TANJUNGPINANG – Bukan sekadar pulau kecil di seberang Kota Tanjungpinang, Pulau Penyengat menyimpan magnet yang membuat wisatawan serumpun rela menyeberangi laut demi menelusuri jejak leluhur. Dari makam para sultan, masjid bersejarah, permainan gasing, hingga kuliner khas Melayu, destinasi wisata sejarah di Kepulauan Riau (Kepri) ini menawarkan pengalaman yang lebih dalam daripada sekadar liburan.
Daya tarik itu tercermin dari angka kunjungan yang disebut mencapai 2.500 hingga 3.000 orang per bulan. Menariknya, sekitar 67 persen pengunjung berasal dari Malaysia. Mereka datang bukan hanya untuk menikmati keindahan pulau, tetapi juga menelusuri hubungan sejarah, silsilah keluarga, dan warisan Kesultanan Johor-Riau-Lingga.
Baca juga: Tak Perlu Pesawat! Ini Cara Traveling 3 Negara Asia Tenggara Naik Kereta Api
Bagi sebagian wisatawan, perjalanan ke Pulau Penyengat bahkan terasa seperti pulang ke rumah leluhur.
Perasaan itulah yang dialami Rayhanah, wisatawan asal Johor, Malaysia, yang datang bersama keluarganya yang berjumlah lima orang. Berada langsung di tempat-tempat bersejarah yang dahulu hanya dikenalnya melalui pelajaran sekolah menghadirkan pengalaman yang berbeda.
“Sebelumnya, kalau di sekolah dulu, kita selalu ada subjek Sejarah yang menceritakan pasal Kesultanan Johor, Riau-Lingga. Jadi, karena kami dari Johor, mumpung ada kesempatan, kami datang sekali ke sini untuk melihat langsung tempat-tempat bersejarahnya,” tutur Rayhanah.
Baca juga: Batik Air Resmi Buka Rute Batam-Penang, Wisata Medis dan Liburan ke Malaysia Kini Makin Mudah!
Baginya dan keluarganya, Pulau Penyengat bukan sekadar destinasi wisata. Pulau ini menjadi ruang untuk mengenal kembali akar sejarah yang menghubungkan masyarakat Melayu lintas negara.
Pulau Penyengat, Magnet Wisata Sejarah bagi Warga Serumpun
Daya tarik Pulau Penyengat tidak berhenti pada bangunan tua dan kisah kerajaan. Keramahan masyarakat, suasana pesisir, serta cerita tentang tokoh-tokoh Melayu menjadikan perjalanan wisata di pulau ini terasa lebih personal.
Wisatawan dapat menyusuri kompleks pemakaman bersejarah, mengunjungi Masjid Raya Sultan Riau, hingga mendengarkan kisah Engku Putri Raja Hamidah dan tokoh-tokoh penting dalam perjalanan Kesultanan Riau-Lingga.
Meski demikian, pengalaman wisata masih menyisakan sejumlah catatan. Ketersediaan air bersih dan kebersihan fasilitas umum, termasuk di area persinggahan dan tempat ibadah, menjadi aspek yang perlu terus diperhatikan agar kenyamanan pengunjung semakin baik.
Di sisi lain, geliat wisata turut memberikan penghidupan bagi masyarakat setempat.
Azmi, penarik becak motor atau bentor yang telah menjalani profesinya selama sekitar 15 tahun, merasakan langsung dampak kedatangan wisatawan.
“Kalau lagi ramai pengunjung, saya bisa narik sampai 8 atau 9 trip sehari. Bersihnya bisa bawa pulang 300 sampai 400 ribu sehari setelah dipotong minyak semua,” kata Azmi.
Penghasilan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas wisata bukan hanya menghidupkan situs sejarah, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi warga yang menjadi bagian dari keseharian Pulau Penyengat.
Gasing Pangkah dan Musik Ghazal, Tradisi Melayu yang Masih Bertahan
Di pelataran terbuka dekat Masjid Raya Sultan Riau, suasana berbeda menyambut para pengunjung. Sejumlah pria berkumpul, menggenggam gasing kayu yang talinya telah dililitkan dengan cermat.
Mereka adalah bagian dari kelompok yang berupaya menjaga permainan gasing pangkah, tradisi yang telah lama menjadi bagian dari kebudayaan Melayu.
Satu per satu gasing dilemparkan ke lantai batu. Suara benturan terdengar ketika gasing-gasing itu saling beradu, berputar cepat, dan berusaha menjatuhkan lawannya. Atraksi semakin menarik ketika pemain memperlihatkan cara memindahkan gasing yang masih berputar ke atas papan kayu.
