BATAM – Kabar kurang menyenangkan bagi para traveler! Mulai April 2026, harga tiket pesawat dipastikan akan mengalami kenaikan secara global. Lonjakan ini dipicu oleh meningkatnya biaya bahan bakar pesawat akibat konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah.

Berdasarkan laporan dari International Air Transport Association, harga rata-rata bahan bakar jet dunia melonjak drastis sejak 28 Februari 2026. Per 20 Maret 2026, harga bahan bakar bahkan telah menyentuh USD197 atau sekitar Rp3,3 juta per barel—hampir dua kali lipat dari harga normal.

Kondisi ini membuat industri penerbangan global berada dalam tekanan besar. Biaya bahan bakar kini menyumbang hingga seperempat dari total biaya operasional maskapai. Tak heran jika banyak maskapai mulai mengambil langkah cepat untuk bertahan.

Maskapai Dunia Mulai Naikkan Tarif

Cathay Pacific menjadi salah satu maskapai yang lebih dulu mengumumkan kenaikan biaya tambahan bahan bakar sebesar 34 persen untuk semua rute, efektif mulai 1 April 2026. Penyesuaian ini akan ditinjau kembali setelah dua minggu.

Dengan kebijakan baru tersebut, biaya tambahan bahan bakar dipatok:

  • Jarak pendek: USD50 (±Rp847 ribu)
  • Jarak menengah: USD93 (±Rp1,5 juta)
  • Jarak jauh: USD200 (±Rp3,3 juta)

Pihak maskapai menyatakan bahwa tanpa langkah ini, stabilitas operasional mereka bisa terganggu.

Tak hanya itu, Singapore Airlines juga telah menaikkan tarif di seluruh jaringan penerbangannya. Langkah serupa diikuti oleh berbagai maskapai besar lainnya.

Beberapa maskapai yang juga melakukan penyesuaian tarif antara lain:

  • Thai Airways (kenaikan 10–15 persen)
  • Cebu Pacific (kenaikan 20–26 persen hingga Mei 2026)
  • AirAsia (penyesuaian tarif sementara semua rute)

Saat ini, lebih dari 60 persen maskapai internasional telah menaikkan biaya tambahan demi menutup lonjakan biaya operasional.

Dampak ke Traveler: Liburan Bisa Lebih Mahal

Kenaikan harga tiket pesawat ini tentu berdampak langsung pada biaya liburan. Traveler yang berencana bepergian dalam waktu dekat disarankan untuk:

  • Memesan tiket lebih awal sebelum harga semakin naik
  • Memanfaatkan promo maskapai
  • Fleksibel dalam memilih tanggal keberangkatan

Selain itu, maskapai berbiaya rendah di Asia Tenggara disebut menjadi yang paling rentan terdampak. Minimnya strategi lindung nilai (fuel hedging) membuat mereka lebih cepat terpukul oleh lonjakan harga bahan bakar.

Bahkan, beberapa maskapai disebut tengah menyiapkan skenario terburuk, termasuk kemungkinan menghentikan operasional sementara jika biaya bahan bakar terus melonjak.

Perencanaan Liburan dari Awal

Lonjakan harga bahan bakar akibat konflik global kini benar-benar terasa hingga ke kantong traveler. Dengan tren kenaikan tarif yang sudah dimulai sejak April 2026, perencanaan perjalanan menjadi semakin penting agar tetap hemat.

Jadi, kalau kamu punya rencana liburan tahun ini, mungkin sekarang adalah waktu terbaik untuk mengamankan tiket sebelum harga makin “terbang tinggi”. (dr)

Sumber: cnnindonesia