BATAM – Rencana liburan ke Singapura dan Malaysia kini menghadapi tantangan baru. Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia tidak hanya memengaruhi kualitas udara, tetapi juga mulai mengganggu aktivitas wisata luar ruangan di kedua negara tetangga tersebut.

Sejumlah operator wisata di Singapura melaporkan penurunan pemesanan ketika kualitas udara memburuk. Bahkan, bisnis penyewaan kapal pesiar di perairan terbuka mengalami penurunan hingga 30 persen sejak September 2026.

Baca juga: Turis Protes Lantai Berkarpet di Bandara Changi, Warganet Singapura Langsung Bereaksi

Kondisi ini menjadi perhatian bagi wisatawan, termasuk pelancong dari Batam dan Kepulauan Riau (Kepri) yang menjadikan Singapura dan Malaysia sebagai destinasi perjalanan lintas negara.

Selain mempertimbangkan biaya perjalanan dan jadwal transportasi, wisatawan kini perlu memperhatikan kondisi kualitas udara sebelum memilih aktivitas wisata, terutama kegiatan yang mengharuskan mereka berada di luar ruangan dalam waktu lama.

Baca juga: 7 Hotel Paling Unik di Indonesia, Nomor 4 dan 6 Ada di Kepulauan Riau!

Pemesanan Wisata Outdoor Singapura Turun hingga 30 Persen

Dampak kabut asap mulai dirasakan sejumlah pelaku industri pariwisata Singapura. Wisatawan dilaporkan menunda atau membatalkan aktivitas luar ruangan saat kualitas udara memburuk.

Salah satu operator yang terdampak adalah On A Roll Tour, penyedia tur menggunakan kick scooter dan tur jalan kaki. Pendiri perusahaan tersebut, Yeo Yen Ping, mengatakan pemesanan kedua jenis tur mengalami penurunan sekitar 10–20 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Informasi yang dikutip dari VN Express dan Channel News Asia pada Jumat (16/10/2026) itu juga menyebutkan bahwa kabut asap bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi jumlah pelanggan. Kenaikan harga hotel dan tiket pesawat turut diduga menekan permintaan wisata.

Tur kick scooter yang ditawarkan On A Roll Tour biasanya menempuh jarak sekitar 8–10 kilometer. Ketika kondisi udara memburuk, perusahaan menyesuaikan pilihan perjalanan agar pelanggan tidak terlalu lama terpapar udara luar.

Tur Wisata Dialihkan ke Museum dan Tempat Berpendingin Udara

Untuk mempertahankan pengalaman wisata pelanggan, operator tur mulai menyesuaikan rute perjalanan dengan memasukkan lebih banyak destinasi dalam ruangan.

Sejumlah lokasi yang menjadi alternatif antara lain National Gallery Singapore, Victoria Theatre and Concert Hall, museum, serta Singapore City Gallery.

Strategi tersebut memungkinkan wisatawan tetap menikmati perjalanan sambil mengurangi durasi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara sedang tidak sehat.

Bagi wisatawan dari Batam yang berencana menghabiskan waktu seharian di Singapura, destinasi dalam ruangan dapat menjadi alternatif apabila kondisi udara kurang mendukung.

Bisnis Kapal Pesiar Singapura Turun 30 Persen

Dampak yang lebih besar dirasakan Wonderlust Adventures, perusahaan penyewaan kapal pesiar yang beroperasi di perairan terbuka.

Direktur Wonderlust Adventures, Quek Wee Teck, mengatakan bisnis perusahaan turun sekitar 30 persen sejak September 2026.

Wisatawan mancanegara menyumbang lebih dari separuh pelanggan perusahaan tersebut. Pasarnya mencakup wisatawan dari China, India, Eropa, Australia, dan Amerika Serikat.

Berbeda dengan tur jalan kaki yang dapat dialihkan ke museum atau tempat tertutup, aktivitas kapal pesiar lebih sulit disesuaikan karena sebagian besar perjalanan berlangsung di ruang terbuka.

Setiap penyewaan kapal juga memiliki durasi minimal sekitar empat jam, sehingga pelanggan harus mempertimbangkan kondisi udara selama perjalanan.

