BATAM – Wisatawan yang terbiasa memesan hotel secara online perlu semakin waspada. Investigasi organisasi konsumen Inggris, Which?, menemukan sejumlah iklan penginapan palsu di platform Booking.com yang membuat calon tamu nyaris menjadi korban penipuan.

Salah satu iklan yang disoroti menawarkan “apartemen dekat Big Ben” dengan tarif sekitar £81 atau Rp1,9 juta per malam. Namun, alamat yang tercantum dalam iklan tersebut ternyata merupakan Portcullis House, bagian dari kompleks House of Commons yang digunakan ratusan anggota parlemen Inggris.

Baca juga: Hati-Hati Traveler! Ulasan Hotel Bintang 5 Bisa Jadi Buatan AI

Bukan hanya itu. Petunjuk lokasi lainnya mengarahkan calon pelanggan ke sebuah “blok apartemen mewah” di The Liberty Bounds dekat Tower Bridge. Kenyataannya, lokasi tersebut merupakan salah satu gerai pub Wetherspoons.

Akibat munculnya iklan tersebut, staf di pub bahkan dilaporkan harus menghadapi hingga 20 wisatawan setiap hari yang datang karena mengira mereka telah memesan sebuah apartemen.

Turis Pesan Apartemen, Ternyata Pub

Kasus serupa dialami seorang pria asal Loughborough pada Agustus 2026. Ia memesan penginapan untuk keluarganya selama satu malam melalui Booking.com.

Baca juga: Hidden Gem Kuliner Murah di Terminal 3 Soetta, Makan Kenyang Cuma Rp30 Ribu!

Pria tersebut mendapatkan apartemen bernama The London Crown dengan tarif sekitar £73 atau Rp1,7 juta. Namun, ketika tiba di alamat yang tercantum, ia justru menemukan sebuah pub Wetherspoons.

Ia kemudian menghubungi layanan pelanggan Booking.com dan mendapatkan alternatif akomodasi.

Yang membuat persoalan semakin mengkhawatirkan, laporan Which? menyebut daftar The London Crown masih aktif hingga 23 September 2026. Daftar tersebut memiliki lebih dari 250 ulasan negatif yang muncul sepanjang Agustus dan September, meski terdapat pula sejumlah ulasan positif yang dinilai mencurigakan.

Sejumlah pengguna bahkan mengaku telah melaporkan dugaan penipuan tersebut kepada Booking.com.

Booking.com Ungkap Modus Pembajakan Akun

Menanggapi temuan tersebut, Booking.com mengatakan kedua kasus bukan berasal dari properti fiktif yang sejak awal dibuat oleh penipu.

Menurut perusahaan, kedua properti tersebut merupakan akomodasi sah yang sebelumnya memang menerima tamu. Namun, akun properti diduga berhasil dibajak pelaku kejahatan siber melalui serangan phishing.

Serangan tersebut disebut memberikan akses sementara dan tidak sah kepada pelaku terhadap akun Booking.com milik akomodasi.

Booking.com menyatakan telah menangguhkan pemesanan pada kedua properti yang terdampak dan memberikan bantuan kepada pelanggan yang terkena dampak.

Cara Mengenali Iklan Hotel atau Penginapan Palsu

Kasus ini menjadi pengingat bahwa wisatawan tidak cukup hanya melihat harga murah dan rating ketika memilih hotel atau apartemen untuk liburan.

Lembaga perlindungan konsumen dan persaingan usaha Irlandia (CCPC) menyebut sejumlah tanda yang patut dicurigai ketika mencari akomodasi.

Beberapa di antaranya adalah:

* Harga penginapan terlalu murah dan terlihat tidak masuk akal.
* Pemilik atau pengelola tidak dapat menunjukkan properti secara langsung.
* Calon penyewa ditekan untuk segera membayar uang muka atau deposit.
* Diminta membayar sebelum perjanjian sewa dimulai.
* Dokumen kontrak atau kunci yang diberikan terlihat mencurigakan.
* Iklan hanya ditemukan melalui media sosial.
* Pengiklan tidak menanyakan informasi apa pun mengenai calon penyewa.
* Komunikasi hanya dilakukan melalui email, SMS, atau media sosial.
* Properti yang sama muncul dalam beberapa iklan berbeda.

Jangan Tergiur Harga Murah Saat Booking Hotel

Wisatawan disarankan melakukan pengecekan alamat penginapan sebelum melakukan pembayaran. Pastikan nama properti, lokasi, foto, ulasan, dan informasi kontak sesuai.

Jika menemukan perbedaan mencolok antara lokasi yang dijanjikan dengan alamat sebenarnya, sebaiknya jangan langsung melakukan pembayaran.

CCPC juga menyarankan wisatawan menggunakan platform pemesanan resmi dan sistem pembayaran yang aman.

Pembayaran sebaiknya dilakukan langsung melalui sistem resmi platform. Hindari permintaan transfer ke rekening pribadi, pembayaran menggunakan mata uang kripto, maupun metode pembayaran di luar platform.

Jika sudah terlanjur menjadi korban, simpan seluruh bukti komunikasi, bukti pembayaran, alamat penginapan, serta tangkapan layar iklan. Segera hubungi bank atau perusahaan kartu kredit apabila telah melakukan transfer atau memberikan informasi perbankan.

Liburan ke Luar Negeri, Jangan Sampai Hotelnya Fiktif

Kasus iklan penginapan palsu di Inggris menunjukkan bahwa wisatawan tetap harus berhati-hati meskipun melakukan pemesanan melalui platform perjalanan populer.

Penipu dapat memanfaatkan teknologi, akun akomodasi yang diretas, hingga informasi properti yang sebenarnya sah untuk membuat calon wisatawan percaya.

Karena itu, sebelum berangkat liburan ke luar negeri, jangan hanya mengejar harga hotel termurah. Luangkan waktu untuk memeriksa lokasi dan reputasi penginapan agar perjalanan tidak berubah menjadi masalah sejak hari pertama. (dr)

Sumber: kompas