BATAM – Liburan ke luar negeri kini tak bisa lagi asal datang. Fenomena overtourism —lonjakan wisatawan berlebihan— memaksa banyak destinasi populer dunia mengambil langkah tegas. Bukan menutup pintu sepenuhnya, tapi menerapkan kuota harian, reservasi wajib, pajak wisata, hingga biaya khusus demi menjaga alam, budaya, dan kenyamanan warga lokal.

Buat traveler, aturan ini wajib diketahui agar tidak zonk saat tiba di lokasi.

Berikut deretan destinasi dunia yang sudah lebih dulu menerapkan pembatasan wisata.

Daftar Destinasi Dunia yang Membatasi Wisatawan

Thailand

Thailand kembali mewacanakan pajak wisata 300 baht (sekitar Rp120 ribu) bagi turis internasional. Dana ini akan digunakan untuk perlindungan wisatawan dan pengembangan destinasi berkelanjutan.

French Polynesia

Surga Pasifik Selatan ini membatasi wisatawan hingga 280.000 orang per tahun mulai 2027, agar jumlah turis tak melampaui penduduk lokal.

Bhutan

Bhutan terkenal dengan konsep High Value, Low Impact Tourism. Turis wajib membayar Sustainable Development Fee sekitar £76 per malam, yang dialokasikan untuk pendidikan, kesehatan, dan budaya.

Amsterdam

Amsterdam menekan wisata massal dengan membatasi kapal pesiar sungai, memperketat sewa hunian wisata, dan mengurangi promosi turis harian.

Boracay

Pulau ini pernah ditutup total demi rehabilitasi lingkungan. Kini, wisatawan wajib registrasi sebelum datang untuk mengontrol jumlah pengunjung.

Machu Picchu

Situs warisan dunia ini membatasi 5.600 pengunjung per hari saat musim puncak. Tiket wajib online dan kunjungan dilakukan dalam kelompok berpemandu.

Dubrovnik

Dubrovnik membatasi turis kapal pesiar maksimal 8.000 orang per hari, sekaligus mengurangi kios suvenir dan meja restoran di zona padat.

Santorini

Pulau ikonik Yunani ini membatasi penumpang kapal pesiar sekitar 8.000 orang per hari demi menjaga keseimbangan hidup warga lokal.

Mount Everest

Nepal menerapkan kuota izin pendakian dan syarat pengalaman bagi pendaki untuk mencegah kepadatan ekstrem di jalur menuju puncak.

Antarctica

Berdasarkan Antarctic Treaty, maksimal hanya 100 pengunjung boleh berada di daratan pada satu waktu demi melindungi satwa dan lingkungan ekstrem.

Seychelles

Negara kepulauan ini membatasi pembangunan resor besar dan mempertimbangkan pembatasan jumlah wisatawan jangka panjang.

Forbidden City

Kompleks istana bersejarah di Beijing membatasi 30.000 pengunjung per hari dengan sistem tiket daring.

Bruges

Bruges mengurangi kapal pesiar dan membatasi promosi wisata harian agar turis tinggal lebih lama dan berdampak ekonomi lebih merata.

Bali

Bali menerapkan biaya wisatawan asing Rp150.000 sebagai bagian dari strategi pariwisata berkelanjutan dan pelestarian budaya.

National Parks

Sejumlah taman nasional AS menerapkan reservasi daring saat musim puncak untuk mengatur kapasitas dan menjaga ekosistem.

Spain

Barcelona membatasi ukuran grup wisata, melarang megafon, dan menerapkan jalur satu arah. Mallorca bahkan berencana mengurangi total tempat tidur hotel.

Lord Howe Island

Pulau ini hanya mengizinkan maksimal 400 wisatawan dalam satu waktu demi menjaga ekosistem rapuhnya.

Fernando de Noronha

Diterapkan biaya masuk taman nasional dan biaya perlindungan lingkungan harian untuk mendukung konservasi alam.

Wisata Dibatasi, Bukan Ditolak

Pembatasan ini menegaskan satu hal: wisata dunia sedang berubah arah. Fokusnya bukan lagi jumlah, melainkan kualitas dan keberlanjutan. Bagi traveler, ini berarti perlu lebih banyak riset, perencanaan, dan kesadaran sebelum berangkat.

Liburan tetap seru—asal tahu aturannya. (dr)

Sumber: kompas