BATAM – Paspor sering dianggap sebagai “tiket emas” untuk menjelajahi dunia. Namun di balik kemudahan bepergian itu, ternyata biaya membuat paspor di beberapa negara bisa sangat mahal.

Berdasarkan data terbaru tahun 2026, Australia tercatat sebagai negara dengan biaya paspor paling mahal di dunia. Warga negara Australia harus membayar AUS 422 atau sekitar US$302 (sekitar Rp5 juta) untuk mendapatkan paspor dewasa dengan masa berlaku 10 tahun.

Biaya ini bahkan naik sekitar AUS 10 dibandingkan tahun sebelumnya, menjadikan Australia sebagai pemegang rekor paspor termahal secara global.

Kenaikan tarif tersebut bukan tanpa alasan. Juru bicara Department of Foreign Affairs and Trade Australia menjelaskan bahwa biaya paspor di negara tersebut disesuaikan setiap tahun berdasarkan Indeks Harga Konsumen (CPI).

Selain itu, paspor Australia diklaim memiliki teknologi keamanan yang sangat canggih. Dokumen perjalanan ini dilengkapi berbagai fitur anti-penipuan dan perlindungan identitas tingkat tinggi.

Singapura Tetap Paling Kuat

Menariknya, meski biaya paspornya jauh lebih murah, Singapura tetap mempertahankan gelar sebagai paspor terkuat di dunia.

Menurut Henley Passport Index, paspor Singapura memungkinkan pemegangnya mengunjungi 193 destinasi tanpa visa.

Sementara itu, biaya pembuatan paspor Singapura hanya sekitar US$55 atau sekitar Rp929 ribu untuk orang dewasa.

Daftar Paspor Paling Mahal di Dunia

Berdasarkan analisis situs perbandingan Inggris Compare the Market, berikut beberapa paspor dengan biaya termahal:

  1. Australia – US$302 (sekitar Rp5 juta)
  2. Meksiko – US$255 (sekitar Rp4,3 juta)
  3. Amerika Serikat – US$208 (sekitar Rp3,5 juta)
  4. Selandia Baru – US$153 (sekitar Rp2,6 juta)

Meski menjadi yang termahal, paspor Australia hanya menempati peringkat ketujuh paspor terkuat di dunia, dengan akses bebas visa ke 182 destinasi.

Nilai Paspor Dunia Mulai Menurun

Fenomena menarik juga terjadi dalam dunia perjalanan global. Data Compare the Market menunjukkan bahwa nilai paspor di banyak negara justru mengalami penurunan.

Dari 25 negara yang dianalisis, 17 negara mengalami penurunan jumlah destinasi bebas visa sejak 2025.

Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan paspor di dunia terus berubah, dipengaruhi oleh dinamika geopolitik, kebijakan imigrasi, hingga hubungan diplomatik antarnegara.

Bagi para traveler, kekuatan paspor tetap menjadi faktor penting yang menentukan seberapa mudah seseorang menjelajahi berbagai negara di dunia. (dr)

Sumber: tempo