TANJUNGPINANG – Masjid Sultan Riau yang berada di Pulau Penyengat, Tanjungpinang, Kepulauan Riau, adalah salah satu peninggalan sejarah Islam paling berharga di Indonesia. Masjid ini tercatat sebagai satu-satunya bangunan Kerajaan Riau-Lingga yang masih utuh hingga sekarang.

Pulau Penyengat sendiri memiliki nilai historis yang sangat tinggi. Pada abad ke-18, pulau ini menjadi kubu pertahanan Raja Haji Fisabilillah dalam perang melawan Belanda.

Tahun 1805, Sultan Mahmud menghadiahkan pulau ini kepada istrinya, Engku Putri Raja Hamidah, sehingga semakin berkembang pesat.

Baca juga: Hidden Gem Batam! Puncak Beliung Tawarkan Wahana Seru dan View Keren dari Ketinggian

Kemudian, pada tahun 1832, Raja Abdul Rahman yang menjabat sebagai Yang Dipertuan Muda Riau-Lingga, menyeru rakyat untuk bergotong-royong membangun sebuah masjid yang megah.

Seruan ini dikaitkan dengan semangat fisabilillah atau beramal di jalan Allah. Sejak saat itu, berdirilah Masjid Sultan Riau Penyengat sebagai pusat peradaban Islam di kawasan Melayu.

Keunikan Masjid Sultan Riau Penyengat

Rahasia Masjid Sultan Riau Penyengat: Dibangun dengan Putih Telur, Kini Jadi Wisata Religi Dunia

Foto lama Masjid Sultan Riau dalam era kolonial (internet)

Salah satu hal yang membuat masjid ini terkenal adalah bahan pembangunannya yang tidak biasa. Konon, masyarakat kala itu menyumbangkan telur dalam jumlah besar. Putih telur yang berlimpah kemudian dicampur dengan campuran semen sebagai perekat batu. Inilah sebabnya masjid ini sering dijuluki sebagai “Masjid Telur”.

Arsitektur Masjid Sultan Riau Penyengat juga sangat unik. Gaya bangunannya memadukan unsur Arab, India, dan Nusantara, bahkan disebut sebagai masjid pertama di Indonesia yang menggunakan kubah.

Baca juga: Liburan ke Singapura? Ini 6 Tempat Wisata Populer yang Tidak Boleh Dilewatkan

Beberapa ciri khasnya antara lain:

1. 13 kubah dan 4 menara yang melambangkan jumlah rakaat shalat wajib (17 rakaat).
2. Bangunan induk berukuran 29,3 x 19,5 meter dengan lantai batu bata tanah liat.
3. Dua balai di halaman masjid yang digunakan untuk kegiatan sosial dan keagamaan.
4. Mimbar kayu jati dari Jepara, menunjukkan hubungan dagang antara Riau dan Jawa.

Koleksi Bersejarah di Masjid Sultan Riau

Rahasia Masjid Sultan Riau Penyengat: Dibangun dengan Putih Telur, Kini Jadi Wisata Religi Dunia

Mushaf Alquran tua tulisan tangan yang masih tersimpan rapi di dalam masjid (ist)

Selain keindahan arsitektur, masjid ini menyimpan berbagai benda bersejarah bernilai tinggi, di antaranya:

1. Mushaf Al-Qur’an tulis tangan karya Abdurrahman Stambul (1867), seorang putra Riau yang menuntut ilmu di Istanbul, Turki.

2. Mushaf Al-Qur’an tua dari tahun 1752, lengkap dengan terjemahan bahasa Melayu kata per kata.

3. Koleksi sekitar 300 kitab bersejarah, peninggalan dari perpustakaan Kerajaan Riau-Lingga, Kutub Khanah Marhum Ahmadi.

4. Sepiring pasir dari Makkah yang dibawa oleh Raja Ahmad Engku Haji Tua pada abad ke-19, digunakan dalam tradisi jejak tanah untuk anak-anak.

Fungsi Sosial dan Religi

Meski menjadi ikon wisata, Masjid Sultan Riau tetap berfungsi utama sebagai rumah ibadah. Setiap bulan Ramadhan, pengurus masjid menyediakan makanan berbuka puasa gratis bagi puluhan jamaah. Dana kas masjid yang mencapai ratusan juta rupiah dikelola untuk pendidikan agama anak-anak dan pemeliharaan masjid.

Selain itu, masjid juga terbuka untuk berbagai kegiatan budaya. Misalnya, peringatan Hari Raja Ali Haji diisi dengan pelatihan menulis kreatif, pembacaan syair, hingga kajian Gurindam Dua Belas di dalam kompleks masjid.

Masjid Sultan Riau sebagai Wisata Religi

Kini, Masjid Sultan Riau Penyengat menjadi salah satu ikon wisata religi dan budaya unggulan di Kepulauan Riau. Ribuan wisatawan lokal maupun mancanegara berkunjung setiap pekan, terutama pada hari libur dan Idul Fitri.

Dari Tanjungpinang, menara masjid bahkan tampak bercahaya seperti mercusuar, seolah menjadi penunjuk arah bagi pelayar di malam hari.

Kombinasi antara keindahan arsitektur, kekayaan sejarah, dan nilai spiritual menjadikan Masjid Sultan Riau Penyengat sebagai destinasi wajib bagi siapa pun yang ingin menelusuri jejak peradaban Melayu-Islam di Indonesia.

Kesimpulan

Masjid Sultan Riau Penyengat bukan sekadar bangunan ibadah, tetapi juga saksi bisu perjalanan sejarah Kerajaan Riau-Lingga. Dari kisah pembangunan menggunakan putih telur, mushaf tua yang berusia ratusan tahun, hingga arsitekturnya yang memadukan budaya dunia, masjid ini benar-benar sebuah mahakarya yang tak ternilai.

Bagi Anda yang berkunjung ke Kepulauan Riau, jangan lewatkan untuk singgah dan merasakan langsung nuansa religius dan historis di Masjid Sultan Riau Penyengat, warisan Melayu yang mendunia.

Untuk perjalanan paket wisata religi, silahkan hubungi Travel Batam. (dr)

Sumber: berbagai sumber