagi wisatawan yang berkunjung ke Pulau Penyengat, perjalanan tidak hanya menawarkan pemandangan laut dan peninggalan kerajaan. Pulau ini juga mengajak pengunjung mengenal sosok yang menulis tentang bahasa, sejarah, agama, dan tata pemerintahan—jauh sebelum bahasa Indonesia menjadi bahasa persatuan.
Baca juga: 5 Spot Snorkeling Terbaik di Batam, Ada Surga Bawah Laut yang Dijuluki Raja Ampat Kepri!
Pulau Penyengat, Tempat Lahirnya Pemikiran Besar
Pulau Penyengat merupakan salah satu pulau bersejarah di Kepulauan Riau yang pernah menjadi pusat kebudayaan dan intelektual Melayu pada abad ke-19.
Di lingkungan kerajaan inilah Raja Ali Haji tumbuh. Ia berasal dari keturunan bangsawan Melayu-Bugis. Kakeknya, Raja Haji Fisabilillah, dikenal sebagai pejuang besar yang melawan Belanda. Sementara itu, ayahnya, Raja Ahmad atau Engku Haji, merupakan tokoh terpelajar yang turut memperkaya tradisi intelektual Melayu.
Baca juga: Camp Vietnam Pulau Galang: Kisah 250 Ribu Pengungsi yang Kini Jadi Wisata Sejarah Batam
Sejak kecil, Raja Ali Haji mendapatkan pendidikan agama, bahasa, hukum, dan tata negara. Lingkungan istana yang menjadi tempat bertemunya ulama, cendekiawan, dan tokoh dari berbagai daerah turut membentuk wawasan luasnya.
Pada usia sekitar 13 tahun, ia mengikuti perjalanan ayahnya ke tanah Jawa dan kemudian ke tanah Arab untuk menuntut ilmu. Pengalaman tersebut mempertemukannya dengan berbagai tradisi keilmuan, sekaligus memperluas pengetahuannya tentang dunia Melayu dan Islam.
Mengapa Raja Ali Haji Disebut Bapak Bahasa Indonesia?

Raja Ali Haji pada tahun 1867 (wikipedia)
Salah satu alasan utama Raja Ali Haji dikenang sebagai Bapak Bahasa Indonesia adalah perannya dalam merintis pembakuan bahasa Melayu.
Bahasa Melayu Riau menjadi salah satu akar penting bahasa Indonesia modern. Melalui karya-karyanya, Raja Ali Haji membantu menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa yang lebih terstruktur, terutama dalam tata bahasa dan penggunaan kata.
Karyanya yang paling dikenal dalam bidang bahasa antara lain:
Bustan al-Katibin, kitab yang membahas tata bahasa Melayu.
Kitab Pengetahuan Bahasa, karya leksikografis yang menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah penyusunan kamus bahasa Melayu.
Bagi wisatawan, kisah ini menunjukkan bahwa Pulau Penyengat bukan sekadar tempat bersejarah, tetapi juga salah satu ruang penting dalam perjalanan perkembangan bahasa dan kebudayaan Indonesia.
Gurindam Dua Belas, Warisan Sastra yang Tak Lekang oleh Waktu
Jika ada satu karya Raja Ali Haji yang paling mudah dikenali hingga kini, jawabannya adalah Gurindam Dua Belas.
Karya yang ditulis pada 1847 ini berisi nasihat tentang agama, akhlak, budi pekerti, dan kehidupan. Bentuknya singkat, tetapi maknanya mendalam.
Salah satu kutipan yang paling terkenal berbunyi:
“Jika hendak mengenal orang berbangsa, Lihat kepada budi dan bahasa.”
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kemuliaan seseorang tidak hanya dilihat dari keturunan atau kedudukannya, tetapi juga dari perilaku dan tutur katanya.
Bagi pengunjung Pulau Penyengat, mengenal Gurindam Dua Belas terasa seperti membuka jendela menuju cara berpikir masyarakat Melayu pada masa lalu.
Bukan Hanya Pujangga, Raja Ali Haji Juga Sejarawan
Raja Ali Haji juga dikenal sebagai penulis sejarah. Salah satu karya terbesarnya adalah Tuhfat al-Nafis, yang sering diterjemahkan sebagai Hadiah yang Berharga.
Karya ini menjadi salah satu sumber penting untuk memahami sejarah kerajaan Melayu dan Bugis, termasuk hubungan antarkerajaan, silsilah bangsawan, serta dinamika politik di kawasan tersebut.
Selain itu, ia menulis Tsamarat al-Muhimmah, karya yang membahas etika kepemimpinan dan tata pemerintahan. Pemikirannya menekankan pentingnya keadilan dan tanggung jawab pemimpin terhadap rakyat.
Dari sini terlihat bahwa Raja Ali Haji bukan hanya seorang sastrawan, melainkan juga pemikir yang memperhatikan kehidupan sosial dan pemerintahan.
Jejak Karya Raja Ali Haji yang Bisa Dikenang
Gurindam Dua Belas merupakan karya sastra yang berisi nasihat moral dan budi pekerti.
Bustan al-Katibin menjadi salah satu karya penting dalam pembahasan tata bahasa Melayu.
Kitab Pengetahuan Bahasa dikenal sebagai salah satu tonggak penting dalam sejarah penyusunan kamus Melayu.
Tuhfat al-Nafis menjadi rujukan penting untuk memahami sejarah Melayu-Bugis dan dinamika kerajaan di kawasan tersebut.
Tsamarat al-Muhimmah memuat pemikiran tentang etika kepemimpinan dan tata pemerintahan.
Pahlawan Nasional dari Pulau Penyengat

Makam Raja Ali Haji di Pulau Penyengat menjadi salah satu destinasi wisata religi (foto dennirisman)
Atas jasa besarnya dalam merintis bahasa dan kebudayaan nasional, pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Raja Ali Haji pada 10 November 2004.
Ia wafat sekitar tahun 1872–1873 di Pulau Penyengat. Meski telah lama berpulang, karya-karyanya tetap dipelajari dan menjadi bagian penting dari sejarah intelektual Indonesia.
Pulau Penyengat, Destinasi Wisata Sejarah yang Wajib Dikunjungi
Bagi pencinta wisata sejarah, Pulau Penyengat menawarkan pengalaman yang berbeda. Di sini, perjalanan bukan hanya tentang melihat bangunan tua atau menikmati suasana pulau, tetapi juga memahami bagaimana sebuah tempat kecil dapat melahirkan pemikiran besar.
Mengenal Raja Ali Haji membuat kunjungan ke Pulau Penyengat terasa lebih bermakna. Dari pulau inilah lahir karya-karya yang membahas bahasa, sastra, sejarah, dan kehidupan masyarakat Melayu.
Jadi, jika sedang mencari destinasi wisata sejarah di Kepulauan Riau, jangan lewatkan Pulau Penyengat. Bisa jadi, perjalananmu ke pulau ini bukan hanya membawa pulang foto, tetapi juga pengetahuan tentang salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah bahasa Indonesia. (dr)
Sumber: wikipedia, dinas kebudayaan provinsi kepri

Comments