KUALA LUMPUR – Liburan ke Malaysia yang seharusnya menjadi momen menyenangkan justru terganggu kabut asap. Pemandangan ikonik Kuala Lumpur, mulai dari Menara Kembar Petronas hingga Merdeka 118, sulit dinikmati karena tertutup polusi udara yang menyelimuti sejumlah kawasan.

Kondisi ini bukan hanya mengurangi kenyamanan wisatawan saat menjelajahi destinasi populer, tetapi juga mulai berdampak pada industri pariwisata Malaysia. Sejumlah operator tur melaporkan penurunan pemesanan hingga pembatalan perjalanan akibat memburuknya kualitas udara.

Baca juga: Tak Punya Hotel Mewah, Pulau Penyengat Punya Homestay Unik! Menginap Mulai Rp200 Ribuan

Kabut Asap Malaysia Bikin Wisatawan Kecewa

Salah satu wisatawan yang merasakan dampak kabut asap adalah Cathy Hamilton, pelancong asal Sydney, Australia. Ia mengaku kecewa karena tidak bisa mendapatkan foto dengan pemandangan yang jelas saat mengunjungi sejumlah ikon wisata Kuala Lumpur.

Hamilton mencoba mengabadikan Menara Kembar Petronas, Merdeka 118, dan panorama kota lainnya. Namun, hasil fotonya tidak sesuai harapan lantaran bangunan-bangunan tersebut tertutup kabut asap.

Baca juga: Bukan Sekadar Wisata, Pulau Penyengat Simpan Kisah Sultan dan Rahasia Sejarah Melayu

“Saya mencoba mengambil foto Menara Kembar, Merdeka 118, dan pemandangan lainnya. Namun, hasilnya tidak bagus karena semuanya tertutup kabut asap,” ujarnya, seperti dikutip dari The Straits Times, Rabu (21/10/2026).

Tak hanya mengganggu aktivitas wisata, Hamilton juga mengaku mengalami kesulitan bernapas akibat kondisi udara yang memburuk. Ia bahkan mempertimbangkan untuk membatalkan perjalanan jika kedua putrinya tidak mengikuti Kejuaraan Cheerleading Asia pada akhir pekan tersebut.

Pengalaman ini menjadi pengingat bahwa kualitas udara merupakan salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan ketika merencanakan liburan ke luar negeri.

Pemesanan Tur ke Malaysia Mulai Menurun

Dampak kabut asap juga dirasakan pelaku industri perjalanan. Presiden Malaysian Inbound Tourism Association, Mint Leong, mengatakan sejumlah operator tur mulai menerima pembatalan perjalanan yang dijadwalkan pada November.

Pemesanan rombongan wisata juga mengalami penurunan. Di sisi lain, agen perjalanan dari luar negeri mulai meminta informasi terbaru mengenai kondisi kualitas udara di Malaysia sebelum memastikan perjalanan klien mereka.

Menurut Leong, situasi ini berpotensi menimbulkan kerugian besar bagi sektor pariwisata jika berlangsung lebih lama.

Ia memperingatkan bahwa kerugian pendapatan industri pariwisata dapat mencapai jutaan ringgit akibat kabut asap yang mengganggu aktivitas perjalanan.

Kuala Lumpur Masuk Daftar Kota dengan Polusi Udara Tinggi

Persoalan kabut asap turut meningkatkan kekhawatiran terhadap kondisi lingkungan di kawasan Asia Tenggara.

Pada Selasa (20/10/2026), Kuala Lumpur, Singapura, dan Jakarta masuk dalam daftar 10 kota besar dengan tingkat polusi udara tertinggi di dunia berdasarkan pemantauan IQAir.

Kabut asap juga menyebabkan sekolah di sejumlah wilayah Malaysia ditutup. Situasi tersebut menunjukkan bahwa dampaknya tidak terbatas pada pariwisata, tetapi juga menyentuh aktivitas pendidikan dan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Asap yang dikaitkan dengan kebakaran hutan dan lahan di Indonesia turut menyebar ke sejumlah wilayah Asia Tenggara, sehingga persoalan kualitas udara menjadi perhatian lintas negara.

Target 47 Juta Wisatawan Malaysia Terancam Terganggu

Kondisi ini menjadi tantangan bagi Malaysia yang tengah mendorong pertumbuhan kunjungan wisatawan melalui kampanye Visit Malaysia 2026.

Negara tersebut menargetkan 47 juta kunjungan wisatawan pada 2026. Sementara itu, Tourism Malaysia mencatat sebanyak 28,8 juta kunjungan wisatawan mancanegara selama Januari hingga Agustus 2026.

Target tersebut menunjukkan besarnya peran pariwisata bagi perekonomian Malaysia. Pada 2025, wisatawan mancanegara tercatat membelanjakan 124,8 miliar ringgit atau sekitar Rp549 triliun di negara itu.

