BATAM – Traveling kini bukan hanya soal berburu tempat wisata populer dan berfoto di destinasi ikonik. Ada tren baru yang semakin diminati wisatawan, terutama generasi muda, yakni snackpacking. Aktivitas ini mengajak pelancong menjadikan berburu jajanan dan camilan lokal sebagai bagian penting dari perjalanan.

Saat berlibur ke sebuah kota atau negara, sebagian wisatawan mungkin langsung mencari landmark terkenal, museum, pantai, atau pusat perbelanjaan. Namun, bagi pencinta kuliner, ada pengalaman lain yang tak kalah seru: menjelajahi destinasi lewat jajanan lokalnya.

Baca juga: Mau ke Penang Hill? Hindari Tanggal Ini, Kereta Bukit Bendera Akan Ditutup

Tren tersebut dikenal dengan istilah snackpacking, yaitu kebiasaan memasukkan aktivitas berburu, mencicipi, hingga membawa pulang camilan khas daerah sebagai bagian dari agenda traveling.

Mulai dari pasar tradisional, toko kelontong, toko roti, hingga deretan street food, jajanan lokal kini bukan lagi sekadar pengganjal perut. Bagi banyak wisatawan, camilan justru menjadi cara sederhana untuk mengenal kehidupan sehari-hari dan karakter sebuah daerah.

Baca juga: Wisata Anti Mainstream Saat ke Luar Negeri, Jelajahi Supermarket dan Pasar Lokal

Berdasarkan American Express Global Travel Trends Report 2026 yang dikutip Euronews, sebanyak 89 persen responden dari kalangan Millennials dan Gen Z menganggap penting untuk menikmati camilan lokal ketika bepergian ke luar negeri.

Lantas, mengapa tren snackpacking semakin menarik untuk dicoba?

1. Berburu Jajanan Lokal Kini Jadi Agenda Liburan

Bagi wisatawan pencinta kuliner, mencari jajanan khas bisa menjadi tujuan tersendiri saat mengunjungi sebuah daerah.

Bukan hanya datang untuk melihat tempat baru, wisatawan juga ingin mengetahui makanan apa yang biasa dinikmati oleh masyarakat setempat.

Jajanan pasar, makanan ringan khas daerah, camilan tradisional, hingga produk yang hanya mudah ditemukan di wilayah tertentu bisa menjadi bagian dari pengalaman perjalanan.

Snackpacking juga memberi kesempatan untuk mencoba rasa-rasa baru yang mungkin tidak tersedia di tempat asal.

Karena itu, aktivitas berburu makanan ringan bisa terasa seperti petualangan kecil di tengah perjalanan.

Siapa tahu, camilan yang awalnya dibeli karena penasaran justru menjadi salah satu hal paling berkesan selama liburan.

2. Pasar dan Street Food Jadi Destinasi Baru

Salah satu keseruan snackpacking adalah wisatawan tak harus selalu pergi ke restoran mahal untuk menemukan pengalaman kuliner terbaik.

Berdasarkan laporan tersebut, 50 persen responden memilih warung atau toko kelontong sebagai tempat mencari camilan lokal. Sementara itu, 69 persen memilih jajanan kaki lima atau street food, dan 53 persen lainnya mengunjungi toko roti atau bakery.

Artinya, tempat sederhana justru bisa menjadi bagian menarik dari perjalanan.

Menyusuri pasar, berhenti di warung kecil, atau membeli makanan dari pedagang kaki lima memungkinkan wisatawan melihat sisi lain sebuah destinasi.

Bukan hanya soal rasa, tetapi juga suasana, aroma, cara makanan disajikan, hingga interaksi dengan pedagang lokal.

3. Mencoba Camilan yang Tak Bisa Ditemukan di Rumah

Inilah salah satu alasan utama mengapa snackpacking begitu menarik.

Setiap daerah memiliki karakter kuliner yang berbeda. Bahkan makanan yang terlihat familiar bisa memiliki rasa, bahan, bentuk, hingga cara penyajian yang berbeda ketika ditemukan di kota atau negara lain.

Saat berada di Thailand, misalnya, wisatawan mungkin ingin mencoba mango sticky rice langsung dari tempat asalnya. Ketika berada di Jepang, rak makanan ringan di minimarket bisa menjadi destinasi tersendiri. Begitu pula ketika menjelajahi Indonesia, setiap daerah memiliki jajanan khas yang sulit ditemukan di tempat lain.

Perbedaan-perbedaan kecil inilah yang membuat berburu camilan menjadi pengalaman yang seru.

Tak jarang, makanan yang awalnya dibeli hanya sebagai oleh-oleh justru berubah menjadi kenangan yang paling melekat setelah perjalanan berakhir.

4. Jajanan Lokal Bisa Bikin Traveling Punya Cerita

Bagi generasi muda, perjalanan kini juga tentang mengumpulkan pengalaman dan cerita.

Di media sosial seperti TikTok dan Instagram, banyak wisatawan membagikan pengalaman spontan saat menemukan tempat unik, bertemu orang baru, atau mencoba makanan yang sebelumnya belum pernah mereka kenal.

Berdasarkan survei tersebut, 82 persen Millennials dan Gen Z mengaku bersedia melakukan sesuatu yang tidak biasa ketika bepergian jika pengalaman itu bisa menjadi cerita yang menarik.

Sementara 86 persen lainnya mengatakan pertemuan tak terduga dengan penduduk lokal atau orang baru dapat meninggalkan kesan mendalam.

Di sinilah jajanan lokal memiliki peran tersendiri.

Sebuah camilan sederhana yang dibeli dari pedagang di pinggir jalan bisa membawa wisatawan pada pengalaman yang lebih luas: berbincang dengan penjual, mengetahui cerita di balik makanan, hingga menemukan sudut kota yang sebelumnya tidak ada dalam itinerary.

Snackpacking, Cara Baru Menikmati Sebuah Destinasi

Tren snackpacking membuktikan bahwa perjalanan tidak selalu harus dipenuhi agenda besar.

Kadang, pengalaman paling menarik justru muncul saat berhenti di sebuah pasar kecil, masuk ke toko kelontong, melihat jajanan yang tidak dikenal, lalu memberanikan diri untuk mencobanya.

Berburu camilan lokal juga bisa menjadi cara untuk mengenal sebuah destinasi dengan lebih dekat.

Setiap gigitan bisa menyimpan cerita tentang bahan lokal, tradisi, kebiasaan masyarakat, hingga karakter sebuah daerah.

Jadi, saat merencanakan liburan berikutnya, mungkin ada baiknya tidak hanya membuat daftar tempat wisata.

Tambahkan juga daftar jajanan yang wajib dicoba.

Siapa tahu, destinasi terbaik dalam perjalanan Anda justru bukan tempat yang ramai wisatawan, melainkan sebuah warung kecil dengan camilan lokal yang rasanya akan selalu diingat.

Karena dalam tren snackpacking, perjalanan bukan hanya soal ke mana Anda pergi, tetapi juga apa saja yang Anda cicipi di sepanjang jalan. (dr)

Sumber: detik