Penurunan pelanggan dari China turut menjadi perhatian. Biasanya, perusahaan menerima banyak wisatawan China selama periode libur Hari Nasional China yang dimulai pada 1 Oktober. Namun, jumlah pelanggan dari negara tersebut tahun ini disebut mengalami penurunan cukup tajam.

Meski begitu, tidak semua operator wisata merasakan dampak yang sama. Singapore River Cruise, misalnya, sejauh ini belum melaporkan perubahan bisnis yang signifikan. Salah satu faktor yang mungkin berpengaruh adalah durasi perjalanan yang relatif singkat, sekitar 40 menit.

Kualitas Udara Singapura Memburuk Akibat Kabut Asap

Kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan di Indonesia mulai memengaruhi kualitas udara Singapura sejak awal September 2026.

Pada 4 September, indeks standar polutan atau Pollutant Standards Index (PSI) selama 24 jam di wilayah pusat Singapura mencapai angka 101, yang masuk kategori tidak sehat.

Situasi kembali memburuk pada Oktober. Menurut laporan Reuters pada 14 Oktober 2026, konsentrasi PM2.5 selama satu jam di wilayah barat Singapura mencapai 284 mikrogram per meter kubik.

Angka tersebut dilaporkan sebagai pembacaan tertinggi di Singapura sepanjang 2026 dan dikategorikan sangat tinggi oleh Badan Lingkungan Nasional Singapura atau National Environment Agency (NEA).

PM2.5 merupakan partikel polusi berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Paparan polutan ini menjadi perhatian khusus ketika masyarakat melakukan aktivitas fisik di luar ruangan.

Asap dari kebakaran di Sumatra bagian selatan dan Kalimantan dilaporkan terbawa angin tenggara menuju Singapura. Kondisi tersebut turut memengaruhi kualitas udara di sejumlah wilayah.

Malaysia Ikut Menyesuaikan Aktivitas Wisata

Dampak kabut asap lintas batas juga mulai dirasakan industri pariwisata Malaysia. Sejumlah operator wisata menyesuaikan kegiatan, terutama aktivitas luar ruangan yang membutuhkan tenaga cukup besar atau berlangsung dalam waktu lama.

Presiden Malaysian Inbound Tourism Association, Mint Leong, mengatakan operator wisata mempersingkat durasi kegiatan outdoor dan mengalihkan wisatawan ke aktivitas dalam ruangan.

Pusat perbelanjaan dan museum menjadi pilihan alternatif untuk menjaga kenyamanan wisatawan ketika kualitas udara memburuk.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa kabut asap bukan hanya persoalan lingkungan dan kesehatan, tetapi juga berpotensi memengaruhi pengalaman wisata serta kegiatan bisnis yang bergantung pada kunjungan pelancong.

Tips Wisatawan Batam Sebelum Berangkat ke Singapura dan Malaysia

Bagi masyarakat Batam yang hendak bepergian ke Singapura atau Malaysia, kondisi kabut asap menjadi salah satu faktor yang sebaiknya diperhatikan sebelum menyusun agenda perjalanan.

Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan:

1. Periksa kualitas udara terbaru. Pantau informasi resmi NEA untuk Singapura dan otoritas lingkungan Malaysia sebelum menentukan aktivitas wisata.
2. Siapkan alternatif wisata dalam ruangan. Museum, galeri seni, pusat perbelanjaan, dan atraksi indoor dapat menjadi pilihan ketika kualitas udara memburuk.
3. Pertimbangkan kembali aktivitas outdoor. Tur jalan kaki jarak jauh, bersepeda, dan perjalanan kapal di perairan terbuka perlu disesuaikan dengan kondisi udara serta anjuran kesehatan setempat.
4. Pantau informasi transportasi. Periksa pemberitahuan operator feri dan maskapai jika kondisi cuaca atau jarak pandang berpotensi memengaruhi perjalanan.
5. Utamakan kesehatan. Anak-anak, lansia, dan orang yang memiliki gangguan pernapasan perlu lebih berhati-hati saat kualitas udara tidak sehat. (dr)

Sumber: detik