BATAM – Indonesia dikenal sebagai salah satu negara penghasil kopi berkualitas dunia. Nama seperti Kopi Gayo Aceh, Kerinci, Toraja, hingga Bali bahkan sudah tidak asing bagi para pencinta kopi internasional. Namun, ketika bicara soal destinasi wisata kopi terbaik dunia, Indonesia justru harus menelan kenyataan mengejutkan.

Indonesia ternyata belum masuk dalam 10 besar destinasi kopi terbaik dunia berdasarkan Holafly Coffee Travel Index.

Padahal, Indonesia memiliki perpaduan yang sangat kuat antara perkebunan kopi, lanskap alam, budaya lokal, hingga tradisi pengolahan kopi yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Baca juga: RTS Link Singapura-Johor Bahru Batal Beroperasi 2026, Mundur ke Februari 2027

10 Destinasi Kopi Terbaik Dunia

Holafly, perusahaan penyedia eSIM perjalanan, merilis daftar destinasi kopi terbaik melalui Holafly Coffee Travel Index.

Indeks tersebut mengevaluasi 18 wilayah kopi yang diakui secara global dengan mempertimbangkan lima kategori utama, yakni warisan asal kopi, kepadatan kafe, infrastruktur wisata kopi, keterjangkauan kopi spesial, serta permintaan global.

Baca juga: Indonesia Kalahkan Singapura, Jepang hingga Italia dalam Daftar Negara Paling Bahagia Soal Cinta

Masing-masing kategori memiliki bobot yang sama, yaitu 20 persen.

Penilaian kemudian dihitung dalam skala 100 poin menggunakan berbagai data publik dan metrik perjalanan untuk menghasilkan perbandingan antarwilayah.

Berikut 10 destinasi kopi terbaik dunia versi Holafly Coffee Travel Index:

1. Eje Cafetero, Kolombia — 71,4
2. Ho Chi Minh, Vietnam — 66,8
3. Addis Ababa, Etiopia — 64,1
4. Melbourne, Australia — 62,5
5. Roma, Italia — 58,9
6. Minas Gerais, Brasil — 57,3
7. Antigua, Guatemala — 54,2
8. Havana, Kuba — 52,8
9. Kigali, Rwanda — 49,1
10.Sana’a dan Haraz, Yaman — 46,5

Eje Cafetero Kolombia Jadi Destinasi Kopi Terbaik

Bagi wisatawan yang ingin merasakan pengalaman minum kopi langsung dari daerah asalnya, Eje Cafetero di Kolombia menjadi destinasi yang patut masuk daftar perjalanan.

Kawasan yang dikenal sebagai segitiga kopi Kolombia tersebut menempati peringkat pertama dengan skor 71,4.

Keunggulannya bukan hanya pada kualitas kopi. Eje Cafetero menawarkan kombinasi antara perkebunan kopi, sejarah, budaya, panorama alam, dan pengalaman wisata yang relatif mudah diakses.

Wisatawan bahkan dapat mengikuti pengalaman panen kopi bersama keluarga petani lokal.

Pengalaman tersebut membuat perjalanan ke Eje Cafetero terasa berbeda. Pengunjung tidak sekadar menikmati secangkir kopi, tetapi juga dapat melihat secara langsung bagaimana kopi ditanam, dipanen, dan diproses sebelum akhirnya menjadi minuman.

Kota-kota di kawasan tersebut juga menawarkan kopi spesial dengan harga yang relatif terjangkau.

Salah satu pengalaman yang menarik adalah menjelajahi kawasan Salento, menikmati suasana hutan berkabut, sekaligus mengunjungi perkebunan kopi bersejarah.

Tak heran jika Eje Cafetero menjadi magnet bagi wisatawan yang ingin menggabungkan wisata alam dan wisata kopi dalam satu perjalanan.

Ho Chi Minh Jadi Wakil Asia Tenggara

Posisi kedua ditempati Ho Chi Minh, Vietnam, dengan skor 66,8.

Kota ini menjadi satu-satunya destinasi dari Asia Tenggara yang masuk dalam daftar 10 besar destinasi kopi terbaik dunia versi indeks tersebut.

Ho Chi Minh memiliki karakter kopi yang sangat khas. Tradisi kopi Vietnam berpadu dengan pertumbuhan kafe modern yang membuat wisatawan memiliki banyak pilihan untuk menikmati kopi.

Mulai dari kopi tradisional yang disajikan di bangku-bangku kecil pinggir jalan hingga kedai kopi modern dengan konsep nyaman dan berpendingin udara.

Salah satu daya tariknya adalah perpaduan biji kopi Robusta khas Vietnam dengan berbagai kreasi minuman kopi modern.

Harga kopi seduh spesial di Ho Chi Minh juga dinilai relatif terjangkau, sehingga wisatawan dapat menjelajahi budaya kopi kota tersebut tanpa harus mengeluarkan biaya besar.

Mengapa Indonesia Tidak Masuk 10 Besar?

Pertanyaan menariknya, mengapa Indonesia tidak masuk dalam daftar tersebut?

Padahal Indonesia memiliki sejumlah wilayah penghasil kopi yang sangat terkenal di dunia.

Gayo di Aceh, misalnya, dikenal sebagai salah satu daerah penghasil Arabika berkualitas. Ada pula Kerinci di Jambi, Toraja di Sulawesi Selatan, hingga Bali yang menawarkan karakter kopi sekaligus lanskap wisata yang menarik.

Indonesia bahkan memiliki potensi besar untuk mengembangkan konsep coffee tourism, yakni perjalanan wisata yang menggabungkan pengalaman menikmati kopi dengan kunjungan ke perkebunan, proses pengolahan, budaya masyarakat, serta keindahan alam daerah penghasil kopi.

Namun, berdasarkan metodologi Holafly Coffee Travel Index, penilaian tidak hanya melihat kualitas atau popularitas biji kopi.

Indeks tersebut juga mempertimbangkan faktor seperti kepadatan kafe, infrastruktur wisata kopi, harga kopi spesial, warisan daerah asal, dan permintaan global.

Artinya, kualitas kopi yang tinggi belum otomatis membuat sebuah daerah menjadi destinasi wisata kopi terbaik dunia.

Indonesia Punya Modal Besar untuk Wisata Kopi

Meski belum masuk 10 besar, Indonesia sebenarnya memiliki modal yang sangat kuat untuk mengembangkan wisata kopi.

Bayangkan perjalanan ke Gayo yang mempertemukan wisatawan dengan perkebunan kopi di dataran tinggi. Atau menjelajahi Kerinci dengan latar pegunungan, menikmati kopi Toraja di tengah kekayaan budaya Sulawesi, hingga mencicipi kopi Bali setelah menikmati panorama alam Pulau Dewata.

Konsep seperti ini dapat membuat kopi bukan sekadar komoditas, tetapi menjadi alasan wisatawan datang dan menghabiskan lebih banyak waktu di sebuah daerah.

Bagi wisatawan pencinta kopi, perjalanan ke Indonesia pun sebenarnya menawarkan pengalaman yang tidak kalah menarik dibandingkan destinasi kopi dunia lainnya.

Karena pada akhirnya, secangkir kopi terbaik bukan hanya soal rasa. Ada perjalanan, petani, budaya, alam, dan cerita panjang di balik setiap bijinya. (dr)