SINGAPURA – Terletak di Jalan Muscat, Kampong Gelam, Masjid Sultan menjadi salah satu ikon spiritual dan arsitektural utama di Singapura. Lebih dari sekadar tempat ibadah bagi umat Muslim, masjid yang berusia lebih dari dua abad ini juga menjadi destinasi wisata religi yang menyentuh hati banyak wisatawan dari seluruh dunia.
Kemegahan Arsitektur dan Kenyamanan Beribadah
Dengan kubah emas berbentuk bawang yang menjadi ciri khasnya, Masjid Sultan mampu menampung hingga dua ribu jamaah. Struktur bangunannya yang megah didukung oleh belasan tiang dan jendela tinggi dengan ventilasi alami yang membuat sirkulasi udara berjalan lancar.
Interiornya yang didominasi warna hijau dipadu karpet merah bermotif bunga, lampu gantung, serta sistem pendingin ruangan menciptakan suasana ibadah yang tenang dan nyaman.
Area salat terbagi dua lantai: lantai bawah untuk jamaah laki-laki, dan lantai atas untuk jamaah perempuan. Tak hanya saat salat lima waktu, masjid ini juga menjadi pusat kegiatan keagamaan di bulan Ramadan, termasuk pelaksanaan salat Tarawih.
Baca juga: Menikmati Batam Setelah Senja: 7 Spot Wisata Malam yang Wajib Dikunjungi
Sejarah Panjang Penuh Nilai

Masjid Sultan di Kampung Gelam Singapura sudah menjadi wisata religi (ist)
Masjid ini dibangun pertama kali pada tahun 1824 atas perintah Sultan Hussein Shah, sultan pertama Singapura. Dana awal pembangunan sebesar $3.000 diberikan oleh Sir Stamford Raffles, pendiri kolonial Singapura. Bangunan awalnya hanya satu lantai dengan atap dua lapis.
Pada tahun 1932, masjid ini mengalami renovasi besar-besaran. Arsitek Denis Santry dari firma Swan and Maclaren, yang dikenal sebagai firma arsitektur tertua di Singapura, merancang ulang masjid ini menjadi seperti yang kita lihat saat ini.
Uniknya, dasar kubah dihiasi dengan botol-botol kaca yang disumbangkan oleh umat Muslim dari kalangan tak mampu, simbol bahwa semua golongan turut berkontribusi membangun rumah ibadah ini.
Pada tahun 1975, Masjid Sultan ditetapkan sebagai monumen nasional oleh pemerintah Singapura. Saat ini, masjid ini tetap menjadi titik penting komunitas Muslim di tengah lebih dari 60 masjid lain yang tersebar di seluruh Negeri Singa.
Wisata Religi yang Mendekatkan
Bukan hanya umat Islam yang mengunjungi masjid ini. Setiap harinya, sekitar 500–600 wisatawan dari berbagai negara seperti Jepang, Korea, Indonesia, Malaysia, hingga Eropa datang untuk mengenal lebih jauh tentang Islam dan sejarah masjid ini. Jumlah tersebut bahkan bisa meningkat hingga 750 orang di akhir pekan.
Sebelum memasuki area masjid, pengunjung diminta untuk melepas alas kaki. Mereka yang mengenakan pakaian kurang sopan juga dipinjamkan sarung atau rok panjang. Meski hanya diperbolehkan masuk hingga area teras dalam, pengunjung bebas berfoto dan berdiskusi tentang Islam dengan para relawan di sana.
Salah satu relawan, Najwa—seorang mualaf asal Jepang—dengan senang hati menjelaskan berbagai informasi kepada para wisatawan. Di dekat pintu masjid, terdapat papan edukatif berisi teks Arab beserta terjemahan bahasa Inggris dari azan dan Surah Al-Fatihah. Hal ini membantu wisatawan non-Muslim memahami makna yang terkandung dalam ritual Islam.
Maria dan Haruka, dua wisatawan asal Jepang, mengungkapkan ketertarikan mereka terhadap Islam sebagai “jalan hidup yang menarik.” Mereka datang ke masjid ini setelah mengetahui Islam dari teman dan bacaan mereka, lalu melanjutkannya dengan kunjungan langsung ke Masjid Sultan.
Baca juga: Hati-Hati! Ini Jenis Pakaian yang Bisa Bikin Kamu Diusir dari Pesawat
Menemukan Makna, Menumbuhkan Iman
Bagi Najwa, menjadi relawan bukan hanya tentang memberi informasi, tapi juga memperkuat keimanannya. “Kesempatan ini untuk meningkatkan keimanan saya,” ujarnya.
Masjid Sultan bukan hanya sebuah bangunan bersejarah, tetapi juga jembatan dialog antarbudaya dan antaragama. Di sinilah nilai-nilai keislaman disampaikan dengan damai, terbuka, dan penuh keramahan—sebuah pengalaman spiritual dan budaya yang tak terlupakan bagi siapa pun yang mengunjunginya. (dr)
Sumber: tempo

Comments