BATAM – Lonjakan harga avtur yang kini mencapai Rp 23.551 per liter per 1 April 2026 di Bandara Bandara Soekarno-Hatta membawa dampak besar bagi industri penerbangan nasional. Kenaikan ini membuat biaya operasional maskapai semakin tinggi, mengingat avtur menyumbang sekitar 40 persen dari total biaya operasional.
Akibatnya, harga tiket pesawat di Indonesia diperkirakan akan mengalami kenaikan di kisaran 9 hingga 13 persen. Kondisi ini tentu menjadi perhatian bagi para traveler yang tengah merencanakan perjalanan domestik maupun internasional.
Pemerintah Naikkan Fuel Surcharge
Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan di bawah kepemimpinan Dudy Purwagandhi mengambil langkah strategis dengan menyesuaikan komponen fuel surcharge (FS) menjadi 38 persen. Sebelumnya, tarif FS hanya 10 persen untuk pesawat jet dan 25 persen untuk pesawat baling-baling.
Menurut Dudy, kebijakan ini bertujuan menjaga keseimbangan antara keberlangsungan industri penerbangan dan daya beli masyarakat.
“Kebijakan ini dirancang untuk menjaga keberlanjutan industri sekaligus melindungi konsumen,” ujarnya.
Dampak Global Tak Terhindarkan
Kenaikan harga avtur bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga menjadi fenomena global. Banyak negara telah lebih dulu menyesuaikan tarif bahan bakar, yang berdampak langsung pada harga tiket pesawat.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa kenaikan harga energi global membuat penyesuaian ini tidak bisa dihindari.
Namun demikian, pemerintah tetap berupaya menahan lonjakan harga agar tidak terlalu membebani masyarakat.
Subsidi dan Stimulus untuk Tekan Harga
Untuk menjaga tiket tetap terjangkau, pemerintah memberikan sejumlah stimulus, di antaranya:
- PPN 11% untuk tiket pesawat kelas ekonomi ditanggung pemerintah (DTP)
- Subsidi sekitar Rp 1,3 triliun per bulan
- Total anggaran Rp 2,6 triliun untuk dua bulan
- Penghapusan bea masuk suku cadang pesawat
Langkah ini diharapkan dapat membantu maskapai menekan biaya operasional serta menjaga stabilitas industri penerbangan nasional.
Respons Maskapai Nasional
Sejumlah maskapai nasional mulai menyesuaikan strategi mereka.
Garuda Indonesia menyatakan akan menaikkan harga tiket secara bertahap dan terukur, sambil tetap mengedepankan transparansi kepada penumpang.
Sementara itu, Citilink juga akan melakukan penyesuaian tarif dengan mempertimbangkan daya beli masyarakat dan kondisi pasar.
Adapun Lion Air melalui Lion Group masih menunggu regulasi lanjutan sebelum menetapkan kenaikan tarif secara resmi.
Selain penyesuaian harga, maskapai juga mulai mengatur ulang jadwal dan frekuensi penerbangan untuk menjaga efisiensi operasional di tengah lonjakan biaya.
Tips Traveler Hadapi Tiket Mahal
Dengan kondisi ini, traveler disarankan untuk lebih cermat dalam merencanakan perjalanan. Berikut tips yang bisa dilakukan:
- Pesan tiket jauh-jauh hari
- Manfaatkan promo dan diskon maskapai
- Pilih jadwal penerbangan di luar musim liburan
- Bandingkan harga antar maskapai. (dr)
Sumber: detik

Comments