Rahmat, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat, menjelaskan bahwa permainan tersebut memiliki tingkatan dan membutuhkan ketepatan, kekuatan, serta keterampilan.
“Kalau kita bermain gasing ini, kita ada urutan tingkatnya, mulai dari raja, menteri, sampai ke kuli. Maknanya, kita memutar gasing ini harus lebih kuat dan tepat, karena main gasing ini butuh presisi saat memangkah gasing lawan,” ujarnya.
Pengunjung tidak hanya menjadi penonton. Mereka juga diberi kesempatan mencoba memegang tali dan melempar gasing, sehingga tradisi itu dapat dinikmati secara langsung oleh wisatawan dari berbagai usia.
Warisan budaya Pulau Penyengat juga hidup melalui musik ghazal. Muhammad Razif, yang sejak 2014 menekuni musik tradisional tersebut, terus memainkan alat musik seperti akordeon dan gendang beban.
Di tengah perkembangan zaman digital, Razif berharap musik tradisional Melayu tetap mendapatkan tempat di hati generasi muda.
“Dengan sekarang zaman digitalisasi, harapan saya ke depannya musik tradisi ini bisa lebih dilestarikan lagi, dan anak-anak muda juga tetap mencintai alat musik kita,” katanya.
Gasing pangkah dan musik ghazal menjadi bukti bahwa kekayaan Pulau Penyengat tidak hanya tersimpan dalam bangunan bersejarah, tetapi juga dalam tradisi yang masih dimainkan dan diwariskan.
Menyusuri Makam Raja Haji Fisabilillah dan Raja Ali Haji
Perjalanan kemudian membawa rombongan menuju kompleks pemakaman bersejarah. Di bawah pepohonan tua, batu-batu nisan berdiri dalam suasana yang tenang, menjadi pengingat akan perjalanan panjang para tokoh yang membentuk sejarah Melayu.
Di Pulau Penyengat terdapat sejumlah kompleks makam penting, termasuk makam Raja Haji Fisabilillah, Raja Ali Haji, Engku Putri Raja Hamidah, Raja Ja’far, dan Raja Abdurrahman.
Raja Malik, keturunan keenam Raja Haji Fisabilillah, bersama Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Provinsi Kepri, Datuk Raja Hafiz, turut mendampingi rombongan dalam penelusuran sejarah tersebut.
Dalam kesempatan itu, Raja Malik menjelaskan sejumlah istilah sejarah yang menurutnya perlu dipahami sesuai konteks zamannya. Ia juga menguraikan perjalanan Kesultanan Riau-Lingga hingga periode 1911, ketika Sultan terakhir meninggalkan wilayah kekuasaannya menuju Singapura setelah konflik politik dengan pemerintah kolonial Belanda.
Peristiwa tersebut menjadi salah satu titik balik dalam sejarah Pulau Penyengat. Kawasan yang pernah menjadi pusat kehidupan pemerintahan dan kebudayaan Melayu itu mengalami kemunduran, sementara sebagian besar penduduknya meninggalkan pulau.
Namun, sejumlah keluarga tetap bertahan. Mereka menjaga makam, merawat situs bersejarah, dan meneruskan kisah para leluhur kepada generasi berikutnya.
Menurut penuturan Raja Malik, Pulau Penyengat memiliki sedikitnya empat kompleks pemakaman besar yang menyimpan jejak tokoh-tokoh penting dalam sejarah Melayu.
Selain kompleks makam, terdapat Pusat Maklumat Budaya Melayu dan reruntuhan Gedung Tabib yang memperlihatkan lapisan sejarah pulau ini. Secara keseluruhan, naskah perjalanan ini menyebut terdapat sedikitnya 48 titik cagar budaya nasional di Pulau Penyengat, mulai dari masjid, benteng pertahanan, reruntuhan bangunan, hingga kompleks pemakaman.
Warisan tersebut menjadi modal penting untuk mengembangkan wisata sejarah yang tidak hanya menawarkan pemandangan, tetapi juga pengetahuan mengenai perjalanan peradaban Melayu.
Gedung Tabib dan Cerita Mistis yang Menyelimuti Pulau

Gedung Tabib, jejak sejarah dulu Kesultanan Riau Lingga sudah memiliki rumah sakit sendiri (ist)
Di antara bangunan bersejarah yang dikunjungi, reruntuhan Gedung Tabib menghadirkan pemandangan yang berbeda. Atap bangunan telah hilang, sedangkan dinding-dinding tuanya masih bertahan dengan akar pepohonan yang tumbuh di sekelilingnya.
Kondisi tersebut menciptakan suasana yang membuat pengunjung membayangkan kehidupan masa lalu di pulau ini.
