“Pulau Pandan jauh ke tengah, Gunung Daik bercabang tiga…”

BATAM – Bagi masyarakat Melayu di Indonesia, Malaysia hingga Singapura, bait pantun ini tentu terdengar sangat familiar. Bahkan di Malaysia, pantun legendaris tersebut diajarkan di sekolah sejak usia dini sebagai bagian dari warisan sastra Melayu.

Namun, pernahkah terpikir bahwa Pulau Pandan dan Gunung Daik bercabang tiga ternyata bukan sekadar rangkaian kata indah untuk pembayang pantun?

Ya, lokasi tersebut benar-benar ada, dan menariknya berada di wilayah Indonesia, tepatnya di Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau. Bagi pencinta wisata budaya dan sejarah Melayu, tempat ini layak masuk daftar destinasi yang wajib dikunjungi.

Baca juga: Jangan Sampai Bingung di Bandara! Ini Arti Boarding, Take Off, dan Landing yang Wajib Kamu Tahu

Pantun Melayu yang Melekat di Ingatan Banyak Orang

Pantun paling terkenal yang menggunakan nama Gunung Daik berbunyi:

Pulau Pandan jauh ke tengah,
Gunung Daik bercabang tiga;
Hancur badan dikandung tanah,
Budi yang baik dikenang juga.

Makna pantun ini sangat mendalam. Ia menggambarkan bahwa manusia memang akan meninggal dunia, tetapi kebaikan dan jasa akan tetap dikenang sepanjang masa.

Tak heran, pantun ini menjadi simbol nilai luhur masyarakat Melayu dan masih terus hidup dari generasi ke generasi.

Baca juga: Rahasia Liburan Hemat ke Thailand! Datang di Bulan Ini, Tiket Pesawat dan Hotel Lebih Murah

Gunung Daik Bercabang Tiga, Ternyata Benar Ada!

Pulau Pandan dan Gunung Daik Bercabang Tiga, Keindahan Kepulauan Riau di Balik Pantun Melayu

Gunung Daik dan Pulau Pandang (ilustrasi)

Banyak orang mengira nama Gunung Daik hanya simbol dalam pantun. Faktanya, gunung ini benar-benar berdiri megah di Pulau Lingga, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau.

Yang membuatnya unik, gunung ini memang memiliki tiga puncak yang terlihat bercabang, sesuai dengan gambaran dalam pantun.

Masyarakat setempat mengenal tiga cabang tersebut sebagai:

Puncak Daik (tertinggi)
Puncak Penjantan
Puncak Cindai Menangis

Dengan ketinggian sekitar 1.165 meter di atas permukaan laut, Gunung Daik menjadi salah satu ikon alam paling terkenal di kawasan Melayu Riau-Lingga.

Dari kejauhan, bentuk tiga puncaknya terlihat menyerupai mahkota, sehingga sebagian pendaki menjulukinya sebagai Puncak Mahkota Nusantara.

Namun jangan salah, menaklukkan Gunung Daik bukan perkara mudah. Jalurnya cukup menantang dan membutuhkan kemampuan rock climbing di beberapa titik ekstrem.

Pulau Pandan yang “Jauh ke Tengah” Ternyata Juga Nyata

Lalu bagaimana dengan Pulau Pandan?

Ternyata pulau kecil ini juga benar-benar ada.

Lokasinya berada di wilayah perairan Kabupaten Lingga, jauh di tengah laut seperti yang digambarkan dalam pantun. Pulau kecil berbatu ini nyaris tak berpenghuni dan hanya ditumbuhi beberapa pohon pandan.

Karena posisinya yang terpencil, Pulau Pandan dulu sering dijadikan tempat berlindung kapal-kapal kecil dari cuaca buruk.

Dari sekitar Pulau Pandan, wisatawan bahkan bisa menyaksikan panorama gugusan pegunungan Pulau Lingga, termasuk siluet Gunung Daik bercabang tiga yang tampak menjulang di kejauhan.

Pemandangan inilah yang diyakini banyak orang menjadi inspirasi lahirnya pantun Melayu yang melegenda tersebut.

Bukti Kuat Jejak Peradaban Melayu Nusantara

Keberadaan Gunung Daik dan Pulau Pandan menjadi bukti bahwa pantun Melayu lahir dari pengamatan nyata masyarakat zaman dahulu, bukan sekadar khayalan sastra.

Pada masa Kesultanan Riau-Lingga, jalur laut menjadi urat nadi perdagangan dan transportasi masyarakat Melayu. Kapal-kapal melintasi kawasan ini setiap hari.

Tak mengherankan jika para pujangga Melayu menciptakan pantun berdasarkan lanskap yang mereka lihat langsung: laut luas, pulau kecil di kejauhan, dan gunung bercabang yang menjadi penanda arah pelayaran.

Benarkah Pantun “Gunung Daik Bercabang Tiga” Populer di Malaysia?

Jawabannya: iya, sangat populer.

Di Malaysia, pantun ini termasuk salah satu pantun klasik yang diajarkan di sekolah-sekolah dalam pelajaran Bahasa Melayu dan sastra tradisional.

Pantun tersebut sering muncul dalam:

buku pelajaran sekolah
lomba berbalas pantun
acara adat Melayu
pertunjukan budaya
pidato resmi hingga acara kenegaraan

Tak sedikit warga Malaysia yang hafal pantun ini sejak kecil.

Contoh Pantun Melayu dengan Frasa “Gunung Daik Bercabang Tiga”

Selain pantun klasik di atas, ada banyak variasi pantun Melayu lain yang menggunakan frasa terkenal ini:

1.

Gunung Daik bercabang tiga,
Nampak sayup dari seberang;
Buatlah baik berpada-pada,
Jangan sampai dibenci orang.

2.

Gunung Daik bercabang tiga,
Tampak indah dari seberang;
Budi yang baik dikenang juga,
Khidmat bakti disanjung orang.

3.

Gunung Daik bercabang tiga,
Patah ranting jatuh ke laman;
Selama kasih tetap terjaga,
Takkan hilang rasa nyaman.

Wisata Budaya Melayu yang Wajib Masuk Bucket List

Jika Anda pencinta sejarah Melayu, budaya Nusantara, atau sekadar pemburu destinasi unik, menjelajahi Kabupaten Lingga bisa menjadi pengalaman berbeda.

Bayangkan berdiri di hadapan Gunung Daik bercabang tiga, lalu menyaksikan langsung lanskap yang selama ratusan tahun hanya dikenal lewat bait pantun.

Ternyata, sastra Melayu bukan sekadar kata-kata indah. Ia adalah rekaman perjalanan sejarah, alam, dan kehidupan masyarakat Nusantara yang masih bisa disaksikan hingga hari ini. Untuk informasi paket tour Gunung Daik dan Pulau Pandan bisa hubungi Travel Batam. (dr)

Sumber: berbagai sumber