Angka tersebut bahkan lebih tinggi dibandingkan pengeluaran wisatawan domestik yang mencapai 112,1 miliar ringgit atau sekitar Rp493 triliun.

Jika kabut asap terus mengganggu perjalanan, dampaknya dapat dirasakan berbagai pelaku usaha, mulai dari operator tur, hotel, restoran, pedagang, hingga penyedia jasa transportasi wisata.

Sejumlah Destinasi Masih Ramai, tetapi Penjualan Pedagang Turun

Meski kualitas udara memburuk, aktivitas wisata di sejumlah kawasan belum sepenuhnya berhenti.

Chinatown di Kuala Lumpur, misalnya, masih didatangi wisatawan yang berburu barang murah pada Senin (19/10/2026).

Namun, kondisi tersebut belum tentu mencerminkan pulihnya aktivitas ekonomi para pedagang. Wong Mei, seorang pedagang tas di kawasan itu, mengatakan jumlah pengunjung yang datang dalam dua pekan terakhir mengalami penurunan.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa dampak kabut asap bisa berbeda-beda di setiap destinasi. Sebagian wisatawan tetap melanjutkan perjalanan, sementara sebagian lainnya memilih mempertimbangkan ulang rencana liburan.

Wisatawan Tetap Berlibur, tetapi Mengubah Ekspektasi

Tidak semua wisatawan memutuskan untuk membatalkan perjalanan ke Malaysia.

James Wheatley, wisatawan asal Inggris, mengatakan dirinya tetap melanjutkan liburan setelah tiba di Malaysia. Ia berencana tinggal hingga 27 Oktober 2026.

Menurut Wheatley, kabut asap yang ditemuinya belum terlalu mengganggu sehingga ia memilih menyesuaikan diri dengan kondisi tersebut.

Meski demikian, ia mengakui kemungkinan akan menunda perjalanan apabila mengetahui kondisi udara sebelum keberangkatan.

Pengalaman para wisatawan tersebut menunjukkan pentingnya memperoleh informasi terbaru sebelum berangkat, terutama bagi pelancong yang berencana melakukan wisata luar ruangan, fotografi kota, atau perjalanan bersama anak-anak.

Tips Liburan ke Malaysia Saat Kabut Asap

Bagi wisatawan yang tetap berencana mengunjungi Malaysia, ada beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan agar perjalanan tetap nyaman.

1. Periksa kualitas udara sebelum berangkat

Pantau informasi kualitas udara melalui sumber tepercaya, seperti IQAir dan otoritas lingkungan setempat. Kondisi udara dapat berubah dalam waktu singkat.

2. Siapkan rencana perjalanan alternatif

Jika pemandangan luar ruangan terganggu kabut asap, pertimbangkan destinasi dalam ruangan seperti pusat perbelanjaan, museum, galeri, atau tempat wisata indoor lainnya.

3. Batasi aktivitas fisik di luar ruangan

Ketika kualitas udara memburuk, kurangi aktivitas berat di luar ruangan. Wisatawan yang mengalami sesak napas atau iritasi sebaiknya segera mencari tempat dengan udara lebih bersih dan meminta bantuan medis bila diperlukan.

4. Periksa kebijakan pembatalan hotel dan tur

Sebelum berangkat, pastikan ketentuan perubahan jadwal, pembatalan, dan pengembalian dana dari maskapai, hotel, maupun operator tur.

5. Pantau informasi resmi selama liburan

Jangan hanya mengandalkan kondisi cuaca atau jarak pandang. Perhatikan pula peringatan kesehatan dan arahan otoritas setempat sebelum menentukan aktivitas wisata.

Kabut Asap Jadi Tantangan Liburan ke Malaysia

Kabut asap yang menyelimuti Malaysia menunjukkan bahwa pengalaman liburan tidak hanya ditentukan oleh keindahan destinasi, tetapi juga kondisi lingkungan.

Bagi wisatawan, polusi udara dapat mengurangi kenyamanan, mengganggu aktivitas fotografi, bahkan menimbulkan keluhan pernapasan. Bagi industri pariwisata, situasi ini berpotensi memicu pembatalan perjalanan dan menekan pendapatan pelaku usaha.

Karena itu, wisatawan yang berencana berkunjung ke Kuala Lumpur maupun wilayah Malaysia lainnya pada Oktober dan November 2026 sebaiknya memantau perkembangan kualitas udara sebelum berangkat.

Menara Kembar Petronas, Merdeka 118, dan berbagai destinasi populer lainnya tetap menjadi daya tarik Malaysia. Namun, memastikan kondisi perjalanan dan kesehatan selama liburan tidak kalah penting dari menyusun daftar tempat yang ingin dikunjungi. (dr)

Sumber: detik