BATAM – Tren wisata slow travel diprediksi semakin digemari pada 2026. Wisatawan kini mulai meninggalkan gaya liburan serba cepat dan padat, beralih ke perjalanan yang lebih santai, penuh makna, dan minim distraksi. Tujuannya bukan sekadar berpindah tempat, melainkan benar-benar merasakan kehidupan lokal, budaya, dan alam di destinasi yang dikunjungi.

Asia, dengan kekayaan budaya kuno, lanskap beragam, dan ritme hidup yang lebih membumi, menjadi kawasan ideal untuk konsep slow travel. Jika Anda merencanakan perjalanan santai di 2026, lima kota di Asia ini layak masuk bucket list.

Luang Prabang, Laos

Terletak di pertemuan Sungai Mekong dan Nam Khan, Luang Prabang adalah definisi ketenangan. Kota warisan dunia UNESCO ini menawarkan pengalaman slow travel autentik: bangun pagi menyaksikan ritual sedekah biksu, bersantai di kafe tepi sungai, hingga bersepeda di jalan-jalan sunyi yang dinaungi pohon frangipani.

Di kota ini terdapat 33 kuil berlapis emas, menjadikannya surga bagi pelancong yang ingin menyelami spiritualitas dan sejarah tanpa hiruk pikuk wisata massal.

Mechuka, India

Dijuluki “Mini Swiss” dari India, Mechuka di Arunachal Pradesh adalah destinasi ideal untuk detoks digital. Desa terpencil ini dikelilingi perbukitan hijau, hutan pinus, dan aliran Sungai Yargyap Chu yang menenangkan.

Mengutip Incredible India, wisatawan dapat menikmati keajaiban alam di Hanuman Point, tinggal di rumah tradisional suku Memba, hingga mencicipi kuliner lokal seperti momos, thukpa, teh mentega, dan bir millet. Slow travel di Mechuka bukan hanya berlibur, tapi belajar hidup selaras dengan alam dan budaya.

Hoi An, Vietnam

Masuk Situs Warisan Dunia Unesco, kota Hoi An Vietnam layak menjadi kota tujuan Slow Travel (ist)

Kota pelabuhan kuno Hoi An menawarkan suasana yang berbeda dari kota-kota besar Vietnam. Situs warisan dunia UNESCO ini terkenal dengan lampion warna-warni dan arsitektur bersejarah.

Namun, slow travel terbaik justru ditemukan di luar pusat keramaian: menyusuri sawah saat pagi, bersepeda melewati desa nelayan, dan menghabiskan sore hari mempelajari kerajinan tradisional atau memasak kuliner khas Vietnam bersama warga lokal.

Semenanjung Noto, Jepang

Jauh dari gemerlap Tokyo, Semenanjung Noto di pantai barat Jepang menghadirkan ketenangan khas pedesaan. Wilayah ini dikenal dengan desa pertanian berteras, desa nelayan tradisional, dan budaya yang bertahan selama ratusan tahun.

Mengutip Times of India, perjalanan santai di Noto diisi dengan berendam di onsen tepi laut, menikmati masakan lokal berbahan segar, serta berjalan menyusuri pantai ditemani suara ombak. Gaya hidup satoyama, hidup selaras dengan alam, menjadikan Noto destinasi sempurna untuk liburan tanpa tekanan.

Koh Yao Noi, Thailand

Berada di antara Phuket dan Krabi, Koh Yao Noi menawarkan sisi Thailand yang lebih autentik. Tanpa pesta besar, lalu lintas minim, dan komunitas Muslim lokal yang kuat, pulau ini mempertahankan ketenangan yang mulai langka di destinasi tropis populer.

Hari-hari di Koh Yao Noi diisi dengan berjalan di pantai sepi, berkayak di hutan bakau, membaca buku, atau sekadar menikmati pasang surut laut. Mengutip CN Traveller, wisatawan juga bisa mengikuti aktivitas budaya seperti melukis batik dan membuat kain tradisional di Pusat Wanita Lokal Dermaga Tha Khao.

Slow travel bukan soal ke mana Anda pergi, tapi bagaimana Anda hadir sepenuhnya di setiap perjalanan. Lima kota di Asia ini menawarkan ruang untuk berhenti sejenak, bernapas, dan benar-benar menikmati hidup—sebuah kemewahan yang semakin dicari di tahun 2026.

Pertanyaannya? Kota mana yang anda mau tuju untuk liburan? Untuk informasi lebih lanjut hubungi Travel Batam. (dr)

Sumber: tempo