Selain kisah sejarah, masyarakat setempat juga mengenal berbagai cerita mistis yang berkembang di sekitar kompleks pemakaman. Bang Hades, yang telah sekitar 15 tahun bertugas sebagai juru pelihara Kompleks Makam Angku Putri Raja Hamidah, menceritakan pengalaman mendengar suara lantunan Al-Qur’an ketika tidak ada pengunjung di area makam.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa makam seharusnya menjadi tempat berziarah dan mengingat kematian, bukan semata-mata tujuan untuk mencari pengalaman mistis.
Cerita-cerita semacam itu menjadi bagian dari kisah lisan yang hidup di tengah masyarakat. Namun, kekuatan utama Pulau Penyengat tetap terletak pada nilai sejarah, tradisi, dan warisan budaya yang dapat ditelusuri secara nyata.
Wisata Pulau Penyengat Punya Potensi Besar, tetapi Fasilitas Masih Menjadi PR
Di balik daya tariknya, Pulau Penyengat masih menghadapi tantangan dalam mengembangkan pariwisata secara berkelanjutan.
Salah satu persoalan yang mencuat adalah keterbatasan penginapan. Dalam catatan perjalanan ini, disebutkan terdapat 13 rumah singgah atau homestay dengan total 37 kamar, beberapa di antaranya sedang direnovasi ketika rombongan berkunjung.
Keterbatasan tersebut menjadi tantangan ketika rombongan wisatawan dalam jumlah besar datang bersamaan. Sebagian pengunjung akhirnya memilih menginap di hotel-hotel di Kota Tanjungpinang, sehingga peluang ekonomi dari sektor penginapan belum sepenuhnya dinikmati warga pulau.
Persoalan air bersih juga membutuhkan perhatian serius. Saat musim kemarau, sejumlah sumur dilaporkan mengering atau mengalami intrusi air laut sehingga airnya menjadi payau.
Fasilitas pengolahan air laut menjadi air tawar melalui teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan masyarakat dan wisatawan. Namun, operasional fasilitas tersebut masih menjadi tantangan ketika peralatan mengalami kerusakan dan tenaga teknis tidak tersedia secara memadai.
Di samping itu, atraksi seni tradisional belum dapat disajikan secara konsisten setiap akhir pekan. Padahal, pertunjukan budaya yang terjadwal dapat menjadi alasan tambahan bagi wisatawan untuk datang dan tinggal lebih lama.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengembangan destinasi tidak cukup hanya dengan mempercantik infrastruktur. Ketersediaan fasilitas dasar, penginapan, atraksi budaya, serta keterlibatan masyarakat perlu berjalan beriringan.
Pulau Penyengat, Warisan Leluhur yang Menatap Masa Depan
Ketika malam menyelimuti pulau dan hujan membasahi jalan-jalan kecilnya, Pulau Penyengat memperlihatkan sisi lain yang tidak ditemukan di destinasi wisata modern. Tidak ada hiruk-pikuk kendaraan bermotor seperti di pusat kota. Yang terasa justru suasana tenang, keramahan warga, dan jejak masa lalu yang hadir di antara bangunan tua serta situs bersejarah.
Pulau ini memiliki modal kuat untuk berkembang sebagai destinasi wisata budaya dan sejarah yang diperhitungkan, termasuk bagi wisatawan Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam yang memiliki kedekatan sejarah dengan dunia Melayu.
Akan tetapi, masa depan pariwisatanya tidak hanya ditentukan oleh besarnya investasi dan jumlah kunjungan. Ketersediaan air bersih, penginapan, transportasi, kebersihan, pertunjukan budaya, serta kemampuan masyarakat mengelola peluang ekonomi sama pentingnya.
Pulau Penyengat bukan sekadar tempat untuk mengenang kejayaan para sultan. Pulau ini juga menjadi ruang hidup bagi masyarakat yang terus menjaga warisan leluhur di tengah perubahan zaman.
Jika sejarah dirawat, tradisi terus dihidupkan, dan pembangunan benar-benar memberi manfaat kepada warga, Pulau Penyengat berpeluang tumbuh menjadi destinasi unggulan Kepulauan Riau yang tidak hanya dikunjungi untuk berwisata, tetapi juga untuk memahami akar peradaban Melayu.
Sebab, bagi para pelancong serumpun yang datang dari seberang selat, perjalanan ke Pulau Penyengat bukan sekadar perjalanan menuju sebuah pulau. Ada sejarah keluarga, identitas, dan kerinduan terhadap tanah leluhur yang ingin mereka temukan kembali. (dr)

Comments